السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Tuesday, 14 June 2016

Harapan dan Kebahagiaan

Manusia hidup di dunia ini tidak pernah lepas dari kata bahagia. Bahagia menjadi tujuan, idaman, sesuatu yang dicari sekaligus dinanti, dan hal yang sangat berharga. Siapa yang tidak ingin bahagia? Semua orang ingin bahagia. Bahagia menjadi kata sifat yang semua orang menginginkannya. Manusia hidup di dunia ini tidak lain adalah salah satunya mencari kebahagiaan, entah itu di dunia ataupun di akhirat. Bekerja untuk bahagia, berumah tangga untuk bahagia, mencari ilmu untuk behagia, bepergian untuk bahagia, dan kadang sampai sakit juga untuk bahagia.

Ada yang bilang bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang mengikuti sebuah kesuksesan usaha. Ada juga yang mengatakan bahwa bahagia itu lahir dari rasa syukur atas segala yang dimiliki. Kedua statemen tersebut adalah alasan kebahagiaan yang sering didengar dan hal tersebut tidaklah salah. Dua statement tersebut mengartikan bahagia dalam dua sudut pandang yang berbeda. Yang pertama menempatkan kabahagiaan sebagai sebuah tujuan dan hasil yang akan dicapai setelah melakukan suatu hal. Sedangkan yang kedua menempatkan kebahagiaan sebagai sesuatu yang dapat diperoleh dengan menyisipkan satu variabel yaitu syukur tanpa harus melakukan sesuatu, yaitu menyadari segala sesuatu yang telah didapatkan. Disini penulis ingin mengajak pembaca untuk melihat kebahagiaan ini dari sudut pandang yang berbeda menurut penulis.

Penulis melihat bahwa disini ada hal yang mendasari untuk merasa bahagia atau tidak bahagia. Salah satunya adalah harapan. Pada suatu waktu mungkin pernah merasakan amat bahagia melihat anak kecil yang berangkat mengaji. Terkadang juga tidak tahu mengapa, tetapi perasaan bahagia ini ada ketika melihat anak kecil tersebut. Sebenarnya, disadari atau tidak saat itu ada bibit-bibit harapan yang ditanam dalam hati. Ada sebuah harapan, entah harapan jauh melihat negara ini akan lebih baik dan bermartabat dengan adanya anak-anak yang rajin mengaji tersebut, harapan untuk kelak memiliki anak yang juga rajin mengaji, harapan bahwa anak yang mengaji ini kelak akan membantu masyarakat untuk menggapai jalan yang benar dalam sebuah kesejahteraan. Pun halnya ketika melihat walikota yang menutup sebuah lokalisasi. Bahagia sekali rasanya. Kebahagiaan tersebut ada karena juga ada harapan. Harapan bahwa ke depan tidak akan ada kemaksyiatan lagi, kota lebih bermartabat, citra kota menjadi semakin bagus, dan harapan bahwa walikota tersebut akan membuat gerakan hebat lainnya untuk merubah tatanan kota menjadi lebih baik dan baik lagi. Ketika tidak senang terhadap sesuatu misal ketika melihat teman yang juara dalam kompetisi atau lomba, sesungguhnya itu adalah manifestasi ketidakmampuan dalam menyisipkan harapan baik dalam momentum tersebut. Perasaan iri datang lantaran merasa tidak memiliki harapan untuk misal, membuat sebuah prestasi yang sama. Perasaan tersebut akan menjauhkan kebahagiaan dari hati. Dari sini dapat disimpulkan bahwa harapan baik dan positif selalu mendasari kebahagiaan.

Para sahabat (sejati) pada zaman Rasul dulu ketika ada panggilan perang, mereka begitu bahagia dan bersemangat padahal mereka sadar akan risiko cedera, cacat, bahkan kematian yang akan didapat dalam peperangan tersebut. Para sahabat ini tidak lain memiliki harapan-harapan positif yang dibawa ketika berperang, yaitu surga yang dijanjikan Allah ketika meninggal dalam keadaan syahid atau pahala yang besar atas kemenangan dalam menumpas lakon kebathilan ketika kembali dalam keadaan selamat dan banyak harapan positif lain yang tumbuh di hati para sahabat. Akan tetapi tidak sedikit juga para sahabat yang tidak senang dengan panggilan perang. Hal ini karena mereka tidak memiliki harapan positif apapun dalam peperangan tersebut. Sudah banyak diceritakan dalam hadits tentang para sahabat yang takut terluka dan meninggal ketika berperang, khawatir meninggalkan harta serta keluarganya yang berharga. Sehingga timbullah perasaan enggan untuk memenuhi panggilan perang tersebut. Pun dengan orang kafir, telah diceritakan banyak kisah heroik kaum muslimin yang memenangi peperangan walau kalah jumlah pasukan. Bedanya adalah ruh berperang antara kaum muslimin dan kaum kafirin. Kaum muslimin memiliki harapan positif yang membuat meraka bahagia dalam berperang. Sehingga di medan perang, kaum muslimin dapat menjelma menjadi singa-singa padang pasir yang begitu kuat dan gigih dalam berperang. Akan tetapi kaum kafirin tidak memiliki harapan positif yang mendasari semangat berperang mereka. Sehingga hati mereka lemah, semangat mereka rapuh.

 Harapan merupakan satu variabel selain syukur yang harus ditumbuhkan agar dapat memperoleh kebahagiaan. Sesederhana itu? bukankah untuk bahagia itu sederhana? Merasa dekat dengan Allah saja sudah membuat hati begitu bahagia. Ada harapan bahwa kedekatan tersebut akan membuat seseorang senantisa dalam perlindungan dan naungan Allah SWT dalam menjalani kehidupan dan segala problematikanya.

Harapan dan kebahagiaan sangat berdampak terhadap suatu kinerja dan hasil dari kinerja. Apabila mengerjakan sesuatu dengan bahagia maka insya allah pekerjaan akan baik dan berbuah baik pula. Seperti kisah para sahabat tadi. Sebagai contoh lagi, seumpama seseorang diberikan sebuah tanaman untuk dirawat sampai besar. Seseorang yang memiliki harapan positif misalkan, harapan bahwa tanaman tersebut akan berbunga cantik, atau berdaun rimbun untuk naungan, atau akan berbuah yang manis untuk dinikmati, maka pastilah akan timbul perasaan bahagia dalam merawat tanaman tersebut. Sehingga tanaman tersebut akan dirawat dengan sepenuh hati, dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang. Tetapi sebaliknya apabila sejak awal sudah tidak ada harapan positif yang ditanamkan, maka kebahagiaan juga tidak akan tumbuh dalam proses ikhtiar merawat tanaman tersebut.

Oleh karena, penulis ingin menegaskan kembali bahwa kebahagiaan bukan hanya sesuatu tujuan, bukan hanya buah dari pohon yang kita rawat, akan tetapi bahagia juga merupakan hal penting yang mengiringi setiap usaha dan pekerjaan. Kebahagiaan bukan hanya untuk diraih, diperoleh, dan didapatkan tetapi juga sesuatu yang ditumbuhkan. Kebahagiaan ini tumbuh dan dapat menjadi support system kita dalam berjalan mengarungi sebuah ikhtiar dan petualangan kehidupan. Caranya adalah dengan menanam harapan-harapan positif. Harapan-harapan positif ini ibarat benih dan kebahagiaan adalah yang tumbuh dari benih tersebut. Percayalah, kebahagiaan akan membuat kita memandang sesuatu hal dengan lebih indah dan dari sudut pandang yang lebih indah pula.

 *Rio Cristianto
       





1 comments:

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.