السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Tuesday, 27 December 2016

Syukur dan Ketentraman Hidup

Zaman semakin maju, dan semakin modern. Setiap detik setiap waktu perkembangan zaman terus berjalan tanpa dapat dibendung seperti arus sungai di musim penghujan. Ada sisi positif yang kemudian arus ini bawa untuk memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia, tetapi juga tidak sedikit dampak negatif yang timbul. Zaman semakin berkembang, indikator kesejahteraan seseorang juga semakin tinggi. Dulu orang dikatakan sejahtera bila sudah punya rumah sendiri, bisa makan berkecukupan setiap hari, dapat berkumpul dengan anak dan istri, punya hiburan TV atau radio di rumah, punya sawah dan lahan sebagai sumber penghasilan, punya kendaraan pribadi sekelas motor bebek atau hanya sekedar sepeda gunung. Saya jadi teringat kisah paman saya yang menceritakan orang terkaya di kampung saya dulu adalah satu-satunya orang yang memiliki TV di kampung, dan satu-satunya orang yang rumahnya beralaskan ubin. Tetapi sekarang siapa yang tidak punya TV, hampir semua orang punya benda ini. Rumah-rumah modern sekarang hampir tidak ada yang menggunakan ubin, semua beralih ke keramik, marmer bahkan batu alam granit, besok mungkin rumah-rumah akan beralaskan emas atau permata, entahlah. Kesimpulannya setiap perkembangan zaman akan membawa peningkatan standard kesejahteraan seseorang.

Perkembangan tingkat kesejahteraan ini seringkali membuat orang khawatir, apalagi dengan tingkat penghasilannya yang di bawah rata-rata. Jangankan orang yang berpenghasilan rendah, para elite ekonomi saja khawatir. Tapi kekhawatiran mereka berbeda, ketakutan elite ekonomi bukan takut tidak bisa makan, tapi mungkin takut tidak bisa jalan-jalan keluar negeri, tidak bisa menyekolahkan anaknya di universitas ternama di dunia, tidak bisa menambah aset propertinya, dan ketakutan-ketakutan berkelas lainnya. Atau mungkin hanya takut progresifitas pendapatan tidak sesignifikan hari ini, saya hanya menerka. Tetapi bagaimanapun, ketakutan-ketakutan itu membuat hati dan pikiran diperbudak oleh dunia. Membuat isi pikiran hanya tentang dunia, setiap hari mengejar dunia. Lupa bersyukur, dan mengkufuri segala nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Ketika dunianya diambil oleh Allah, maka yang datang hanya keputusasaan, menyalahkan takdir, bahkan tidak bisa menemukan jalan hidupnya lagi sebagai manusia. Ini semua karena hatinya hampa, kurang syukur, dan dikendalikan nafsu dunia, seolah segala yang dia miliki sekarang adalah hidup dan matinya.

Realitanya sekarang, banyak orang menjadi lupa diri, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang disebut kesejahteraan menurut persepsi masing-masing. Mencuri, merampok, korupsi, cuci uang, penggelapan harta, perdagangan orang dan sederet kejahatan lainnya demi memenuhi kebutuhan hidup, demi memperkaya diri  Ketika dunianya diambil oleh Allah, mereka tidak kuat bangkit, akhirnya gila dan bunuh diri. Kenapa menempuh jalan yang haram padahal Allah memberkahi manusia dengan tangan, kaki, akal pikiran, tenaga, seperangkat panca indera, jantung yang berdetak, darah yang mengalir, saraf-saraf yang saling sinergi dan lain-lain untuk mendukung manusia menjadi insan yang terpuji, makhluk yang terbaik. Kenapa harus berputus asa padahal nikmat dan kasih sayang Allah begitu banyak dan terus mengalir untuk hamba Nya. Hilangnya rasa syukur membuat dunia membutakan manusia sehingga tidak menyadari betapa banyak potensi, berkah, dan nikmat yang Allah anugerahkan.

Andai hati penuh syukur, walau di dompet uang tinggal dua ribu perak juga masih cari-cari alasan buat bersyukur walau hati ketir-ketir hari ini gak bisa makan. “Alhamdulillah tinggal 2000, yang penting badan sehat wal afiat untuk cari rizki”. Andai hati penuh syukur, walau kena PHK juga masih cari-cari alasan untuk bangkit walau listrik dan kontrakan masih nunggak. “Alhamdulillah, kena PHK, padahal kontrakan sama listrik masih nunggak 2 bulan, tidak apa-apa Allah masih ngasih aku mata untuk mencari sumber rizki yang lain” Masya Allah, kalau hati sudah bersyukur seperti ini, hidup jadi tentram. Jadi timbul semangat untuk cari rizki yang halal. Jadi timbul kesabaran menjalani hidup.

Saya jadi teringat salah satu pasien saya di rumah sakit. dia adalah seorang anak kecil, 5-6 tahunan kira-kira. Dia dirawat karena mengalami kebutaan akibat suatu hal. Selama dia dirawat masya Allah, dia tidak pernah murung atau bersedih seperti kebanyakan pasien yang kehilangan penglihatannya. Bahkan setiap hari dia menyanyi lagu anak-anak yang kesukaannya dengan riang. Suaranya yang nyaring dan merdu membuat tetangganya sesama pasien ikut gembira mendengarnya, membuat saya dan tenaga kesehatan lain yang merawatnya juga ikut senang, barangkali semangat anak ini sampai pada hati saya dan mereka. Anak ini tidak bersedih walau tidak bisa melihat lagi, karena baginya yang terpenting adalah dia masih punya ibu dan ayah. Ibu dan ayah yang selalu sayang dan cinta. Mungkin bagi saya pribadi atau mungkin sebagian orang, pasti akan sangat sulit untuk menjalani hidup tanpa penglihatan, bahkan membayangkannya saja sudah sangat sulit. Tidak bisa melihat wajah orang-orang yang kita sayangi, tidak bisa melihat awan, tidak bisa melihat gunung, semuanya hitam pekat, sangat menakutkan. Tapi anak ini seolah mengajarkan bahwa, penglihatan adalah nikmat Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil, nikmat yang tidak untuk dibanggakan dan diperjuangkan mati-matian karena dia hanya titipan. Masih ada nikmat-nikmat lain yang Allah berikan dan harus senantiasa kita syukuri. Anak ini seolah berkata “Alhamdulillah, tidak apa-apa aku tidak bisa melihat, aku bersyukur Allah masih memberiku ayah dan ibu yang selalu mencintaiku”.  Anak kecil yang masih polos dan lugu ini telah menunjukkan sebuah kesabaran dalam menetapi rasa syukur atas segala hal yang Allah berikan kepadanya.

Dari sini semoga saya dan kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran, agar kita senantiasa bersemangat menumbuhkan rasa bersyukur di dalam hati atas segala yang kita peroleh dan apapun yang Allah takdirkan kepada kita. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan kepada hati-hati yang lemah ini agar bisa menjaga hati ini tetap istiqomah untuk bersyukur, kapanpun dan dimanapun dalam menjalani kehidupan ini.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

“Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).


*Rio Cristianto
          




0 comments:

Post a Comment

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.