السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Sunday, 4 December 2016

Miliariasis

Definisi
Miliariasis atau biang keringat adalah kelainan kulit yang timbul akibat keringat berlebihan disertai sumbatan saluran kelenjar keringat, yaitu di dahi, leher, bagian-bagian badan yang tertutup pakaian (dada dan punggung), serta tempat yang mengalami tekanan atau gesekan pakaian dan dapat juga dikepala. Keadaan ini biasanya di dahului oleh produksi keringat yang berlebihan, dapat diikuti rasa gatal seperti ditusuk, kulit menjadi kemerahan dan disertai banyak gelembung kecil berair. (Arjatmo Tjoktronegoro dan Hendra Utama, 2000).

Miliaria atau biang keringat adalah kelainan kulit yang sering muncul pada bayi dan balita akibat tersumbatnya kelenjer keringat, sehinga keringat yang keluar berkumpul di bawah kulit dan mengakibatkan timbulnya bintik-bintik merah (Desiana, 2009)

Milliariasis adalah dermatosis yang disebabkan oleh retens keringat akibat tersumbatnya pori kelenjar keringat. (Vivian, 2010)

Miliariasis adalah kelainan kulit akibat retensi keringat, di tandai adanya vesikel milier, berukuran 1-2 mm pada bagian badan yang banyak berkeringat. Pada keadaan yang lebih berat, dapat timbul papul merah atau papul putih. (Sudoyo, 2009).

Etiologi
Menurut Vivian (2010), penyebab terjadinya miliariasis ini adalah udara yang panas dan lembab.

Beberapa  faktor  yang  menyebabkan miliaria  antara  lain  adalah:  Terbatasnya pengetahuan  mengenai  kurang  tepatnya perawatan  kulit  bayi.  Dengan  informasi  yang kurang  tentang  perawatan  kulit  pada  bayi, dapat  menyebabkan  ibu  salah  dalam  merawat kulit (Eva, 2011)

Udara  yang  panas  dan  lembab,  dalam cuaca  panas  tubuh  bayi  lebih  sering berkeringat  sehingga  pada  saat  cuaca  panas lebih  baik  bayi  diberikan  pakaian  sedikit mungkin  dan  pilihlah  bahan  yang  mudah menyerap  keringat  dan  nyaman  digunakan. Sehingga tubuh bayi tetap kering tidak lembab. Setelah menderita sakit panas, tubuh bayi akan mengeluarkan keringat yang berlebih, dan saat bayi  terkena  demam  keringat  keluar  terus menerus  namun  keringat  tidak  bisa  keluar sehingga  terjadi  penyumbatan  pada  kelenjar keringat.  Ventilasi  udara  yang  kurang  baik, ventilasi  yang  kurang  bisa  menyebabkan sirkulasi  udara  yang  tidak  sehat  sehingga terjadi  ganguan  udara  yang  panas  didalam rumah,  dan  bisa  mempengaruhi  suhu  badan bayi  menjadi  panas  serta  mudah  sekali berkeringat.  Jadi  usahakan  didalam  rumah udara  bisa  mengalir  dengan  bebas.(FKUI, 2001),

Menurut Assyari Abdullah (2008), Penyebab biang keringat yaitu :
  1. Ventilasi ruangan kurang baik sehingga udara di dalam ruangan panas atau lembab.
  2. Pakaian bayi terlalu tebal dan ketat, pakaian yang tebal dan ketat menyebabkan suhu tubuh bayi meningkat.
  3. Bayi mengalami panas atau demam.
  4. Bayi terlalu banyak beraktivitas sehingga banyak mengeluarkan keringat.

Faktor penyebab timbulnya keringat berlebihan yaitu :
  1. Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang baik
  2. Pakaian yang terlalu lembab dan ketat
  3. Pakaian banyak memberikan pengaruh pada kulit, misalnya menimbulkan pergeseran, tekanan yang berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan suhu tubuh.
  4. Aktivitas yang berlebihan, misalnya berolahraga
  5. Setelah menderita sakit panas
  6. Penyebab lain berupa penyumbatan pori-pori yang berasal dari kelenjar keringat. Sumbatan ini dapat diakibatkan debu atau radang pada kulit anak. Butiran-butiran keringat yang terperangkap dibawah kulit akan mendesak ke permukaan kulit dan menimbulkan bintik-bintik kecil yang terasa gata.

