السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Friday, 1 July 2016

Askep Asfiksia

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
 
2.1 Definisi
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin, 2009). Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan (Mochtar, 2008), sehingga dapat meurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. (Manuaba, 2008).
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin, 2009).   

2.2 Etiologi
Penyebab asfiksia menurut Towell (1966) dan Manoe dan Amir (2003) pada bayi disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

  1. Faktor ibu
  1. Infeksi (korioamnionitis)
Infeksi korioamnionitis merupakan infeksi selaput ketuban biasanya disebabkan oleh penyebaran organisme. Faktor predisposisi terpenting adalah pecahnya selaput ketuban lebih dari 24 jam dan persalinan lama (Benzion 1994 dalam Izati 2008).

  1. Preeklamsia/eklamsia
Pre eklamsia dapat berkembang menjadi eklamsia. Salah satu gejalanya adalah adanya kejang pada ibu hamil yang mengalami pre eklamsia. Kejang dapat terjadi sebelum persalinan maupun pada saat persalinan atau sesudah persalinan. Jika kejang terjadi pada saat persalinan, maka frekuensi dan intensitas kontraksi meningkat dan dapat menyebabkan durasi persalinan menjadi pendek. Sebagai akibatnya ibu mengalami kejang dapat mengalami maternal hypoxemia yang dapat berakibat janin mengalami bradycardia. Sebuah studi di swedia menunjukan pre eklamsia berkontribusi terhadap 10,7% kejadian asfiksia (ladfaros 2002 dalam Izati 2008).
  1. Penyakit kronik ibu (hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit paru dan diabetes melitus).
  2. Hipoksia pada ibu: hal ini berakibat pada hipoksia janin. Hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anestesia lain (Kattwinkel 2006).
  3. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau melebihi 35 tahun
Umur ibu ketika melahirkan merupakan salah satu factor resiko terhadap berbagai komplikasi yang menyertai ibu ketika hamil dan selama proses persalinan. Pada berbagai penelitian diketahui bahwa umur ibu berhubungan dengan morbiditas dan kematian membentuk huruf U, yang menunjukan bahwa risiko meningkat pada ibu dengan umur muda (<20 tahun) dan pada ibu dengan umur lebih tua, yaitu >35 tahun (Bakketeig 1984 dalam Izati 2008).

  1. Gravida keempat atau lebih
Hubungan gravida dengan morbiditas dan kematian adalah bahwa pada multigravida kontraksi uterus tidak adekuat tidak sama dengan primigravida, sehingga memiliki risiko lebih tinggi untuk janin mengalami distress dibandingan dengan primigravida (Saifudin 2001)

  1. Faktor janin
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan tergangguanya aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Hal ini dapat ditemukan pada keadaan tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher dan lain-lain (Kattwinkel 2006).
  1. Prematuritas (sebelum 37 minggu kehamilan)
Tahun 1935 Akademi Pediatrik Amerika mendefinisikan prematuritas adalah kelahiran hidup bayi dengan berat < 2500 gram. Kriteria ini dipakai terus secara luas, sampai tampak bahwa ada perbedaan antara usia hamil dan berat lahir yang disebabkan adanya hambatan pertumbuhan janin. WHO 1961 menambahkan bahwa usiahamil sebagai kriteria untuk bayi prematur adalah yang lahir sebelum 37 minggu dengan berat lahir dibawah 2500 gram. Bayi lahir kurang bulan mempunyai organ dan alat-alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup diluar rahim. Makin muda umur kehamilan, fungsi organ tubuh bayi makin kurang sempurna, prognosis juga semakin buruk. Karena masih belum berfungsinya organ-organ tubuh secara sempurna seperti sistem pernafasan maka terjadilah asfiksia.

  1. Berat Bayi Lahir (BBL)
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram. Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, bayi berat lahir rendah dibedakan dalam:
  1. Bayi dengan berat badan lahir rendah, berat lahir 1500-2500 gram
  2. Bayi dengan berat badan lahir sangat rendah, berat lahir 1000-1500 gram
  3. Bayi dengan berat badan lahir ekstra rendah, berat lahir <1000 gram
Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah Premature Baby dengan Low Birth Weight Baby (bayi dengan berat badan lahir rendah), dan kemudian WHO merubah ketentuan tersebut pada tahun 1977 yang semula kriteria BBLR adalah ≤ 2500 gram menjadi hanya < 2500 gram tanpa melihat usia kehamilan

  1. Kelainan bawaan (kongenital), misalnya hernia diafragmatika, atresia/ stenosis pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain
  2. Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
  3. Bayi KMK (kecil masa kehamilan)
  4. Gawat janin
  5. Bayi kembar
  6. Kelainan kehamilan
  7. Inkompatibilitas golongan darah
  8. Depresi susunan saraf pusat
  9. Partus lama
Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi, dan lebih dari 18 jam pada multi. Sedangkan partus macet adalah merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga timbul komplikasi pada ibu dan atau janin, seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu, serta asfiksia dan Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Ketuban pecah lama merupakan jarak waktu antara pecahnya ketuban dan lahirnya bayi lebih dari 12 jam yang mempunyai peranan penting terhadap timbulnya plasentitis dan amnionitis. Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadiasfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.

