السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Sunday, 4 June 2017

Materi Penyuluhan : Pencegahan dan Pengendalian Infeksi + Flip chart

  1. Pengertian Infeksi Nosokomial atau HAIs
Health-care Associated Infections (HAIs) adalah penyakit infeksi yang pertama muncul (penyakit infeksi yang tidak berasal dari pasien itu sendiri) dalam waktu antara dua sampai empat hari setelah pasien masuk rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan lainnya yang berasal dari proses penyebaran di sumber pelayanan kesehatan baik melalui pasien, petugas kesehatan, pengunjung, maupun sumber lainnya dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat.


Infeksi yang terjadi dirumah sakit atau dalam sistem pelayanan kesehatan yang berasal dari proses penyebaran disumber pelayanan kesehatan, baik melalui :
  1. Pasien
Pasien merupakan unsur pertama yang dapat menyebarkan infeksi kepada pasien lainnya, petugas kesehatan, pengunjung, atau benda dan alat kesehatan yang lainnya.

  1. Petugas kesehatan
Petugas kesehatan dapat menyebarkan infeksi melalui kontak langsung yang dapat menularkan berbagai kuman ke tempat lain.

  1. Pengunjung
Pengunjung dapat menyebarkan infeksi yang didapat dari luar ke dalam lingkungan rumah sakit, atau sebaliknya yang dapat dari dalam rumah sakit keluar rumah sakit.

  1. Sumber lainnya
Sumber lain  yang dimaksud disini adalah lingkungan rumah sakit yang meliputi lingkungan umum atau kondisi kebersihan rumah sakit atau alat yang ada dirumah sakit yang dibawa oleh pengunjung atau petugas kesehatan kepada pasien dan sebaliknya.

  1. Rantai Penularan Infeksi
Menurut Potter & Perry (2005) proses terjadinya infeksi seperti rantai yang saling terkait antar berbagai faktor yang mempengaruhi, Proses tersebut melibatkan beberapa unsur diantaranya:
  1. Agen infeksi  (infectious agent) adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi.  Pada manusia dapat berupa bakteri, virus, ricketsia, jamur dan parasit.
  2. Reservoir atau tempat dimana agen infeksi dapat hidup, tumbuh, berkembang biak dan siap ditularkan kepada orang. Reservoir yang paling umum adalah manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, tanah, air dan bahan-bahan organik lainnya. Pada manusia: permukaan kulit, selaput lendir saluran nafas atas, usus dan vagina
  3. Port of exit (pintu keluar) adalah jalan darimana agen infeksi meninggalkan reservoir. Pintu keluar meliputi : saluran pernafasan, saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin, kulit dan membran mukosa, transplasenta dan darah serta cairan tubuh lain.
  4. Transmisi (cara penularan) adalah mekanisme bagaimana transport agen infeksi  dari reservoir ke penderita (yang suseptibel). Ada beberapa cara penularan yaitu :
    1. Kontak (contact transmission):
    2. Langsung/direct:   kontak badan ke badan pada saat pemeriksaan fisik, memandikan pasien.
    3. Tidak langsung/indirect: kontak melalui objek (benda/alat) perantara: melalui instrumen, jarum, kasa, tangan yang tidak dicuci.
    4. Droplet: partikel droplet > 5 μm melalui batuk, bersin, bicara, jarak penyebaran pendek, tidak bertahan lama di udara, “deposit” pada mukosa konjungtiva, hidung, mulut contoh: Difteria, Pertussis, Mycoplasma, Haemophillus influenza type b (Hib),  virus Influenza, mumps, rubella.               
    5. Airborne: partikel kecil ukuran <  5 μm, bertahan lama di udara, jarak penyebaran jauh, dapat terinhalasi, contoh: Mycobacterium tuberculosis, virus campak, Varisela (cacar air), spora jamur.
    6. Vehikulum : Bahan yang dapat berperan dalam mempertahankan kehidupan kuman penyebab sampai masuk (tertelan) pada pejamu yang rentan. Contoh: air, darah, serum, plasma, tinja, makanan.
    7. Vektor : Artropoda (umumnya serangga) atau binatang lain yang dapat menularkan kuman penyebab  cara menggigit pejamu yang rentan atau menimbun kuman penyebab pada kulit pejamu atau makanan. Contoh: nyamuk, lalat, pinjal/kutu, binatang pengerat.
  1. Port of entry (Pintu masuk) adalah tempat dimana agen infeksi memasuki pejamu (yang suseptibel). Pintu masuk bisa melalui:  saluran pernafasan, saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin, selaput lendir, serta kulit yang tidak utuh (luka).
  2. Pejamu rentan (suseptibel) adalah  orang yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang cukup untuk melawan agen infeksi serta mencegah infeksi atau penyakit. Faktor yang mempengaruhi: umur, status gizi, status imunisasi, penyakit kronis, luka bakar yang luas, trauma atau pembedahan, pengobatan  imunosupresan. Sedangkan faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah jenis kelamin, ras atau etnis tertentu, status ekonomi, gaya hidup, pekerjaan dan herediter.