Klasifikasi
Berdasarkan lokasi tersumbatnya, biang keringat dalam bebera tipe, yaitu:
  1. Miliaria kristalina
Biang keringat yang terjadi pada bayi baru lahir (neonatus) sumbatan terjadi pada permukaan atau lapisan kulit sehingga terlihat gelembung-gelembung kecil berukuran 1-2 mm berisi cairan jernih, namun tidak terdapat kemerahan pada kulit,biang keringat ini yang paling umum yang sering terjadi. Gejalanya, pada kulit tubuh bayi yang sering keringatan akan tampak mengelupas, kering, dan kasat, gejala ini biasanya dipicu oleh panasnya udara. Biang keringat bayi seperti ini ditandai bintik-bintik kecil berisi air dan akan dan akan mudah pecah sendiri karena lokasinya masih teramat dangkal.
  1. Miliaria rubra
Biang keringat ini terjadi pada anak yang biasa tinggal di daerah atau lingkungan panas dan lembab. Terdapat bintik-bintik kecil (1-2 mm) berwarna merah, biasanya disertai keluhan gatal dan perih. Bayi yang mengalami biyang keringat jenis ini akan menjadi rewel karena rasa gatal dan perih,orang tua biasanya akan cemas karena pola tidurnya akan terganggu hingga gelisah atau tidak nyenyak. Ini bisa dijadikan indicator rasa gatal pada bayinya yang belum bisa bicara.tidak bisa menyebabkan panas karena biang keringat bukan penyakit infeksi. Orang tua hanya bisa melihat reaksi tubuh bayinya yang kegatalan. Apabila anda merawat bayi itu sendiri, maka biang keringat akan segera diketahui karena naluri seorang ibu barparan basar.

  1. Miliaria profunda
Pada biang keringat jenis ini terdapat bintik-bintik putih, keras dan berukuran (1-3 mm). Kulit tidak berwarna merah, namun kasus ini jarang terjadi,dan biasanya terjadi di daerah-daerah bersuhu sangat panas.walaupun indonesia termasuk negara tropis, namun biang keringat separti ini jarang terjadi. Mungkin faktor angin sangat mempengaruhi sehingga suhu di indonesia tidak terlalu panas. Lain halnya dengan negara lain yang bersuhu 40 derajat celsius. Biang keringat seperti ini ditandai bintil-bintil pada kulit dan bila diraba akan terasa agak keras. Bintil-bintil ini sekilas mirip jerawat batu.


Manifestasi Klinis
Miliaria rubra ditandai dengan rasa gatal dan eritem dan kadang rasa panas seperti terbakar, lesi terjadi karena beberapa hari terpapar pada lingkungan yang panas tapi lesi baru muncul setelah beberapa bulan terpapar atau dapat muncul setelah beberapa hari pasien berpindah dari lingkungan yang panas tersebut. Lesi berupa papula dengan puncak dan pusatnya berupa vesikula yang dikekelingi oleh lingkaran merah atau eritema yang tidak berbatas tegas yang terjadi karena respon inflamasi . Lesinya extrafolikuler, ini membedakan dengan folikulitis, papulanya steril atau terinfeksi sekunder karena Miliaria yang luas dan kronik. Pada bayi lesi terdapat pada leher, lipat paha dan ketiak sedangkan pada anak-anak atau orang dewasa lesi terdapat pada badan dan tempat-tempat yang terkena gesekan pakaian yaitu bagian tubuh dibawah pakaian atau bagian tubuh yang mudah berkeringat setelah beraktivitas atau kepanasan seperti leher, kulit kepala bagian atas atau badan dan tidak mengenai wajah atau bagian volar kulit.

Rasa gatal dan kadang rasa panas seperti terbakar, biasanya bersamaaan dengan rangsang yang menimbulkan keringat, penderita cepat merasa lelah dan mengalami intoleransi terhadap panas dan dapat terjadi penurunan jumlah keringat atau tidak berkeringat sama sekali pada daerah panas ataupun beraktivitas. Miliaria rubra yang luas dan berat dapat menyebabkan hiperpireksia dan lelah karena panas serta pingsan

Patofisiologi
Terjadinya milliariasis diawali dengan tersumbatnya pori-pori kelenjar keringat, sehingga pengeluaran keringat tertahan. Tertahannya pengeluaran keringat ditandai dengan adanya vesikel miliar di muara kelenjar keringat lalu disusul dengan timbulnya radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar kemudian diabsorpsi oleh stratum korneum.

