السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Saturday, 12 November 2016

Katarak

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Katarak
Katarak merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000). Definisi lain katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu (Iwan, 2009).
               

   Gambar 1. Mata Normal dan Mata Katarak

Klasifikasi Katarak
Klasifikasi katarak, yakni sebagai berikut.
  1. Katarak kongenital
Katarak congenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia 1 tahun. Katarak ini dapat terjadi karena kesalahan metabolism bawaan, infeksi rubella ibu pada trisemester pertama, anomali kongenital, dan penyebab genetik yang biasanya dominan autosomal.

  1. Katarak juvenil
Katarak yang terjadi pada anak muda, usia 1-40 tahun. Katarak juvenile biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik atau metabolik dan penyakit lainnya. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital. Prevalensi pada negara berkembang sekitar 2-4 tiap 10.000 kelahiran hidup. Gejalanya berupa pandangan kabur, silau, halo dan penurunan tajam, bayangan ganda dapat juga awal dari katarak. Selain itu kadang dapat ditemukan gejala awal seperti silau dan diplopia monocular.

  1. Katarak presenil
Katarak yang terjadi pada usia 40-50 tahun.

  1. Katarak senil
Katarak yang terjadi setelah usia 50tahun akibat adanya perubahan kimia protein lensa pada pasien lansia, terdapat 4 stadium dalam katarak senil.

Tabel 2.1 Stadium pada katarak senil (Sumber: Mansjoer, Triyanti dkk, 1999)


InsipienImaturMaturHipermatur





Kekeruhan
RinganSebagianSeluruhMasif





Cairan Lensa
NormalBertambahNormalBerkurang





Iris
NormalTerdorongNormalTremulans





Bilik mata depan
NormalDangkalNormalDalam





Sudut bilik mata
NormalSempitNormalTerbuka





Shadow test
(-)(+)(-)+/-





Visus
(+)<< <<< 





Penyulit
(-)Glaukoma(-)Uveitis+glaucoma







Katarak berdasarkan lokasi terjadinya adalah:
  1. Katarak inti (nuclear)
Katarak yang paling banyak terjadi, lokasinya terletak pada nucleus atau bagian tengah dari lensa. Biasanya karena proses penuaan.

  1. Katarak kortikal
Katarak yang biasanya terjadi pada korteks. Mulai dari kekeruhan putih dari tepi lensa dan berjalan ke tengah sehingga mengganggu penglihatan. Banyak terjadi pada penderita DM.

  1. Katarak subkapsular
Mulai dengan kekeruhan kecil di bawah kapsul lensa. Tepat pada layar jalan sinar masuk. DM, renitis pigmentosa, dan pemakaian kotikosteroid dalam jangka waktu yang panjang dapat mencetuskan kelainan ini. Biasanya dapat terlihat pada kedua mata.

Etiologi Katarak
Pada bayi, etiologi pembentukan katarak yang mungkin adalah:
  1. Infeksi
  2. Kelaianan perkembangan
  3. Herediter
  4. Cedera mata traumatik
  5. Ketidakseimbangan kimiawi misalnya galaktosemia dan diabetes.

Pada orang dewasa, semua hal di atas dapat menimbulkan katarak, ditambah dengan:
  1. Terpajan sinar ultraviolet berkepanjangan
  2. Beberapa obat (misal obat-obatan yang digunakan untuk glaukoma)
  3. Bagian dari proses penuaan normal.

