السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Thursday, 30 June 2016

Macam-macam Syok

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Syok
Syok adalah kondisi yang mengancam kehidupan dimana aliran darah tubuh menurun sehingga suplai nutrisi dan oksigen yang didistribusikan ke sel dan organ berkurang. Syok adalah kondisi klinis yang ditandai dengan hipotensi (tekanan darah sistol <90 mmHg atau MAP <60 mmHg atau menurun >30% selama 30 menit), oliguria (haluaran urin <20ml/jam atau 0,3 ml/kg/jam), dan perfusi perifer buruk (CRT > 2 detik) (Worthley, 2000). Awalnya syok akan menimbulkan cidera seluler yang mula-mula reversible dan kemudian bila keadaan shock berlangsung lama menjadi irreversible (Isselbacher, dkk, 1999 dalam Fitria, 2010).

2.2 Derajat Syok
Berat dan ringannya syok (Tambunan Karmel, dkk, 1990, dalam Fitria, 2010).
1. Syok Ringan
Penurunan perfusi hanya pada jaringan dan organ non-vital seperti kulit, lemak, otot rangka, dan tulang. Jaringan ini relative dapat hidup lebih lama dengan perfusi rendah, tanpa adanya perubahan jaringan yang menetap (irreversible). Kesadaran tidak terganggu, produksi urin normal atau hanya sedikit menurun, asidosis metabolik tidak ada atau ringan.
2. Syok Sedang
Perfusi ke organ vital selain jantung dan otak menurun (hati, usus, ginjal, dan lainnya). Organ- organ ini tidak dapat mentoleransi hipoperfusi lebih lama seperti lemak, kulit, dan otot. Oligouria bisa terjadi dan asidosis metabolic. Akan tetapi kesadaran relatif masih baik.
3. Syok Berat
Perfusi ke jantung dan otak tidak adekuat. Mekanisme kompensasi shock beraksi untuk menyediakan aliran darah ke dua organ vital. Pada syok lanjut terjadi vasokonstriksi di semua pembuluh darah lain. Terjadi oligouria dan asidosis berat, ganguan kesadaran dan tanda- tanda hipoksia jantung (EKG Abnormal, curah jantung menurun).

2.3 Klasifikasi Syok
  1. Syok Kardiogenik
Syok kardiogenik terjadi karena kerusakan pada jantung yang berat sehingga jantung tidak mampu menyuplai cukup darah ke seluruh tubuh. Shock kardiogenik ini akibat depresi berat kerja jantung sistolik. Shock kardiogenik dapat disebabkan kerusakan miokardium atau penghambat mekanisme kontraktilitas jantung. Syok kardiogenik ditandai dengan tinggi CVP, PAoP (> 18 mmHg), resistensi perifer, CO turun yang disertai kandungan oksigen pada vena (Worthley, 2000).

  1. Syok Hipovolemik
Syok hipovolemik adalah perdarahan dan kehilangan cairan yang banyak akibat sekunder dari muntah, diare, luka bakar, atau dehidrasi menyebabkan pengisian ventrikel tidak adekuat, seperti penurunan preload berat, direfleksikan pada penurunan volume, dan tekanan end diastolic ventrikel kanan dan kiri. Perubahan ini yang menyebabkan shock dengan menimbulkan isi sekuncup (stroke volume) dan curah jantung yang tidak adekuat. Syok hipovolemik dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ (Fitria, 2010).

  1. Syok Anafilatik
Syok anafilatik adalah shock yang mengancam jiwa diakibatkan reaksi alergi. Syok anafilatik ini terjadi akibat reaksi alergi yang dimediasi oleh IgE pada sel mast dan basofil yang diakibatkan oleh antigen tertentu yang menyebabkan terjadinya pelepasan mediator - mediator sepagai respon imun. Hal ini mengakibatkan terjadinya vasodilatasi perifer, konstriksi bronkhus, ataupun dilatasi pembuluh darah lokal. Mediator yang terlepas terdiri dari primer dan sekunder. mediator primer meliputi histamin, serotonin, Eosinofil chemotactic factor dan enzim proteoitik. Sedangkan mediator sekunder meliputi PAD, bradikinin, prostagandin, dan leukotriene.

  1. Syok Sepsis
Syok sepsis adalah kondisi serius yang terjadi karena penyebaran infeksi dalam tubuh telah meluas sehingga tekanan darah menurun drastis. Syok sepsis sering terjadi pada usia sangat muda atau sangat tua karena sistem imunnya lebih rentan.

  1. Syok Neurogenik
Syok neurogenik adalah salah satu jenis dari syok distributif. Syok neurogenik ditandai dengan kurangnya volume darah intravaskular. Sistem saraf simpatis tidak dapat untuk mengatur distribusi aliran darah sehingga terjadi vasodilatasi. Vasodilatasi pembuluh darah menyebabkan preload menurun dan tekanan darah menurun. Penurunan tekanan darah akan mengakibatkan perfusi jaringan menurun sehingga sel gagal untuk bermetabolisme.