Milliariasis sering terjadi pada bayi prematur karena proses diferensiasi sel epidermal dan apendiks yang belum sempurna. Kasus milliariasis terjadi pada 40-50% bayi baru lahir. Muncul pada usia 2-3 bulan pertama dan akan menghilang dengan sendirinya pada 3-4 minggu kemudian. Terkadang kasus ini menetap untuk beberapa lama dan dapat menyebar ke daerah sekitarnya. (Vivian, 2010)

Faktor utama yang berperan bagi perkembangan miliaria adalah kondisi panas tinggi dan kelembaban yang menyebabkan berkeringat berlebihan. Occlusion kulit karena pakaian, perban, atau lembaran plastik (dalam pengaturan percobaan) selanjutnya dapat berkontribusi untuk pengumpulan keringat pada permukaan kulit dan pengeluaran cairan atau keringat berlebih (overhydration) dari lapisan corneum. Pada orang yang rentan, termasuk bayi, yang relatif belum matang kelenjar ekrinnya, pengeluaran cairan atau keringat (overhydration) dari stratum corneum dianggap cukup untuk menyebabkan penyumbatan sementara dari acrosyringium.

Jika kondisi lembab dan panas bertahan, individu terus memproduksi keringat berlebihan, tetapi dia tidak dapat mengeluarkan keringat ke permukaan kulit karena penyumbatan duktus. Sumbatan ini menyebabkan kebocoran keringat dalam perjalanannya ke permukaan kulit, baik di dalam dermis atau epidermis, dengan anhidrosis relatif.

Ketika titik kebocoran di lapisan corneum atau hanya di bawahnya, seperti dalam Miliaria crystallina, akan ada sedikit peradangan yang menyertai, dan lesi tidak menunjukkan gejala. Sebaliknya, pada Miliaria rubra, kebocoran keringat ke lapisan subcorneal menghasilkan vesikula spongiotic dan sel inflamasi kronis periductal yang menginfiltrasi di papiler dermis dan epidermis bawah. Pada Miliaria profunda, keluarnya keringat ke dermis papiler menghasilkan suatu substansial, menginfiltrasi limfositik periductal dan spongiosis dari duktus intra-epidermis.

Bakteri seperti Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus, diperkirakan memainkan peran dalam patogenesis miliaria. Pasien dengan Miliaria memiliki 3 kali lebih banyak bakteri per satuan luas kulit dibandingkan subyek kontrol sehat. Agen antimikroba efektif dalam menekan Miliaria akibat eksperimental. Periodic Acid-Schiff positif bahan tahan diastase telah ditemukan di sumbatan intraductal yang konsisten dengan substansi polisakarida ekstraselular stafilokokal (EPS). Dalam pengaturan percobaan, hanya Staphylococcus epidermidis yang menghasilkan EPS yang dapat menginduksi miliaria.

Pada akhir tahap Miliaria, hyperkeratosis dan parakeratosis dari acrosyringium (bagian paling atas dari saluran/duktus kelenjar keringat) dapat diamati. Sebuah sumbatan hyperkeratotic mungkin muncul untuk menghalangi saluran ekrin, tetapi sekarang ini diyakini menjadi perubahan akhir dan bukan penyebab yang mempercepat terjadinya penyumbatan keringat.

Penatalaksaan
Umum
  1. Kunci pengobatan Miliaria adalah menempatkan penderita didalam lingkungan yang dingin, sehingga keringat bisa berkurang.
  2. Karena aktifitas yang berlebihan bisa menyebabkan keringat yang dapat menimbulkan kembali Miliaria, maka pasien dianjurkan untuk mengurangi aktivitasnya.
  3. Memakai pakaian yang menyerap keringat.

Khusus
  1. Topikal
Lanolin anhidros diberikan untuk mencegah atau menghilangkan sumbatan sehingga keringat dapat keluar kepermukaan kulit. Selain itu juga diberikan salep hidrofilik, talk untuk bayi dan losio yang berisi 1 % mentol dan gliserin dan 4% asam salisilat dalam alkohol 95 %. Pemberian colamin lotion dapat memberikan rasa sejuk juga dapat diberikan anti biotic topikal seperti krim kloramfenikol 2 %.