Patofisiologi Katarak
Pada penderita, lensa berisi 65% air, 35% protein dan mineral penting. Katarak adalah kondisi penurunan ambilan oksigen, penurunan air, peningkatan kandungan kalsium dan berubahnya protein yang dapat larut. Pada proses penuaan, lensa secara bertahap akan kehilangan air dan mengalami peningkatan dalam ukuran dan densitasnya. Peningkatan densitas disebabkan oleh kompresi sentral serat lensa yang lebih tua. Disaat serat lensa yang baru diproduksi pada korteks, serat lensa ditekan menuju sentral. Serat-serat lensa yang padat, lama-lama menyebabkan hilangnya transparansi lensa yang tidak terasa nyeri dan sering bilateral.
Selain itu, penyebab-penyebab katarak tersebut menyebabkan gangguan metabolism pada lensa mata. Dimana gangguan metabolism ini menyebabkan perubahan kandungan bahan-bahan yang ada di dalam lensa yang pada akhirnya memyebabkan kekeruhan pada lensa. Kekeruhan tersebut dapat berkembang di berbagai bagaian lensa maupun kapsulnya. Pada gangguan ini, sinar yang masuk melalui kornea dihalangi oleh lensa yang mengalami kekeruhan atau buram. Kondisi ini mengaburkan bayangan semu yang sampai pada retina. Sehingga berakibat otak menginterpretasikan sebagai pengelihatan bayangan yang berkabut. Pada kagtarak yang tidak dilakukan tindakan, lensa mata akan menjadi berwarna seperti putih susu, lalu berubah kuning, bahkan menjadi berwarna cokelat atau hitam dank penderita akan mengalami kesulitan dalam membedakan warna.

WOC
Terlampir

Manifestasi Klinis Katarak
Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:
  1. Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.
  2. Menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari

Gejala objektif biasanya meliputi:
  1. Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup.
  2. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.
  3. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.

Gejala umum gangguan katarak meliputi:
  1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
  2. Gangguan penglihatan bisa berupa
    1. Peka terhadap sinar atau cahaya.
    2. Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
    3. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
    4. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
  1. Kesulitan melihat pada malam hari.
  2. Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata.
  3. Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari ).

Gejala lainya adalah :
  1. Sering berganti kaca mata.
  2. Penglihatan sering pada salah satu mata. Kadang katarak menyebabkan pembengkakan lensa dan peningkatan tekanan di dalam mata ( glukoma ) yang bisa menimbulkan rasa nyeri.

Pemeriksaan Diagnostik
  1. Pemeriksaan visus dengan kartu snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta menggunakan pinhole.



Gambar 2. Kartu Snellen dan Chart
  1. Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen posterior




Gambar 3. Slit Lamp
  1. Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan tonometer non contact, aplanasi atau Schiotz

Gambar 4. Tonometer Schizotz

Jika TIO dalam batas normal (< 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata Tropicanamide 0.5%. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat serajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan visus pasien.

  1. Derajat 1 : nukleus lunak, biasanya visus masih lebih baik dari 6/12, tampak sedikit kekeruhan dengan warna agak keputihan. Refluks fundus masih mudah diperoleh. Usia penderitanya biasanya kurang dari 50 tahun.
  2. Derajat 2 : Nukleus dengan kekerasan ringan, biasanya visus antara 6/12 – 6/30, tampak nucleus mulai sedikit berawarna kekuningan. Refleks fundus masih mudah diperoleh dan paling sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior.
  3. Derajat 3 : nukleus dengan kekerasan medium, biasanya visus antara 6/30 – 3/60, tampak nukleus berwarna kuning disertai kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan
  4. Derajat 4: nukleus keras, biasanya visus antara 3/60 – 1/60, tampak nukleus berwarna kuning kecoklatan. Reflex fundus sulit dinilai
  5. Derajat 5 ; nukleus sangat keras, biasanya visus hanya 1/60 atau lebih jelek. Usia penderita sudah di atas 65 tahun. Tampak nucleus berawarna kecoklatan bahkan sampai kehitaman, katarak ini sangat keras dan disebut juga sebagaiBrunescence cataract atau black cataract.
    1. Pemeriksaan funduskopi jika masih memungkinkan
    2. Pemeriksaan penunjang : USG untuk menyingkirkan adanya kelainan lain pada mata selain katarak
    3. Pemeriksaan menggunakan oftalmoskop, mengkaji struktur internal okuler, mencatat atropi lepeng optik, papiledema, pendarahan retina,dan mikroaneurisme. Dilatasi dan pemeriksaan belahan-lampu memastikan diagnosa katarak.
    4. Pemeriksaan dengan retinometri: mengetahui prognosis tajam penglihatan setelah operasi.
    5. Pemeriksaan biometri untuk mengukur kekuatan IOL pada saat akan dioperasi katarak.