  1. Partus dengan tindakan

  1. Fraktor plasenta
Plasenta merupakan akar janin untuk menghisap nutrisi dari ibu dalm bentuk O2, asam amino, vitamin, mineral dan zat lain dan membuang sisa metabolisme janin dan O2. Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas kondisi plasenta. Gangguan pertukaran gas di plasenta yang akan menyebabkan asfiksia janin. Fungsi plasenta akan berkurang sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan O2 dan menutrisi metabolisme janin. Asfiksia janin terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta.Kemampuan untuk transportasi O2 dan membuang CO2 tidak cukup sehingga metabolisme janin berubah menjadi anaerob dan akhirnya asidosis dan PH darah turun. Dapat terjadi pada bentuk:
  1. Lilitan tali pusat
  2. Tali pusat pendek
  3. Simpul tali pusat
  4. Prolapsus tali pusat


2.3 Manifestasi Klinis
Pada asfiksia tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaraya (Rukiyah & Yulianti, 2007) :
  1. Fungsi jantung terganggu akibat peningkatan beban kerja jantung
  2. Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah mengalami gangguan.
Gejala klinis :
Bayi yang mengalami kekurangan O2 akan terjadi pernafasan yang cepat dalam periode yang singkat apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan berhenti, denyut jantung juga mulai menurun, sedangkan tonus neuromuscular berkurang secara berangsur-agsur berkurang dari bayi memasuki periode apneu primer.

Gejala dan tanda pada asfiksia neunatorum yang khas antara lain meliputi pernafasan cepat, pernafasan cuping hidung, sianosis, nadi cepat
Gejala lanjut pada asfiksia :
  1. Pernafasan megap-megap yang dalam.
  2. Denyut jantung terus menurun.
  3. Tekanan darah mulai menurun.
  4. Bayi terlihat lemas (flaccid).
  5. Menurunnya tekanan O2  (PaO2).
  6. Meningginya tekanan CO2 (PaO2).
  7. Terjadinya perubahan sistem kardiovaskuler.

2.4 Patofisiologi
Asfiksia dapat terjadi pada periode antepartum, intrapartum maupun postpartum. Birth asphyxia atau asfiksia yang terjadi pada saat persalinan dapat disebabkan oleh adanya hipoksia pada janin pada periode antepartum. Asfiksia dapat juga terjadi tanpa didahului oleh adanya hipoksia pada janin, hal ini disebabkan oleh karena proses persalinan yang menyebabkan bayi mengalami kekurangan oksigen atau tidak dapat bernafas. Pada saat persalinan, asfiksia dinilai dari ada atau tidaknya gejala abnormalitas janin pada saat monitoring, bradikardia, late decelarations, loss of variability, meconium staining dan fetal acidosis. Penyebab dari gejala tersebut adalah karena adanya penurunan aliran darah dari plasenta kepada janin dan stres pada janin (Freeman & Nelson 1988). Asfiksia juga dapat terjadi pada periode setelah persalinan (postpartum) yaitu setelah bayi lahir, tanpa didahului oleh adanya gejala atau tanda asfiksia pada saat periode antepartum maupun intrapartum. Pada saat setelah persalinan di ruang bersalin, bayi yang lahir dapat mengalami asfiksia yang dinilai dari Apgar Score pada menit pertama, kelima, sepuluh dan 15 menit pertama kehidupan serta ada tidaknya asidosis. Asfiksia postpartum mungkin disebabkan oleh maladaptasi saat lahir atau kegagalan sistem pernafasan, jantung dan saraf pada neonatus akibat kelainan konginetal, penyakit pada janin atau cedera kelahiran (Gadoth & Gobel 2011).

Mekanisme terjadinya hipoksia pada beberapa kondisi patologis adalah sebagai berikut (Lewis & Berg dalam Beyond the Number 2004):
  1. Kontraksi uterus yang kuat akan memperburuk hipoksia akibat kompresi vaskuler tubuh bayi
  2. Partus lama atau macet akan disertai dengan kontraksi yang lebih lama daripada periode relaksasi
  3. Tekanan pada tali pusat dapat menyebabkan penyempitan arteri umbilikalis sehingga menimbulkan pengurangan aliran darah dari dan ke janin
  4. Spasme vaskuler secara sistemik vaskuler pada hipertensi atau pre eklamsia menyebabkan pengurangan pasokan oksigen pada bayi.
Stres pada janin atau bayi baru lahir karena kurang tersedianya oksigen dan atau kurangnya aliran darah (perfusi) ke berbagai organ, secara klinis tampak bahwa bayi tidak dapat bernafas spontan dan teratur segera setelah lahir. Dampak dari keadaan asfiksia tersebut adalah hipoksia, hiperkarbia dan asidemia yang selanjutnya akan meningkatkan pemakaian sumber energi dan mengganggu sirkulais bayi. Redistribusi sirkulasi yang ditemukan pada bayi hipoksia dan iskemia akut menyebabkan disfungsi berbagai organ tubuh pada bayi asfiksia (Manoe dan Amir 2003).