  1. Sistemik
Dapat diberikan antibiotik bila terjadi infeksi sekunder dan anti histamin sebagai anti pruritus, pemberian vitamin C dosis tinggi dapat diberikan untuk mencegah atau mengurangi timbulnya Miliaria

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2014) bila bayi sudah mengalami biang keringat, lakukan langkah-langkah ini:
  1. Setiap kali anak berkeringat, segera ganti bajunya. Sebelumnya, siapkanlah alat-alat yang dibutuhkan, seperti waslap, baskom berisi air hangat, baju yang bersih, dan perlak.
  2. Keringkan kulit yang ada biang keringatnya dengan waslap bersih yang telah dibasahi air hangat. Bisa juga dengan mandikan Si kecil menggunakan air hangat (usahakan agar jangan terlalu panas karena akan merangsang timbulnya keringat).
  3. Biarkan tubuh Si kecil tanpa baju untuk beberapa saat sampai kulit dan lipatan-lipatan kulitnya menjadi kering dengan sendirinya. Tujuannya, mencegah agar kulit yang terkena biang keringat tidak bertambah parah karena bergesekan dengan handuk pada waktu dikeringkan.
  4. Boleh diusapkan sedikit bedak, terutama di bagian punggung dan dada anak.
  5. Kenakan baju yang kering dan bersih. Baju tersebut sebaiknya terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat, seperti bahan katun dan bahan kaos sehingga nyaman dan tidak membuat anak mudah merasa kepanasan.
  6. Bila peradangan yang terjadi cukup banyak, Anda bisa mengoleskan salep atau bedak khusus sesuai anjuran dokter.

Komplikasi
Komplikasi yang tersering dari Miliaria adalah infeksi sekunder dan intoleransi terhadap suhu lingkungan yang panas. Infeksi sekunder dapat terjadi berupa impetigo atau multiple diskret abses yang dikenal sebagai periporitis staphylogenes. Intoleransi terhadap suhu lingkungan yang panas terjadi ditandai dengan tidak keluarnya keringat bila terpapar suhu panas, lemah, fatique, pusing bahkan pingsan.

Pencegahan
Penyakit  miliaria  dapat  dicegah  dan disembuhkan,  oleh  karena  itu  Konseling Informasi  Edukasi  (KIE)  yang  cukup  harus  di berikan  pada  ibu-ibu  yang  memiliki  anak  atau bayi  yang  menderita  miliaria  melalui  kegiatan posyandu,  agar  tidak  menyepelekan  penyakit ini (Dewi, 2010). 

Keadaan  kulit  merupakan  cermin kesehatan  tubuh  seseorang.  Untuk  menjaga kesehatan kulit ini, diperlukan perawatan rutin sejak  usia  dini.  Telah  dibuktikan  bahwa sentuhan  ibu  akan  sangat  berpengaruh  pada perkembangan  fisik  dan  mental  seorang  anak. Sebenarnya  pengobatan  khusus  tidak diperlukan  pada  bayi  yang  terkena  biang keringat,  cukup  dengan  pencegahan  dan perawatan  kulit  yang  benar.  Bila  biang keringat berupa gelembung kecil tidak disertai kemerahan  ,  kering  dan  tanpa  keluhan  dapat diberi bedak setelah mandi. Bila kelainan kulit membasah  tidak  boleh  ditaburi  bedak,  karena akan  membentuk  gumpalan  yang memperparah  sumbatan  kelenjar  sehingga menjadi    tempat  pertumbuhan  kuman.  Bila keluhan  sangat  gatal  dapat  diatasi  dengan pemberian antibiotik (Paulette, 2007)

Perawatan  kulit  bayi  dan  balita dimulai  dari  kegiatan  sehari-hari.  Misalnya dengan  memandikan  secara  teratur, membersihkan  rambut  dan  mengganti  baju apabila  baju  anak  tersebut  basah.  Dari penanganan  diatas  kita  ambil  contoh  mandi misalkan  diwajibkan  dua  kali  sehari,  pagi  dan sore,  kemudiann  mengeringkan  badan  anak dengan handuk sendiri sampai lipatan kulit dan berikan  bedak  dengan  sapuan  tipis  (Wong, 2008).  Apabila  bayi  sering  berkeringat, sesering  mungkin  dibasuh  dengan menggunakan  handuk  (lap)  basah,  kemudian dikeringkan  dengan  handuk  atau  kain  yang lembut.  Setelah  itu  dapat  diberikan  bedak tabor.