2.4 Etiologi Syok
  1. Syok Kardiogenik
  1. Cidera miokardium
  1. Infark miokard
Penyebab paling sering adalah 40% lebih karena infark miokard ventrikel kiri, yang menyebabkan penurunan kontraktilitas ventrikel kiri yang berat, dan kegagalan pompa ventrikel kiri (Fitria, 2010).
  1. Kardiomiopati
  2. Bypass jantung
  3. Trauma jantung
  4. Miokarditis
  5. Gangguan mekanisme ventrikel
Regurgitasi aorta atau mitral akut, biasanya disebabkan oleh infark miokard akut, dapat menyebabkan penurunan yang berat pada curah jantung forward (aliran darah keluar melalui katub aorta ke dalam sirkulasi arteri sistemik) dan karenanya menyebabkan shock kardiogenik (Fitria, 2010).

  1. Mekanisme kontraksi terhambat
  1. Keracunan obat
  1. Antiaritmia, lokal anastesi
  2. Antihistamin
  3. Tricyclic antidepresan
  4. β-adrenergic bloker
  5. Calcium-channel inhibitor
  1. Anafilatik
  2. Septikemia
  3. Pankreatitis
  4. Peritonitis bilier
  5. Gangguan endokrin
  1. Krisis Addison
  2. Apopleksi pituitary
  3. Miksoedema
 
  1. Syok Hipovolemik
  1. Excessive perspiration
  2. Kehilangan darah:
  1. Hemotorak
  2. Laserasi hati, ginjal, limpa
  3. Perdarahan gastrointestinal
  4. Ruptur aorta
  5. Fraktur
  1. Kehilangan plasma:
  1. Pankreatitits
  2. Peritonitis
  3. Luka bakar
  4. Diare
  5. Muntah
  6. Terapi diuretik
 
  1. Syok Anafilatik
  1. Alergi obat, misal antibiotik (penicillin, tetracycline, streptomycin, dan erythromycin)
  2. Alergi makanan
  3. Gigitan binatang, yaitu gigitan anjing (rabies), tawon, laba-laba, dan bisa ular
 
  1. Syok Sepsis
  1. Bakteri
  2. Jamur
  3. Virus
 
  1. Syok Neurogenik
  1. Cidera pada tulang belakang (T6 keatas)
  2. Trauma psikologis (ketakutan berlebih, ansietas, dan stres) menyebabkan hilangnya sistem saraf otonomi hingga menyebabkan vasodilatasi berlebih
  3. Stimulasi saraf vagus hingga merusak SSO hingga sistem parasimpatis lebih dominan dan menyebabkan vasodilatasi.

2.5 Manifestasi Klinis
 
2.1 Tabel Manifestasi Klinis Syok
  1. Syok Kardiogenik
  1. Nyeri dada
  2. Koma
  3. Oliguri (kurang dari 20 ml/ jam)
  4. Nadi cepat
  5. Pernapasan cepat dan dangkal
  6. Agitasi
  7. Diaphoresis
  8. Akral dingin
  9. Kulit pucat
  10. Sianotik (Fitria, 2010)
 
  1. Syok Hipovolemik
  1. Ansietas
  2. Akral dingin
  3. Penurunan haluaran urin
  4. Pallor
  5. Napas cepat
  6. Diaphoresis
  7. Tidak sadar
  8. Takikardi
  9. Hipotensi
  10. Pucat
  11. Sianosis (Tambunan Karmel, dkk, 1990, dalam Fitria, 2010).
 
  1. Syok Anafilatik
  1. Nyeri abdomen
  2. Ansietas
  3. Batuk
  4. Diare
  5. Sulit bernapas dan menelan
  6. Sakit kepala
  7. Gatal
  8. Kongestif nasal
  9. Mual dan muntah
  10. Palpitasi
  11. Bengkak pada wajah, mata dan lidah
  12. Sesak
  13. Tidak sadar
  14. Kulit kemerahan
 
  1. Syok Sepsis
  1. Fase Hiperdinamik/ Shock panas (warm shock):
Gejala dini:
  1. Hiperventilasi
  2. Tekanan vena sentral meninggi
  3. Indeks jantung naik
  4. Alkalosis
  5. Oligouria
  6. Hipotensi
  7. Daerah akral hangat
  8. Tekanan perifer rendah
  9. Laktikasidosis
2. Fase Hipodinamik:
  1. Tekanan vena sentral menurun
  2. Hipotensi
  3. Curah jantung berkurang
  4. Vasokonstriksi perifer
  5. Daerah akral dingin
  6. Asam laktat meninggi
  7. Keluaran urin berkurang (Fitria, 2010).
 