Tatalaksana Katarak
  1. Umum
Sebelum dilakukan pembedahan, kacamata dan lensa kontak dapat membantu memperbaiki penglihatan. Kacamata hitam saat cahaya terang dan lampu terang dapat memberi cahaya reflektif bukan cahaya langsung yang mengurangi silau dan membantu penglihatan.

  1. Pengobatan
Pemberian obat anti-inflamasi nonsteroid, seperti ketorolac  dan bromfenak.

  1. Pembedahan
    1. Pembedahan ekstraksi lensa dan implantasi lensa intraokuler
    2. Ekstrasi katarak ekstrakapsular (ECCE)
Standar ECCE atau planned ECCE dilakukan dengan mengeluarkan lensa secara manual setelah membuka kapsul lensa. Tentu saja dibutuhkan sayatan yang lebar sehingga penyembuhan lebih lama.

  1. Ekstrasi katarak intrakapsular (ICCE)
Ekstrasi katarak intrakapsular yaitu dengan mengangkat semua lensa termasuk kapsulnya.

  1. Fakoemulsifikasi
Fekoemulsifikasi (Phaco Emulsification). Bentuk ECCE yang terbaru dimana menggunakan getaran ultrasonic untuk menghancurkan nucleus sehingga material nucleus dan kortek dapat diaspirasi melalui insisi ± 3 mm. Operasi katarak ini dijalankan dengan cukup dengan bius lokal atau menggunakan tetes mata anti nyeri pada kornea (selaput bening mata), dan bahkan tanpa menjalani rawat inap. Sayatan sangat minimal, sekitar 2,7 mm. Lensa mata yang keruh dihancurkan (Emulsifikasi) kemudian disedot (fakum) dan diganti dengan lensa buatan yang telah diukur kekuatan lensanya dan ditanam secara permanen. Teknik bedah katarak dengan sayatan kecil ini hanya memerlukan waktu 10 menit disertai waktu pemulihan yang lebih cepat.

Cara menghambat terjadinya katarak
  1. Cara utama adalah mengontrol penyakit yang berhubungan dengan katarak dan menghindari factor-faktor yang mempercepat terbentuknya katarak.
  2. Menggunakan kacamata hitam ketika berada di luar ruangan pada siang hari biasanya bisa mengurangi jumlah sinar ultraviolet yang masuk ke dalam mata.
  3. Berhenti merokok.

Prognosis
Dengan tehnik bedah yang mutakhir, komplikasi atau penyulit menjadi sangat jarang. Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%. Pada bedah katarak resiko ini kecil dan jarang terjadi. Keberhasilan tanpa komplikasi pada pembedahan dengan ECCE atau fakoemulsifikasi menjanjikan prognosis dalam penglihatan dapat meningkat hingga 2 garis pada pemeriksaan dengan menggunakan snellen chart.

Asuhan Keperawatan Teori
  1. Pengkajian
  1. Anamnesa
    1. Identitas
Nama, usia, jenis kelamin, agama, suku, bangsa, pekerjaan, nomor rekam medik, diagnosa masuk, tanggal MRS.
Katarak dapat terjadi pada semua usia, tetapi pada umumnya terjadi pada usioa lanjut, pekerja laboratorium, atau berhubungan dengan bahan kimia atau terpapar radio aktif atau sinar X memiliki rsiko lebih tinggi terhadap katarak.