Menurut Radityo (2011), kegagalan pernafasan mengakibatkan gangguan pertukaran oksigen dan karbondioksida sehingga menimbulkan kurangnya oksigen dan meningkatnya karbondioksida diikuti dengan asidosis respiratorik. Apabila proses berlanjut maka metabolisme sel akan berlangsung dalam suasana anaerobik yang berupa glikolisis glikogen sehingga sumber utama glikogen terutama pada jantung dan hati akan berkurang dan asam organik yang terjadi akan menyebabkan asidosis metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskular yang disebabkan beberapa keadaan di antaranya:
  1. Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung
  2. Terjadinya asidosis metabolik mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehingga menimbulkan kelemahan
  3. Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat menyebabkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru, sehingga sirkulasi darah ke paru dan sistem sirkulasi tubuh lain terganggu.
Sehubungan dengan proses faali tersebut maka fase awal asfiksia ditandai dengan pernafasan cepat dan dalam selama 3 menit diikuti dengan apneu primer kira-kira 1 menit di mana pada saat ini denyut jantung dan tekanan darah menurun. Kemudian bayi akan mulai bernafas (gasping) 8-10x/menit selama beberapa menit (Radityo 2011).

2.5 Web of Caucation
      (terlampir)

2.6 Pemeriksaan Diagnostik
Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari hipoksia janin. Diagnosis hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu (Septia, 2010):

  1. Denyut jantung janin
Frekuensi normal ialah antara 120 dan 160 denyutan/menit, selama his frekuensi ini bisa turun, tetapi di luar his kembali lagi kepada keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai di bawah 100 kali permenit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya. Di beberapa klinik elektrokardigraf janin digunakan untuk terus-menerus menghadapi keadaan denyut jantung dalam persalinan.

  1. Mekonium dalam air ketuban
Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi dan harus diwaspadai. Adanya mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.

  1. Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh (sampel) darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya gawat janin mungkin disertai asfiksia.

Beberapa pemeriksaan diagnostik yang dilakukan untuk mendiagnosis adanya asfiksia pada bayi (pemeriksaan diagnostik) yaitu:
  1. Analisa gas darah
  2. Elektrolit darah
  3. Gula darah
  4. Berat bayi
  5. USG ( Kepala )
  6. Penilaian APGAR score
Merupakan pemeriksaan paling awal & penting untuk bayi yang baru lahir. Pemeriksaan ini terdiri atas 5 komponen untuk menggolongkan pemulihan status neurologi neonatus dari proses kelahirannya & kemampuan adaptasinya yang segera terhadap kehidupan ekstra uteri.

Penilaian
0
1
2
Appearance (warna kulit)
Seluruh tubuh bayi berwarna kebiru-biruan atau pucat
Warna kulit tubuh normal, tetapi tangan dan kaki berwarna kebiruan
Warna kulit seluruh tubuh normal
Pulse (denyut jantung)
Tidak ada denyut jantung
Denyut jantung kurang dari 100 kali per menit
Denyut jantung lebih atau di atas 100 kali per menit
Grimace (respon refleks)
Tidak ada respon terhadap stimulasi
Wajah meringis saat distimulasi
Meringis, menarik, batuk, atau bersin saat distimulasi
Activity (tonus otot)
Lemah, tidak ada gerakan
Lengan dan kaki dalam keadaan fleksi dengan sedikit gerakan
Bergerak aktif dan spontan
Respiration (pernapasan)
Tidak bernapas
Menangis lemah, seperti merintih, pernapasan lambat dan tidak teratur
Menangis kuat, pernapasan baik dan teratur
Tabel 1. Skor Apgar

Skor Apgar dalam 1 menit, jika angkanya:
  1. 0-4: menunjukkan bahwa bayi mengalami depresi berat & memerlukan resusistasi segera
  2. 5-7: bayi mengalami depresi saraf
  3. 8-10: normal
 
Skor Apgar dalam 5 menit, jika angkanya:
  1. 0-7: berisiko tinggi untuk terjadinya disfungsi selanjutnya pada system saraf pusat dan organ lain
  2. 8-10: normal
 
  7. Pemeriksaan EGC dab CT- Scan


2.7 Penatalaksanaan
Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi  (Hidayat, 2009):
  1. Memastikan saluran nafas terbuka:
  1. Meletakan bayi dalam posisi yang benar
  2. Menghisap mulut kemudian hidung kalau perlu trachea
  3. Bila perlu masukan ET untuk memastikan pernapasan terbuka
  1. Memulai pernapasan:
  1. Lakukan rangsangan taktil. Beri rangsangan taktil dengan menyentil atau menepuk telapak kaki.Lakukan penggosokan punggung bayi secara cepat, mengusap atau mengelus tubuh, tungkai dan kepala bayi.
  2. Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif
  1. Mempertahankan sirkulasi darah
Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan.

Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus :
  1. Tindakan umum
  1. Pengawasan suhu
  2. Pembersihan jalan nafas
  3. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan
  1. Tindakan khusus
  1. Asfiksia berat
Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan, langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan, cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis, koreksi dengan bikarbonat natrium 2-4 mEq/kgBB, diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 2-4ml/kgBB. Kedua obat ini disuntikan kedalam intra vena perlahan melalui vena umbilikalis, reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali, bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung, maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks, jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali, mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi.

