السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Thursday, 19 May 2016

Kisah Inspiratif Dua Pedagang Keren

assalamualaikum wr.wb para pembaca yang budiman. Sudah lama ane gak posting-posting lagi. Hari ini izinkan ane berbagi pengalaman kepada pembaca semua. Semoga pengalaman ane ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Aamiin
Ane ingin  menceritakan dua orang sosok yang keren dan patut menjadi contoh. Kisah kali ini sekaligus menunjukkan bahwa teladan itu tidak hanya dapat kita temukan pada tokoh-tokoh publik, orang-orang tenar yang sering naik mimbar, orang-orang yang sering memotong pita peresmian, tetapi teladan bisa kita temukan pada orang-orang sekitar kita, bahkan orang-orang yang tidak kita duga-duga.
Suatu sore, sepulang kerja sampingan, ane mencari jus buah untuk melepas dahaga yang mendera (alay dikit). Tetapi karena penjual jus langganan tutup, ane akhirnya pulang. Di perjalanan terlihat bapak-bapak menjaga gerobak es bubur kacang hijau di samping jalan. Wah lumayan untuk obat haus pikirku. Akhirnya ane mampir ke bapak tersebut. Ane perhatikana ada yang berbeda dengan bapak penjual bubur ini. Ane langsung kagum di pandangan pertama. Yang membuat ane kagum dengan si Bapak penjual bubur kacang hijau ini adalah beliau begitu ramah dengan pelanggan. Senyumnya selalu merekah kepada setiap pelanggan yang datang membeli. Dan yang membuat ane kagum untuk kesekian kalinya, bapak ini tak lupa mendoakan pelanggannya ketika hendak pergi setelah menerima bungkusan es bubur kacang hijaunya. “Semoga lelah dan capeknya hilang semua ya mas!”. So sweet sekali bapak ini. Bagaimana gak bahagia pelanggannya kalau didoakan begini. Kedua kalinya ane kesana, keramahan itu lagi-lagi sukses menawan hati ane. Hanya pada pengalaman kedua ini adalagi yang membuat kekaguman ane bertambah. Beliau ternyata tidak meninggalkan shalat seklipun sedang berdagang. Noh, keren gak tuh? “Mas, ini tadi mau tak tinggal shalat, Masnya datang tepat waktu” Masya Allah… Ini nih pedagang sejati. Gak lupa agama walau lagi sibuk mencari nafkah.
Masih di hari yang sama, ba’da menunaikan shalat maghrib usai mengajar di TPQ (Taman Pendidiakn al Qur’an). Ane mau pulang. Di serambi masjid ane lihat ada gerobak. Seperti gerobak jajanan anak-anak. Seorang lelaki paruh baya keluar dari masjid datang menghampirinya. Kemudian mendorongnya keluar dari masjid. Yang ane perhatikan bukan gerobaknya, tapi mas-mas yang sedang mendorong gerobak tersebut. Ane perhatikan, subhanallah… baliau berdizikir. Mulutnya tak henti berkomat-kamit di setiap langkah ia beranjak menjemput rizki di tempat yang ingin beliau tuju, entah dimana itu. Luar biasa sekali.
Hal ini kemudia menjadi bahan pembelajaran kepada ane pribadi. Seringkali ketika kita bekerja, kita lupa akan adanya Allah. Sehingga kita mementingkan pekerjaan selesai tepat waktu dengan hasil yang memuaskan ketimbang shalat tepat waktu dengan khusyu’. Mementingkan dandanan modis dan rapi ketimbang bertilawah dan berdzikir terlebih dahulu sebelum bertemu atasan atau pelanggan. Bahkan mementingkan kepentingan gaji dan upah dan mengabaikan hak-hak orang lain. Naudzubillah…
Dunia adalah satu dari sekian banyak hal yang seringkali membelenggu kita dalam lingkaran kesibukan yang membuat kita hanya berorientasi pada dunia. Sedangkan Agama yang menjadi oase, mata air serta pelita yang menyegarkan, menyelamatkan dan menerangi kita dari kehausan dan kebutaan akan dunia yang melahirkan keinginan dan hasrat yang tidak pernah tertuntaskan, seringkali dinomorduakan. Akhirnya ya, korupsi walau jabatan sudah sangat bergengsi, mencuri walau sudah dimanjakan gaji, timbul kerja-kerja yang tidak berkualitas yang hanya menghamburkan uang anggaran, pelayanan yang jauh dari kata memuaskan, sehingga ada istilah, “Gaji serius, kerja main-main”. Tataran yang lebih rendah, ada pedagang-pedagang curang, rela dagang dengan mengorbankan waktu ibadah, seolah-olah agama hanya menghambat aktivitas untuk mencari rizki. Bukankah yang memberi rizki adalah Allah, bukan pekerjaan kita. Bekerja hanya perantara kita untuk menjemput rizki-Nya, tapi kalau yang punya rizki gak ridha, sebaik apapun perantara kita, mau apa? Ibarat kita mau nego harga tanah, kita sewa negosiator handal yang berkompeten, kalau yang empunya tanah ga ridha ngelepas tanahnya, mau apa? Tanah gak dapet, gigit jari yang iya, keluar uang lagi buat nyewa negosiator, nah.. tuh bagaimana ceritanya kalau udah begitu?
Dari dua sosok luar biasa tadi semoga kita dapat mengambil pelajaran, bahwa yang membuat kita bahagia bukanlah uang dari kerja-kerja kita. Kebahagiaan itu datangnya dari Allah. Maka salah kalau kita cari uang tapi melupakan Allah, karena uang hanya secuil dibandingkan kebahagiaan dan nikmat yang Allah curahkan untuk kita. Ketika kita bisa selalu bersyukur, saat itulah kita bisa bekerja sepenuh hati dengan Allah bersama kita, membersamai ikhtiyar kita mencari rizki.
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu kembali setelah dibangkitkan” (QS. Al Mulk : 15)




0 comments:

Post a Comment

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.