  1. Keluhan utama: penurunan ketajaman pengelihatan, mata seperti berkabut
  2. Riwayat penyakit sekarang
  3. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riweayat penyakit sistemik yang dimiliki oleh klien; diabetes mellitus

  1. Riwayat kesehatan keluarga
Adanya riwayat DM atau katarak pada keluarga klien

  1. Riwayat penggunaan obat-obatan
Beberapa jenis obat dapat menimbbulkan katarak; kortikosteroid

  1. Pemeriksaan fisik
  1. Ispeksi
Bagian-bagian mata yang perlu diamati adalah dengan melihat lensa mata menggunakan penlight (penyinaran miring 45˚ dari poros mata). Pemeriksaan ini dapat dinilai dari kekeruhan lensa dengan mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang keruh (iris shadow) bila letak bayangan jauh dan besar berarti kataak imatur, sebliknya bila bayangan dekat dan kecil berarti katarak matur.
  1. Pemeriksaan visus dengan kartu snellen
  2. Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior
  3. Pemeriksaan dengan USG untuk menegakkan adanya kelainan lain pada mata
  4. Tes glukosa darah: kontrol DM

  1. Diagnosa keperawatan
Pre operasi         
  1. Resiko injuri (00035) berhubungan dengan penurunan ketajaman pengelihatan
  2. Anxietas (00146) berhubungan dengan pembedahan yang akan dialami
  3. Kurang pengetahuan (00126) berhubungan dengan kuangnya informasi
Post operasi
  1. Nyeri akut (00132) berhubungan dengan diskontinuitas jaringan
  2. Resiko infeksi (00004) berhubungan dengan diskontinuitas jaringan
  1. Intervensi Keperawatan
Pre-Operasi
NO DX
RENCANA PERAWATAN
NOC
NIC
00035
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam klien dapat terhindar dari risiko cidera.

Fall Prevention Behavior (1909)
  1. Meminta asistensi (5)
  2. Modifikasi lingkungan : lantai, pencahayaan dan tata letak barang (5)
  3. Menggunakan alas kaki yang pas (5)
  4. VOD 6/60 & VOS 5/5 (5)
  5. TTV normal(5)

Fall Prevention (6490):
  1. Review riwayat jatuh klien
R/ sebagai acuan intervensi keperawatan selanjutnya
  1. Obsevasi karakteristik lingkungan
R/ Karakteristik lingkungan seperti lantai licin dan kurangnya penerangan meningkakan potensi resiko jatuh pada klien
  1. Atur tata letak barang ditempat yang mudah dijangkau klien
R/ meningkatkan kemanan klien
  1. Instruksikan klien untuk meminta dampingan keluarga/ perawat saat kekamar mandi dan lain-lain
R/ meningkatkan kemanan klien
  1. Sediakan pencahayaan yang adekuat
R/ meningkatkan jarang penglihatan klien
  1. Pastikan klien menggunakan alas kaki yang pas
R/ menurunkan resikon jatuh pada klien
  1. Observasi TTV
R/ mengetahui perkembangan kesehatan
  1. Kolaborasi tindakan pembedahan: OD disisi aspirasi + IOL
R/ mempertahankan atau meningkatkan ketajaman penglihatan
00146
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam kecemasan orang tua klien terkontrol/ berkurang.

Anxiety Self Control (1402)
  1. Orang tua klien mampu mengungkapkan perasaannya (5)
  2. Orang tua klien mengerti tentang pembedahan yang akan dilakukan pada anaknya (5)
  3. Menggunakan teknik relaksasi untuk mengontrol kecemasan (5)
  4. Postur tubuh dan bahasa tubuh menunjukkan berkurangnya kecemasan (5)
  5. TTV orang tua klien normal (5)
Anxiety Reduction (5820):
  1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
R/ BHSP dengan orang tua klien
  1. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap klien dan orang tua
R/ Klien dan orang tua mengerti harapan perawat sehingga dapat kooperatif
  1. Dorong orang tua klien mengungkapkan perasaannya
R/ mengetahui dengan jelas apa yang dirasakan orang tua klien
  1. Dengarkan dengan penuh perhatian
R/ orang tua klien merasa diperhatikan
  1. Jelaskan mengenai pembedahan yang akan dilakukan: pengertian, tujuan, persiapan, komplikasi yang mungkin terjadi, tanggal dan tempat pembedahan
R/ orang tua paham dengan prosedur pembedahan sehingga dapat mengurangi kecemasan
  1. Instruksikan orang tua klien untuk menggunakan teknik relaksasi seperti nafas dalam
R/ nafas dalam dapat mengurangi kecemasan
  1. Observasi TTV orang tua klien
R/ mengetahui perkembangan kesehatan orang tua klien