  1. Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI)
Proses terjadinya infeksi bergantung kepada interaksi antara suseptibilitas pejamu, agen infeksi (patogenesis, virulesi dan dosis) serta cara penularan. Identifikasi faktor resiko pada penjamu dan pengendalian terhadap infeksi tertentu dapat mengurangi insiden terjadinya infeksi (HAIs), baik pada pasien ataupun pada petugas kesehatan. (Depertemen Kesehatan, 2009).

  1. Elemen yang Berperan Dalan PPI
    1. Petugas kesehatan
    2. Pasien
    3. Keluarga pasien
    4. Pengunjung Rumah Sakit
    5. Setiap orang yang datang ke rumah sakit

  1. Hal Penting tentang PPI yang Harus Diketahui Oleh Pasien dan Keluarga Pasien:
    1. Cuci tangan dengan cara yang benar di saat yang tepat
Tangan merupakan media transmisi patogen tersering di RS. Menjaga kebersihan tangan dengan cuci tangan dengan baik dan benar dapat mencegah penularan mikroorganisme dan menurunkan frekuensi infeksi nosokomial. Teknik yang digunakan adalah teknik cuci tangan 6 langkah. Dapat memakai sabun dan air mengalir atau handrub berbasis alkohol.

Kapan Mencuci Tangan?
  1. Sebelum kontak dengan pasien
  2. Sebelum melakukan tindakan aseptik dan bersih
  3. Setelah terpapar cairan tubuh pasien
  4. Setelah kontak dengan pasien
  5. Setelah terpapar dengan benda-benda disekitar pasien

Alternatif Kebersihan Tangan
Handrub berbasis alkohol 70%:
  1. Pada tempat dimana akses wastafel dan air bersih terbatas
  2. Tidak mahal, mudah didapat dan mudah dijangkau
  3. Dapat dibuat sendiri (gliserin 2 ml  dan 100 ml alkohol 70 %)
  4. Jika tangan terlihat kotor, mencuci tangan  air bersih mengalir dan sabun harus dilakukan
  5. Handrub antiseptik tidak menghilangkan kotoran atau zat organik, sehingga jika tangan kotor harus mencuci tangan  sabun dan air mengalir
  6. Setiap 5 kali aplikasi Handrub harus mencuci tangan  sabun dan air mengalir
  7. Mencuci tangan sabun biasa dan air bersih mengalir sama efektifnya  mencuci tangan  sabun antimikroba
  8. Sabun biasa mengurangi terjadinya iritasi kulit

Enam langkah kebersihan tangan:
Langkah 1    : Gosokkan kedua telapak tangan
Langkah 2    : Gosok punggung tangan kiri dengan telapak tangan kanan, dan lakukan sebaliknya
Langkah 3    : Gosokkan kedua telapak tangan dengan jari-jari tangan saling menyilang
Langkah 4    : Gosok ruas-ruas jari tangan kiri dengan ibu jari tangan kanan dan lakukan sebaliknya
Langkah 5    : Gosok Ibu jari tangan kiri dengan telapak tangan kanan secara memutar, dan lakukan sebaliknya
Langkah 6    : Gosokkan semua ujung-ujung jari tangan kanan di atas telapak tangan kiri, dan lakukan sebaliknya