  1. Asfiksia ringan dan sedang
Stimulasi agar timbul reflek pernapsan dapat dicoba, bila dalam waktu 30-60 detik tidak timbul pernapasan spontan, ventilasi aktif harus segera dilakukan, ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasal dengan aliran 1-2 lt/mnt, bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. Kemudian dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit, sambil diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan, usahakan mengikuti gerakan tersebut, ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit, sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan, ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. Pada ventilasi dari mulut ke mulut, sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2, ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan berberapa saat terjadi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot, intubasi endotrakheal harus segera dilakukan, bikarbonat natrium dan glukosa dapat segera diberikan, apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur, meskipun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat.

Gambar 2.1 Algoritma resusitasi cairan neonatal

2.8 Prognosis
Pada pasca penatalaksanaan resusitasi bayi baru lahir, kemungkinan menjadi faktor resiko untuk terjadinya sepsis neonatorum pada bayi. Gejala klinis pada saluran napas seperti terjadinya apnu, dispnu, takipnu, retraksi, napas cuping hidung, merintih, dan sianosis (Mansjoer, 2005).

Hasil akhir asfiksia bergantung pada apakah komplikasi metabolik dan kardiopulmonalnya (hipoksia, hipoglikemia, syok) dapat diobati, pada umur kehamilan (hasil akhir paling jelek jika bayi preterm), dan pada tingkat keparahan ensefalopati hipoksik-iskemik. Ensefalopati berat (stadium 3), ditandai dengan koma flasid, apnea, refleks okulosefalik tidak ada, kejang refrakter, dan pengurangan penipisan korteks yang nyata pada CT scan, dihubungkan dengan prognosis yang jelek. Skor Apgar rendah pada menit ke – 20, tidak ada respirasi spontan pada usia 20 menit, dan menetapnya tanda–tanda kelainan neurologis pada usia 2 minggu juga meramalkan kematian atau adanya defisit kognitif dan motorik berat.

Kematian otak pasca–ensefalopati hipoksik–iskemik neonatus didiagnosis dengan penemuan–penemuan klinis, yaitu koma yang tidak responsif terhadap rangsangan nyeri, pendengaran atau penglihatan, apnea dengan kenaikan PCO2dari 40 sampai lebih dari 60 mmHg,  dan refleks batang otak tidak ada (pupil, okulosefalik, okulovestibular, kornea, menyumbat, menghisap). Keadaan ini harus terjadi bila tidak ada hipotermia, hipotensi, dan kenaikan kadar obat – obatan depresan (misalnya, fenobarbital). Tidak adanya aliran darah serebral pada scan radionuklid dan aktivitas listrik pada EEG (elektroserebral tenang) diamati secara tidak tetap pada neonatus yang mengalami kematian otak secara klinis. Menetapnya kriteria klinis selama 2 hari pada bayi cukup bulan dan 3 hari pada bayi preterm meramalkan kematian otak pada kebanyakan bayi baru lahir yang mengalami asfiksia (Nelson, 2005).

 2.9 Asuhan Keperawatan Umum
Pengkajian Primer
Airway         : Bayi tidak menangis atau tidak ada usaha untuk bernafas  pada asfiksia berat (Boxwell 2000), kadang-kadang terasa hembusan nafas pada asfiksia ringan
Breathing      : Apnea pada asfiksia berat (Saifudin 2001)
Circulation    : HR <100x/menit (Boxwell 2000), HR>100x/menit pada asfiksia ringan
Disability      : Tonus otot lemah (Saifudin 2001)
Exposure      : Seluruh tubuh berwarna biru, pucat, sianosis (Boxwell, 2000), cairan ketuban ibu bercampur mekonium atau sisa mekonium pada tubuh bayi (Ghai et al 2010), BBLR (berat badan lahir rendah)

APGAR       : Asfiksia berat bernilai 0-3, asfiksia sedang 4-6, asfiksia ringan 7-9, bayi normal bernilai 10 (Ghai et al 2010)

Menurut Henderson& Jones (2001) :
  1. Bayi dengan nilai APGAR sangat rendah tampak pucat, terkulai, tidak ada usaha napas, tidak berespon terhadap suksion oral dan nadi sangat lambat.
  2. Bayi dengan nilai APGAR 4-7 memiliki nadi dibawah 100 kali permenit, pernapasan tidak teratur dan kulit berwarna biru. Terdapat beberapa respon terhadap suksion dan beberapa tonus otot. Bayi ini dapat berespon dengan baik terhadap stimulasi.
  3. Bayi dengan nilai APGAR >7 mempunyai irama jantung normal, bernapas dan berespon terhadap stimulus.
APGAR Score
TANDA
0
1
2
Appearance
Biru, pucat
Badan pucat tungkai biru
Semuanya merah muda
Pulse
Tidak teraba
< 100
>100
Grimace
Tidak ada
Lambat
Menangis kuat
Activity
Lemah/lumpuh
Gerakan sedikit/fleksi tungkai
Aktif/fleksi tungkai baik/reaksi melawan
Respiratory
Tidak ada
Lambat, tidak teratur
Baik, menangis kuat
Tabel 2.2 Penilaian APGAR score

Pengkajian Sekunder
a.   Pemeriksaan fisik
  1. Kulit
warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstremitas berwarna biru, pada bayi preterm terdapat lanugo dan verniks.