Post-Operasi
NO DX
RENCANA PERAWATAN
NOC
NIC
00132
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam klien dapat mengontrol nyeri.

Pain Control (1605):
  1. Mengenal kualitas, lokasi, skala dan durasi nyeri (5)
  2. Mengenal penyebab nyeri (5)
  3. Skala nyeri berkurang (5)
  4. Tindakan non farmaka: nafas dalam mendengarkan musik (5)
  5. Tindakan farmaka: analgesik (5)
Pain Management (1400):
  1. Observasi nyeri secara menyeluruh meliputi kualitas, lokasi, skala, durasi dan faktor penyebab nyeri
R/ mengetahui perkembangan klien tentang nyerinya
  1. Anjurkan klien untuk mengistirahatkan mata dengan memejamkan mata/tidur
R/ untuk mengurangi nyeri
  1. Mengajarkan teknik non farmaka seperti nafas dalam dan  mendengarkan musik
R/ klien tidak fokus pada nyerinya dan dapat mengurangi nyeri
  1. Kolaborasi pemberian analgesik
R/ untuk mengurangi nyeri
00146
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 klien dapat terhindar dari risiko infeksi.

Risk Control: Infection Procces (1924):
  1. Perawatan mata secara aseptik (5)
  2. Mengtahui tanda dan gejala infeksi (5)
  3. Tindakan mengurangi infeksi: cuci tangan (5)
  4. Moniror lingkungan (5)
  5. TTV normal (5)

Infection Control (6540):
  1. Lakukan perawatan mata secara aseptik dan mengganti bebat mata
R/ mencegah infeksi
  1. Observasi tanda dan gejala infeksi
R/ monitoring kondisi klien untuk pencegahan infeksi
  1. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh klien
R/ pencegahan transmisi bakteri ke klien
  1. Ajarkan cara cuci tangan yang benar
R/ perawatan kesehatan personal untuk mencegah infeksi
  1. Batasi pengunjung bila perlu
R/ pnecegahan tranmisi bakteri
  1. Pertahankan lingkungan yang bersih di sekitar klien
R/ lingkungan bersij mencegah tumbuh kembang bakteri
  1. Observasi TTV
R/ mengetahui tanda dan gejala infeksi
  1. Kolaborasi pemberian antibiotik
R/ untuk menekan atau menghentikan perkembangan bakteri


DAFTAR PUSTAKA

Builecheck, Gloria M, Butcher, Howard K & Dochterman, Joanne M. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC) Sixth Edition, Eizeiver Sauders.
Corwin, Elizabeth. 2008. Buku Patofisiologi Edisi 3 Revisi. Jakarta: EGC.
Herdman, T. Heather &Kamitsuru, Shigemi. 2004. NANDA Intervention Nursung Diagnoses: Definitions & Classification, 2015-2017. Oxford: Wiley Black Well.
Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Ilyas, Sidarta. 2009. Ihtisar Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Ilyas, Sidarta. 2009. Dasar-Dasar Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Moortuad, Sue, Johson, Marion, Maos, Meridean L & Swanson, Elizabeth. 2013. Nursing Outcome Classification (NOC) Fifth Edition. Elsevier Sauders.




0 comments:

Post a Comment

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.