Menurut Maharani, Desiana (2009),cara pencegahan Biang Keringat terbagi atas 5 bagian, antara lain:
  1. Bayi atau anak tetap dianjurkan mandi secara teratur paling sedikit 2 kali sehari menggunakan air dingin dan sabun.
  2. Bila berkeringat, sesering mungkin dibasuh dengan menggunakan handuk (lap) basah, kemudian dikeringkan dengan handuk atau kain yang lembut. Setelah itu dapat diberikan bedak tabur.
  3. Jangan sekali-kali memberikan bedak tanpa membasuh keringat terlebih dahulu, karena akan memperparah penyumbatan sehingga mempermudah terjadinya infeksi baik oleh jamur maupun bakteri.
  4. Hindari penggunaan pakaian tebal, bahan nilon, atau wol yang tidak menyerap
  5. Biang keringat bisa tidak dialami bayi asalkan orang tua rajin menghindari penghalang penguapan keringat yang menutup pori-pori bayi dengan cara:.
    1. Jaga tubuh bayi agar tetap kering.
    2. Bayi harus dimandikan secara teratur pada pagi dan sore hari
    3. Jika bayi berkeringat jangan keringkan dengan menggunakan bedak. Sebaiknya dengan waslap basah, lalu dikeringkan, dan diolesi dengan bedak tipis.
    4. Gunakan pakaian bayi dari bahan katun yang menyerap keringat bayi.
    5. Biasanya 70% biang keringat timbul pada bayi karena sirkulasi udara kamar yang tidak baik. Untuk itu usahakan udara di dalam kamar bayi mengalir dengan baik sehingga kamar selalu sejuk.
    6. Pada saat memandikan bayi yang menderita biang keringat, sebaiknya gunakan sabun bayi yang cair, sebab sabun cair tidak meninggalkan partikel. Jika menggunakan sabun padat bisa meninggalkan partikel yang dapat menghambat penyembuhan.
    7. Pengobatan
      Sebenarnya pengobatan khusus tidak diperlukan, cukup pencegahan dan perawatan kulit yang benar. Bila biang keringat berupa gelembung kecil tidak disertai kemerahan, kering dan tanpa keluhan dapat diberi bedak setelah mandi. Bila kelainan kulit membasah tidak boleh ditaburkan bedak, karena akan terbentuk gumpalan yang memperparah sumbatan kelenjar sehingga menjadi tempat pertumbuhan kuman. Bila keluhan sangat gatal, luka dan lecet dapat diatasi dengan pemberian antibiotik (Karel, 2008).

Pemeriksaan Diagnosis
  1. Anamnesis
    Dari anamnesis dapat ditemukan keluhan yang bersifat subjektif, biasanya penderita mengeluh gatal dan kadang rasa panas seperti terbakar

  1. Pemeriksaan Klinis
Pada pemeriksaan klinis dapat ditemukan lesi berupa papula dengan puncak dan pusatnya berupa vesikel yang dikelilingi oleh eritem.

  1. Pemeriksaan Histopatologis
Pada pemeriksaan histopatologi tampak infiltrat limfosit verivaskuler dan vasodilatasi di permukaan dermis.


WOC


Sumber :
Sudarti, dan Fauziah, Afroh. (2012). Asuahan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Balita. Yogyakarta: Nuha Medika.
Sudarti. (2012). Kelainan dan Penyakit Pada Bayi dan Anak. Yogyakarta: Nuha Medika.
FKUI. (2001). Perawatan Kulit Pada Bayi Dan Balita,. Jakarta: FKUI
Djuanda, A. (2000). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ketiga. Jakarta: FKUI
Harahap, M. (2000). Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates
Siregar, RS. (1996). Atlas Berwarna Saripati penyakit Kulit. Jakarta: EGC





0 comments:

Post a Comment

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.