  1. Kepala
Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal  haematom, ubun-ubun besar cekung atau cembung.

  1. Mata
Warna konjungtiva anemis/tidak anemis, tidak ada bleeding  konjungtiva, warna sclera tidak kuning, pupil menunjukkan  refleksi terhadap cahaya.

  1. Hidung
Terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir.

  1. Telinga
Perhatikan kebersihan dan adanya kelainan

  1. Mulut
Bibir berwarna pucat atau merah, ada lendir atau tidak.

  1. Leher
Perhatikan kebersihannya karena leher neonatus pendek.

  1. Thorax
Bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara  wheezing dan ronchi, frekuensi bunyi jantung lebih dari   100 x/menit.

  1. Abdomen
Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah arcus costae      pada garis papilla mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti   adanya asites/tumor, perut cekung adanya hernia diafragma,  bising usus timbul 1-2 jam setelah masa kelahiran bayi, sering   terdapat retensi karena GI Tract belum sempurna.

  1. Umbilikus
Tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan/tidak, adanya tanda- tanda infeksi pada tali pusat.

  1. Genitalia
Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan  letak muara uretra pada neonatus laki-laki, neonatus perempuan  lihat labia mayor dan labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan.

  1. Anus
Perhatikan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar   serta warna dari faeces.

  1. Ekstrimitas
Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya  patah tulang atau adanya kelumpuhan saraf atau keadaan jari-jari  tangan serta jumlahnya.

  1. Reflek         : Tidak ada reflek komplek seperti moro dan hisap (Snyder & Cloherty 1998)
  2. Nyeri         : Bayi yang beresiko tinggi mengalami kerusakan dalam perkembangan syaraf yaitu bayi yang lahir prematur (American Academy of Pediatrics, 2006). Pada bayi nyeri dapat diekspresikan melalui menangis atau isyarat perilaku (Mc Caffrey & Beebe, dikutip dari Wong, 2004).Pada umumnya bayi dapat mengekspresikan rasa nyeri dengan perubahan perilaku seperti perubahan ekspresi wajah, menangis, dan posisi postural tertentu seperti; menggeliat, menyentak, dan menggapai-gapai (American Academy of Pediatrics, 2006). American Academy of Pediatrics menyatakan PIPP, NFCS, CRIES, NIPS sebagai skala nyeri yang bisa digunakan.

Berdasarkan perubahan perubahan perilaku
Kombinasi fisiologis dan perubahan perilaku
  1. Neonatal facial coding system (NFCS)
  2. Liverpool infant distress scale (LIDS)
  3. Infant body coding system (IBCS)
  4. Neonatal assesment of pain inventory
  5. Neonatal infant pain scale (NIPS)
  6. Behavioral pain scale
  7. Pain assestment in neonates (PAIN)
  8. Clinical scoring system
  1. Neonatal postoperative scale (CRIES)
  2. Pain assesment tool (PAT)
  3. Premature infant pain profile (PIPP)
  4. Scale for use in newborn (SUN)
Table 2.3 Alat ukur nyeri pada neonates

Kondisi Ibu
Kondisi Persalinan
Kondisi Bayi
  1. Diabetes Melitus
  2. Preeklamsi, hipertensi, penyakit ginjal kronis
  3. Anemia (Hb <10g/dl)
  4. Gangguan imun pada golongan darah
  5. Plasenta previa, abrusio plasenta, peradarahan saat kehamilan
  6. Narkotika, barbiturat, transquilizer, intoksikasi alkohol
  7. Riwayat abortus
  8. Ruptur membran
  9. Lupus
  10. Penyakit jantung saat kehamilan
  11. Infeksi pada amnion
  12. Arteri umbilikus abnormal
  1. Penggunaan vakum
  2. Letak sungsang
  3. Bentuk pelvis yang kecil : distonia bahu, fase kedua memanjang
  4. Operasi SC
  5. Kompresi tali pusat
  6. Hipotensi, perdarahan
  1. Prematur
  2. Post date
  3. Asidosis
  4. Nadi tidak normal, disritmia
  5. Bercak mekonium dan cairan amnion
  6. Oligohidroamnion
  7. Polihidroamnion
  8. Penurunan proses pertumbuhan : USG
  9. Makrosomia
  10. Sistem surfaktan paru-paru belum matang
  11. Kelainan bentuk janin : sonografi
  12. Kehamilan kembar
Tabel 2.4 Faktor-faktor yang menyebabkan resiko tinggi asfiksia (Rehan & Phibbs 2005)

Pemeriksaan diagnostik
  1. Peningkatan metabolisme atau mixed acidemia (pH <7) yang dinilai dari sampel plasenta jika didapatkan, hasil asidosis pada darah tali pusat jika PaO2<50 mmH2O, PaCO2>55 mmH2O (ACOG dalam Cunningham et al 2005).
  2. Asfiksia pada periode intrapartum (dan pada periode antepartum) dapat dideteksi dengan monitoring denyut jantung janin (fetal heart rate) lewat CTG dan USG serta penilaian dari sampel darah untuk memeriksa tingkat keasaman darah (pH of scalp blood) (Beard 1974 dalam Izati 2008).