Untuk mencuci tangan :
  1. Lepaskan perhiasan ditangan dan pergelangan.
  2. Basahi tangan dengan air bersih dan mengalir.
  3. Gosok kedua tangan dengan kuat menggunakan sabun biasa atau yang mengandung anti septik selama 10-15 detik (pastikan sela-sela jari digosok menyeluruh). Tangan yang terlihat kotor harus dicuci lebih lama.
  4. Bilas tangan dengan air bersih dan mengalir.
  5. Biarkan tangan kering dengan cara diangin-anginkan atau dikeringkan dengan kertas tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering.

  1. Menerapkan etika batuk yang benar

  1. Penggunaan masker
Masker harus dikenakan bila diperkirakan ada percikan atau semprotan dari darah atau cairan tubuh ke wajah. Selain itu, masker mencegah penularan kuman patogen melalui mulut dan hidung.

Masker harus cukup besar untuk menutupi hidung, mulut, bagian bawah dagu, dan rambut pada wajah (jenggot). Masker yang dipakai dengan tepat terpasang pas nyaman di atas mulut dan hidung sehingga kuman patogen dan cairan tubuh tidak dapat memasuki atau keluar dari sela-selanya.

Langkah-langkah penggunaan masker:
  1. Ambil bagian atas masker (biasanya sepanjang tepi tersebut ada stip motal yang tipis).
  2. Pegang masker pada 2 tali atau ikatan bagian atas belakang kepala dengan tali melewati atas telinga.
  3. Ikatkan dua tali bagian bawah masker sampai ke bawah dagu.
  4. Dengan lembut jepitkan pita motal bagian atas pada batang hidung.

  1. Membuang sampah pada tempat sampah yang tersedia
Sampah Rumah Sakit atau disebut juga limbah padat Rumah Sakit adalah sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang harus dibuang yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia, dan umumnya bersifat padat (Azwar, 1990).

Limbah padat rumah sakit adalah semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non medis.
  1. Limbah non medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di luar medis seperti botol bekas, plastik bekas, kertas, bungkus makan. Penyimpanannya pada tempat sampah berplastik hitam.
  2. Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari :
  1. limbah infeksius dan limbah patologi, penyimpanannya pada tempat sampah berplastik kuning.
  2. limbah farmasi (obat kadaluarsa), penyimpanannya pada tempat sampah berplastik coklat.
  3. limbah sitotoksis adalah limbah berasal dari sisa obat pelayanan kemoterapi. Penyimpanannya pada tempat sampah berplastik ungu.
  4. Limbah medis padat tajam seperti pecahan gelas, jarum suntik, pipet dan alat medis lainnya. Penyimpanannya pada safety box/container.
  5. Limbah radioaktif adalah limbah berasal dari penggunaan medis ataupun riset di laboratorium yang berkaitan dengan zat-zat radioaktif. Penyimpanannya pada tempat sampah berplastik merah.

  1. Mematuhi aturan Rmah Sakit
  2. Tidak merokok di lingkungan Rumah Sakit
Rokok diketahui menyebabkan kanker paru-paru, penyakit pernapasan. Perokok cenderung memiliki masalah kesehatan lainnya yang terkait dengan risiko jantung, termasuk kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi dan diabetes. Selain itu para peneliti juga menemukan seorang perokok memungkinkan untuk meninggal dalam 6 bulan setelah serangan jantung dibandingkan dengan seseorang yang tidak merokok.

Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan produk tembakau. Fasilitas pelayanan kesehatan termasuk dalam Kawasan Tanpa Rokok.

            Sasaran Kawasan Tanpa Rokok di Rumah Sakit
  1. Pimpinan/penanggung jawab/pengelola fasilitas pelayanan kesehatan.
  2. Pasien.
  3. Pengunjung.
  4. Tenaga medis dan non medis.