  1. Syok Neurogenik
Tekanan darah turun, nadi tidak bertambah cepat, bradikardi, sesudah pasien menjadi tidak sadar, barulah nadi bertambah cepat. Pengumpulan darah di dalam arteriol, kapiler, dan vena, maka kulit terasa agak hangat dan cepat berwarna kemerahan. (Firtia, 2010).
  1. Efek cardioinhibitor: bradyarrhythmias dan kemungkinan asistol
  2. Vasodepresi: dilatasi pembuluh darah perofer, menurunkan resistensi sistem vascular, hipotensi
  3. Bradikardi
  4. Hipotermia
  5. Kulit kering, hangat, dan merah
  6. Paralisis
  7. Hilangnya distensi vena jugularis
  8. pH darah asam

2.6 Komplikasi
  1. Syok Kardiogenik
  1. Sebagian besar otot jantung tidak mampu untuk berkontraksi
  2. Ruptur pada otot jantung
  3. Ventrikular takikardi, ventrikular fibrilasi, dan SVT
  4. Perkardial tamponade
  5. Kerusakan pada katup mitral
  6. Kerusakan pada septum ventrikel kanan dan kiri
  7. Bradikardia
  8. Gangguan sistem elektrik jantung
 
  1. Syok Hipovolemik
  1. Kerusakan ginjal
  2. Gangguan fungsi otak
  3. Henti jantung dan henti napas
  4. Kerusakan organ
  5. Kematian
 
  1. Syok Anafilatik
  1. Bronkospasme
  2. Henti jantung
  3. Henti napas
 
  1. Syok Sepsis
  1. Henti napas
  2. Henti jantung
  3. Gangren dapat terjadi dan dapat memungkinkan untuk tindakan amputasi
  4. MODS
 
  1. Syok Neurogenik
  1. Penumpukan darah vena di ekstremitas bawah memicu terjadinya DVT (Deep Vein Thrombosis) yang berakhir pada emboli paru. Semua pasien yang berisiko DVT diberi terapi profilaksis.
  2. MODS (Multiple Organ Dysfunction Syndromes)
                                                             
  1. Langkah Pertolongan Pertama dalam Menangani Syok
Pertolongan pertama ketika terjadi shock menurut Alexander R H, Proctor H J. Shock., (1993, dalam Fitria, 2010)
1. Posisi Tubuh
  1. Posisi tubuh penderita diletakkan berdasarkan letak luka. Secara umum posisi penderita dibaringkan telentang dengan tujuan meningkatkan aliran darah ke organ-organ vital.
  2. Apabila terdapat trauma pada leher dan tulang belakang, penderita jangan digerakkan sampai persiapan transportasi selesai, kecuali untuk menghindari terjadinya luka yang lebih parah atau untuk memberikan pertolongan pertama seperti pertolongan untuk membebaskan jalan napas.
  3. Penderita yang mengalami luka parah pada bagian bawah muka, atau penderita tidak sadar, harus dibaringkan pada salah satu sisi tubuh (berbaring miring) untuk memudahkan cairan keluar dari rongga mulut dan untuk menghindari sumbatan jalan nafas oleh muntah atau darah. Penanganan yang sangat penting adalah meyakinkan bahwa saluran nafas tetap terbuka untuk menghindari terjadinya asfiksia.
  4. Penderita dengan luka pada kepala dapat dibaringkan telentang datar atau kepala agak ditinggikan. Tidak dibenarkan posisi kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya.
  5. Kalau masih ragu tentang posisi luka penderita, sebaiknya penderita dibaringkan dengan posisi telentang datar.
  6. Pada penderita-penderita shock hipovolemik, baringkan penderita telentang dengan kaki ditinggikan 30 cm sehingga aliran darah balik ke jantung lebih besar dan tekanan darah menjadi meningkat. Tetapi bila penderita menjadi lebih sukar bernafas atau penderita menjadi kesakitan segera turunkan kakinya kembali.
2. Pertahankan Respirasi
  1. Bebaskan jalan napas. Lakukan penghisapan, bila ada sekresi atau muntah.
  2. Tengadah kepala-topang dagu, kalau perlu pasang alat bantu jalan nafas (Gudel/oropharingeal airway).
  3. Berikan oksigen 6 liter/menit
  4. Bila pernapasan/ventilasi tidak adekuat, berikan oksigen dengan pompa sungkup (Ambu bag) atau ETT.
3. Pertahankan Sirkulasi
Segera pasang infus intravena. Bisa lebih dari satu infus. Pantau nadi, tekanan darah, warna kulit, isi vena, produksi urin, dan (CVP).



DAFTAR PUSTAKA

https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000167.htm
https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000039.htm
Fitria, Nur. 2010. Shock dan Penanganannya.  GASTER, Vol.7 No.2. http://www.jurnal.stikes-aisyiyah.ac.id/index.php/gaster/article/view/60/57 diakses pada tanggal 12 Maret 2016 pukul 13.15 WIB
Hardisman. 2014. Gawat Darurat Medis Praktis. Jakarta : EGC
King, Kenneth J., Olson, DaiWai M. What You Should Know About Neurogenic Shock.  American Nurse Today. Februari 2007.
Mack, Elizabeth H. Neurogenic Shock. The Open Pediatric Journal, 2013, 7 16-18.
Worthley, L. I. G. Shock: A review of Pathophisiology and Management. Part I. Critical Care and Resuscitation 2000; 2: 55-65




1 comments:

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.