Diagnosa Keperawatan
  1. Domain : 4 Activity/Rest
Class : 4 Cardiovascular/Pulmonary respons
Pola napas tidak efektif (00032) berhubungan dengan jumlah CO2 dalam darah meningkat
  1. Domain : 11 Safety/Protection
Class : 6 Thermoregulation
Hipotermia (00006) berhubungan dengan suplai O2 menurun
  1. Domain : 2 Nutrition
Class : 5 Hydration
Defisit volume cairan (00027) berhubungan dengan oliguria
  1. Domain : 2 Nutrition
Class  : 1 Ingestion
Terputusnya ASI (00105) berhubungan dengan rawat pisah ranjang ibu dan bayi

Intervensi Keperawatan
  1. pola napas tidak efektif (00032) berhubungan dengan jumlah CO2 dalam darah meningkat
NOC
NIC
Level 1 : Domain-Physiologic Health (II)
Level 2 : Class-Cardiopulmonary (E)
Level 3 : Respiratory status (0425)
  1. Tingkat pernapasan (rr)
  2. Irama pernapasan
  3. Kedalaman inspirasi
  4. volume tidal
  5. spirometer
  6. kapasitas vital
  7. saturasi oksigen
Ventilation assistance (3390)
  1. Posisi untuk memfasilitasi ventilasi / perfusi cocok sesuai
  2. Membantu dengan perubahan posisi sering, yang sesuai
  3. Posisi untuk meminimalkan upaya pernapasan
  4. Memantau kelelahan otot pernafasan
  5. Memulai dan mempertahankan oksigen tambahan, seperti yang ditentukan
  6. Mengelol aobat sakit tepat untuk mencegah hipoventilasi

  1. Hipotermia (00006) berhubungan dengan suplai O2 menurun
NOC
NIC
Level 1 : Domain-Physiologic Health (II)
Level 2 : Class-Metabolic Regulation (I)
Level 3 : Thermoregulation new born (0801)
  1. beratbadan
  2. thermogenesis non-menggigil
  3. Asam / basa
  4. Ketidakstabilan suhu
  5. hipotermia
  6. Perubahan warna kulit
  7. Dehidrasi

Level 1 : Domain-Health Knowledge & Behavior (IV)
Level 2 : Class-Risk Control & Safety (T)
Level 3 : Risk control: hypothermia (1923)
  1. Mengidentifikasi factor risiko hipotermia
  2. Mengakui factor risiko pribadi untuk hipotermia
  3. Mengidentifikasi kondisi kesehatan yang menurunkan produksi panas
  4. Mengidentifikasi kondisi kesehatan yang mempercepat kehilangan panas
  5. Memonitor lingkungan untuk faktor-faktor yang menurunkan suhu tubuh
  6. Mengidentifikasi hubungan usia dengan suhu tubuh
  7. Memodifikasi lingkungan hidup untuk mempromosikan konservasi panas
Hypothermia induced theraphy (3790)
  1. Pantau tanda-tanda vital, yang sesuai
  2. Memonitor suhu pasien, menggunakan inti perangkat pemantauan suhu terus-menerus, yang sesuai
  3. Memonitor warna dan suhu kulit
  4. Memantau adanya menggigil
  5. Gunakan pemanasan wajah atau tangan atau membungkus isolator untuk mengurangi respon menggigil, yang sesuai
  6. Memberikan obat yang tepat untuk mencegah atau mengendalikan menggigil

Infant care new born (6824)
  1. Lakukan evaluasi Apgar pada 1 dan 5 menit setelah lahir
  2. Memonitor suhu bayi baru lahir
  3. Mempertahankan suhu tubuh bayi baru lahir yang memadai
  4. Memonitor tingkat pernapasan dan pola bernapas
  5. Memantau denyut jantung bayi yang baru lahir
  6. Memonitor warna kulit bayi baru lahir

  1. Defisit volume cairan  (00027) berhubungan dengan oliguria
NOC
NIC
Level 1 : Domain-Physiologic Health (II)
Level 2 : Class-Fluid & Electrolytes (G)
Level 3 : Fluid balance (0601)
  1. Tekanan darah
  2. Denyut nadi radial
  3. Tekanan arteri rata-rata
  4. Tekanan vena sentral
  5. turgor kulit
  6. Membran mukosa lembab

Level 1 : Domain-Physiologic Health (II)
Level 2 : Class-Fluid & Electrolytes (G)
Level 3 : Hidration (0602)
  1. turgor kulit
  2. Membran mukosa lembab
  3. Asupan cairan
  4. Keluaran urin
  5. natrium serum
  6. jaringan perfusi
  7. Fungsi kognitif
Fluid managemen (4120)
  1. Menjaga asupan akurat dan merekam keluaran
  2. Memasukkan kateter urin, jika sesuai
  3. Memonitor status hidrasi
  4. Berkerut berat jenis, peningkatan BUN, penurunan hematokrit, dan peningkatan kadar osmolalitas urin)
  5. Memonitor status hemodinamik, termasuk CVP, MAP, PAP, dan PCWP, jika tersedia
  6. Pantautanda-tanda vital, jika perlu