  1. Berkunjung sesuai waktu yang ditentukan
Tidak mungkin seseorang yang hanya sakit ringan diharuskan di inapkan di RS. Bila seseorang sampai diharuskan di inapkan di RS berarti orang tersebut menderita suatu penyakit yang cukup serius. Dan seperti anda tahu, hal yang menunjang penyembuhan bukanlah obat semata, istrahat yang cukup juga menunjang penyembuhan. Dengan berkunjung hanya jam besuk, anda memberikan waktu istrahat yang cukup bagi pasien untuk memulihkan kesehatannya.

  1. Lebih baik tidak berkunjung ke Rumah Sakit bila dalam keadaan sakit
  2. Tidak membawa anak <12 tahun untuk berkunjung/ menginap di Rumah Sakit
Anak-anak memiliki kekebalan tubuh yang belum sempurna, sehingga perlindungan tubuh terhadap paparan bakteri, virus dan kuman-kuman lain yang ada dirumah sakit tidak sebaik pada mereka para orang tua yang memiliki imunitas tubuh lebih baik. Itulah sebabnya anak kecil biasanya mudah sakit karena lebih rentan untuk tertular penyakit.

Membawa anak, selain risiko tertular penyakit, kerugian lain yang mungkin didapat adalah timbulnya trauma pada anak sehingga jika suatu saat anak sakit akan sulit/takut di bawa ke dokter atau rumah sakit. Trauma itu timbul karena kesan menyeramkan dan menakutkan kadang-kadang masih terdapat dibeberapa rumah sakit khusunya rumah sakit daerah dengan bangunan-bangunan tua peninggalan belanda. Penyebab ketakutan/trauma lainnya bisa juga akibat anak melihat pasien yang berdarah-darah pada kasus kecelakaan lalu lintas, atau melihat pasien yang sedang merintih kesakitan, hingga mereka yang sedang mengalami sakaratul maut. Bagi anak hal-hal semacam itu dapat selalu terngiang didalam pikiran mereka, sehingga membuat mereka menjadi antipati/ phobia terhadap rumah sakit. Selain menyebabkan dampak kerugian pada anak, membawa anak ke rumah sakit dikhawatirkan akan mengganggu istirahat pasien. Seperti kita tahu anak sering mudah rewel/ menangis, lari ke sana kemari, teriak-teriak sambil bermain. Hal semacam itu kelihatan sepele, namun dapat mempengaruhi kondisi penyembuhan pasien.

  1. Pengunjung tidak boleh makan minum di ruangan pasien
  2. Pengunjung tidak diperbolehkan meludah sembarangan di area Pelayanan Kesehatan
Air liur atau ludah adalah cairan tubuh yang terdapat di mulut. Sebenarnya cairan ini sangat bermanfaat bagi metabolisme tubuh karena membantu mulut tetap lembap dan membantu pencernaan. Selain itu, air liur juga berfungsi untuk membersihkan makanan dari lapisan mulut dan membantu menumbuhkan lapisan gigi yang rusak.

Meski demikian, dalam kondisi tertentu air liur atau ludah juga ternyata bisa menularkan penyakit. Ada beberapa bakteri atau virus penyakit yang betah hidup di air liur misalnya influenza, batuk, tuberculosis (TBC), herpes, hingga hepatitis B. 

Anda perlu berhati-hati jika menemukan orang yang meludah sembarangan. Jangan sampai ludah orang lain mengenai kita atau sebaliknya, karena bisa saja bakteri atau virus penyebab jenis jenis penyakit ada di dalamnya.


DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A, 1990, Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Jakarta, Yayasan. Mutiara. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta
Brooker, C. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC.
Depkes RI. 2010. Pusat Promosi Kesehatan Pedoman Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok: Jakarta: Kemenkes RI
Depkes RI. 2009. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasiltas Pelayanan Kesehatan Lainnya. SK Menkes No 382/Menkes/2007. Jakarta: Kemenkes RI
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses &. Praktek. Edisi 4. Vol 1. Jakarta : EGC
http://web.rshs.or.id/limbah-rumah-sakit/
http://www.kompasiana.com/dr_wahyutriasmara/jangan-ajak-anak-anak-ke-rumah-sakit_5520423aa333112745b65a6b



--- Flip chart ---













0 comments:

Post a Comment

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.