Fluid monitoring (4130)
  1. Memantau asupan dan output
  2. Memonitor serum dan elektrolit urin nilai, jika perlu
  3. Memonitor albumin serum dan tingkat protein total
  4. Memonitor serum dan urin tingkat osmolalitas
  5. Memantau BP, denyut jantung, dan status pernapasan

  1. Terputusnya ASI (00105) berhubungan dengan rawat pisah ranjang ibu dan bayi
NOC
NIC
Level 1 : Domain-Physiologic Health (II)
Level 2 : Class-Digestion & Nutrition (K)
Level 3 : Bottle Feeding Establishment : Infant (1016)
  1. Reflex menghisap
  2. Kemampuan untuk mengonsumsi ASI dan formula
  3. Makan setiap hari
  4. Penambahan berat badan
Bottle Feeding (1052)
  1. Hangatkan ASI atau susu formula sesuai dengan suhu ruangan
  2. Peluk bayi saat memberikan ASI atau susu formula
  3. Posisikan semi fowler bayi saat memberikan makan
  4. Control asupan cairan dengan mengatuir kelembutan putting botol, ukuran lubang, dan ukuran botol
  5. Menstimulasi bayi untuk menghisap dengan merangsang reflex rooting, jika diperlukan
  6. Tingkatkan kewaspadaan dan mengingkatkan bonding attachment terhadap bayi dengan berbicara pada bayi
  7. Isntruksikan orang tuan mauun petugas untuk memerhatkan kebersihan botol dengan teknik steriliasi


2.10 AsuhanKeperawatan (Kasus)

A. Kasus
Ny. A (40) melahirkan anak kelimanya, seorang bayi laki-laki di Rumah Sakit Universitas Airlangga pada tanggal 03 April 2016 pukul 07.55. Keadaan bayi ketika lahir seluruh tubuh berwarna biru, denyut nadi 90 x/menit, menangis lemah ketika distimulasi, sedikit gerakan, bernapas megap-megap atau sesak. Berat badan bayi 2780 gram dengan panjang bayi 48 cm. Setelah dilakukan tindakan resusitasi bayi pada menit pertama lahir, keadaan bayi masih sama. Terdapat cairan secret pada hidung dan mulut bayi. APGAR skor = 4, TD tidak dikur, R=55 x/mnt, S: 35,5̊C.
B. Pengkajian
  1. Biodata bayi
  1. Nama                      : By.L
  2. Umur/tgl lahir         : 03 April 2016
  3. Jenis kelamin          : laki-laki
  4. BB                          : 2780 gram
  5. PB/TB                     : 48 cm
  6. Alamat                    : Surabaya
  7. Agama                    : Islam
  8. Anak ke-                 : 5
  9. Suku bangsa           : Jawa

Identitas Penanggung Jawab
  1. Nama                      : Ny.A
  2. Umur                      : 40 tahun
  3. Jenis kelamin          : perempuan
  4. Alamat                    : Surabaya
  5. Pendidikan             : SMA
  6. Pekerjaan                : buruh pabrik

  1. KeluhanUtama
Sesaknapas

  1. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
G5P3A1, umur kehamilan 38 minggu lebih 2 hari, ANC: 7x, presentasi kepala, persalinan spontan.

  1. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada riwayat penyakit dalam keluarga

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan umum      : lemah
    2. Antropometri          : BB=2780g, PB=48cm,  LILA=11cm, LK=32cm, LD=31cm
    3. Kepala                    :fontanel posterior an anterior belum menutup
    4. Mata                       : simetris, sclera ikterik, konjungtiva tidak anemis
    5. Hidung                   : simetris, terdapat sekret
    6. Telinga                    :simetris, tidak ada serumen, tidak ada kelainan bentuk telinga
    7. Mulut                      : mukosa bibir sianosis, terdapat secret
    8. Leher                      : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan tidak ada peningkatan vena jugularis
    9. Dada
Jantung:     
I: tampak retraksi dinding dada interkostalis dan suprasternal
P: bunyi pekak
P: tidak teraba iktus kordis
A: S1-S2 reguler, tidak ada bunyi tambahan
Paru:          
I: ekspansi dada tidak maksimal
P: bunyi sonor
P: fokal fremitus seimbang
A: terdapat ronkhi
  1. Abdomen                : tali pusat masih basah
  2. Punggung               : simetris
  3. Kulit                       : elastis, akral dingin, sianosis
  4. Ekstremitas             : lengkap
  5. Genetalia                : tidak ada kelainan fisiologis
  6. Anus                       : tidak ada kelainan

C. Analisis Data
Tanggal, Jam Pengkajian
Data
Etiologi
Masalah
03-04-2016
08.00
DS: -
DO:
  1. Terlihat sianosis
  2. Terdengar bunyi ronkhi
  3. RR: 55 x/mnt
Penumpukan sekret
Bersihan jalan napas tidak efektif
03-04-2016
08.00
DS: -
DO:
  1. S: 35,5̊C
  2. Terlihat pucat dan sianosis
  3. Akral teraba dingin
Terpajan lingkungan dingin
Hipotermia

  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Bersihan jalan napas tidak efektif bd penumpukan secret
    2. Hipotermia bd terpajan lingkungan dingin

  1. Intervensi
No.
Diagnosis
NOC
NIC
Ttd
1.
Bersihan jalan napas tidak efektif bd penumpukan secret

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x15 menit diharapkan bersihan jalan napas efektif, dengan criteria hasil:
  1. Tidak ada secret
  2. Tidak sianosis
  3. Tidak ada bunyi suara napas tambahan
  4. RR dapat dipertahankan 30-60 x/mnt
  5. Dapat menangis keras
  6. Terdapat retraksi dinding dada

a. Cek dan observasi KU dan TTV
b. Atur posisi untuk memaksimalkan ventilasi
c. Lakukan pengisapan menggunakan suction
d. Beri oksigen sesuai program

2.
Hipotermia bd terpajan lingkungan dingin

Setelah dilakukan tindakan keperwatan 2x24 jam diharapkan hipotermi  teratasi dengan criteria hasil:
  1. Suhu tubuh bayi menjadi normal 36-37̊C
  2. Akral hangat
  3. Tidak sianosis
  4. Tidak pucat
  1. Cek dan observasi KU dan TTV
  2. Selimuti bayi dan gunakan penutup kepala
  3. Gunakan pakaian hangat dan kering
  4. Tempatkan bayi dalam incubator
  5. Pelihara suhu lingkungan agar stabil
  6. Cek dan pantau suhu

3.
Gangguan perfusi jaringan bd gangguan transport  alveolar
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2x24 jam diharapkan gangguan perfusi jaringan teratasi dengan criteria hasil:
  1. Pompa jantung efektif
  2. Perfusi jaringan jantung efektif
  3. Perfusi jaringan perifer efektif
  1. Monitoring gas darah
  2. Kaji denyutjantung
  3. Monitoring system jantung dan paru (resusitasi)
  4. Berikan oksigen yang adekuat






DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Pediatrics Steering Committee on Quality Improvement and Management, Subcommitee on Febrile Seizures. Febrile seizures: clinical practice guideline for the long-term management of child with simple febrile seizures. Pediatrics. 2008;121(6):1281-6.
Beyond the Number (2004). Reviewing Maternal Deaths and Complications to Make Pregnancy Safer. Geneva: World Health Organization
Dewi, VNL. 2011. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salmeba Medika
Freeman, JM & Nelson, KB (1988). Intrapartum Asphyxia and Cerebral Palsy. Pediatrics. 82, pp. 240-249
Gadoth, N & Gobel, HH (2011). Oxidative Stress and Free Radical Damage in Neurology. New York: Springer Science+Media, LCC
Ghai, OP, Paul VK & Bagga, A (2010). Essential Pediatrics. Seventh edition. Pp96-140
Henderson C & Jones K (2005). Buku Ajar Konsep Kebidanan. Edisi ketiga. Jakarta: EGC
Izati, YN (2008). Pola Kejadian Asfiksia pada Bayi yang Dilahirkan oelh Ibu dengan Komplikasi di RS di Kabupaten Serang dan Pandeglang, Provinsi Banten Berdasarkan Tempat Tinggal Ibu Ketika Akan Melahirkan Tahun 2003-2004. Tesis: Universitas Indonesia
Kattwinkel J (2006). Textbook Of Neonatal Resucitation. Edisi ke-5. American Heart Association And American Academy Of Pediatrics. New York: Lippincott, William & Wilkins, 2004
Liborio, AB, Pereira KM, & de Melo Bezerra, CT (2014). Acute Kidney Injury in Neonates: From Urine Output to New Biomarkers. BioMed Research International. Volume 2014, pp1-8 , Article ID 601568. http://dx.doi.org/10.1155/2014/601568
Manoe, VM & Amir A (2003). Gangguan Fungsi Multi Organ pada Bayi Asfiksia Berat. Sari Pediatri. Vol.5. No.2. Pp 72-78
Mochtar R. 2003. Sinopsis Obstetric Fisiologis. Jakarta: EGC
Radityo, AN (2011). Asfiksia Neonatrum Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Gagal Ginjal Akut. Tesis: Universitas Diponegoro.
Rohani, et al. 2011. Asuhan Kebidanan pada Masa Persalinan. Jakarta: Salemba Medika
Saifudin, AB (2001). Buku Acuan Nasional Pelayanan Maternal Kesehatan dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Su, J & Wang, L (2012). Research Advances in Neonatal Hypoglycemic Brain Injury. Vol.1, No.2. doi: 10.3978/j.issn.2224-4336.2012.04.06. Diakses dari <http://www.thetp.org/article/view/1093/1400> pada 25 Maret 2016
Snyder, EY, Cloherty, JP (1998). Manual of Neonatal Care: Perinatal Asphyxia. Edisi ke-4. Philadelphia: Williams & Wilkins; Pp 515-33.
Winkjosastro. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP
Wong, Donna L, dkk. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Volume 2. Jakarta : EGC.
Zlatnik, FJ (2005). Multiorgan System Failure from Perinatal Asphyxia. The Iowa Perinatal Letter. Vol XXVI. No. 1. Diunduh dari <https://www.idph.state.ia.us/hpcdp/common/pdf/perinatal_newsletters/perinatal_jan-march_05.pdf >pada 25 Maret 2016







1 comments:

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.