السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Tuesday, 29 December 2015

Supervisi dalam Keperawatan

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian
Arti kata supervisor dalam kamus karya Prof.Drs.S.Wojowasito dan Drs.Tito Wasito W. adalah pengawas. Supervisor adalah pengawas utama, pengontrol utama, penyedia. Supervisor juga area sales manager ataupun district manager yang langsung memimpin para medical representative. Jabatan ini merupakan manajer di lapis terdepan, diatas para medical representative. Jabatan area sales manager ataupun supervisor memegang peranann penting karena seluruh tugas lapangan harus berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Apabila seluruh anggota timnya berhasil mencapai sasaran, berarti supervisor sukses mencapai sasarannya. Pemegang jabatan ini bertanggung jawab atas kualitas dan kuantitas hasil kerja suatu kelompok kerja atau pelayanan yang diberikan. Supervisor diharapkan mampu membina, mempertahankan, dan meningkatkan kualitas maupun kuantitas pekerjaan yang dilakukan para medical representative. Supervisor harus mampu membentuk tim yang efektif dengan cara tukar – menukar pengalaman, meningkatkan keinginan untuk berkembang, membimbing, menekankan dan memberikan umpan balik secara terus – menerus.

 

Menurut Yura dan Helen (1981), supervisi adalah mengawasi, meneliti dan memeriksa, yang dipandang sebagai proses dinamis dengan memberikan dorongan dan berpartisipasi dalam pengembangan diri staf dan pelaksanaan keperawatan. Sedangkan menurut Kron T.(1987), supervisi adalah merencanakan, mengarahkan, membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong dan memperbaiki, mempercayai, mengevaluasi secara terus-menerus pada setiap tenaga keperawatan dengan sabar, adil serta bijaksana sehingga setiap tenaga keperawatan dapat memberikan asuhan keperawatan dengan baik, trampil, aman, cepat dan tepat secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan yang mereka miliki. Menurut Swansburg dan Swansburg (1990), supervisi adalah suatu proses kemudahan sumber-sumber yang diperlukan staf keperawatan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

Supervisor harus mengusahakan seoptimal mungkin kondisi kerja yang nyaman. Ini tidak hanya meliputi lingkungan fisik, tetapi juga suasana kerja diantara para tenaga keperawatan dan tenaga lainnya. Juga meliputi jumlah persediaan dan kelayakan peralatan agar memudahkan pelaksanaan tugas. Lingkungan yang sehat bila dapat memberikan rasa bebas dan keinginan untuk bekerja lebih baik. Supervisor juga mengusahakan semangat kebersamaan dengan lebih menekankan “kita” daripada “saya”.

Pada suatu saat supervisor akan memerlukan bantuan dalam mengambil keputusan melalui pengamalan dalam tugas untuk menemukan metoda yang lebih baik guna melaksankan pendelegasian tugas dalam kelompok kerja, tentu memerlukan dukungan dari anggota kelompok. Walaupun supervisor memperhatikan kondisi dan hasil kerja, tetapi perhatian utama ialah manusianya, untuk itu harus mengenal tiap individu dan mampu merangsang agar tiap pelaksana mau meningkatkan diri. Salah satu tujuan utama dari supervisi adalah orientasi, latihan dan bimbingan individu, berdasarkan kebutuhan individu dan mengarah pada pemanfaatan kemampuan dan pengembangan ketrampilan yang baru. Dalam pelaksanaan supervisi, supervisor membuat suatu keputusan tentang suatu pekerjaan yang akan dilaksanakan, kemudian siapa yang akan melaksanakan. Untuk itu supervisor perlu memberikan penjelasan dalam bentuk arahan kepada para pelaksana.

2.2 Tugas dan Wewenang Supervisi
Posisi supervisor adalah posisi yang sangat vital, karena sebagai manajer lini terdepan banyak sekali tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Semua dimaksudkan agar pekerjaan lapangan berjalan dengan sebaik-baiknya dengan hasil yang optimal. Beberapa tugas utama dari banyak tugas seorang supervisor adalah seperti yang diuraikan sebagai berikut :
  1. Mengatur kerja para staf
  2. Membuat job desk para staf
  3. Bertanggung jawab atas hasil kerja staf
  4. Memberi motivasi ke staf
  5. Membuat jadwal untuk karyawan
  6. Memberikan breafing
  7. Memecahkan masalah Tim
  8. Mengendalikan perubahan
  9. Mengevaluasi kinerja
  10. Membuat planning pekerjaan untuk kedepannya yaitu kerja harian,mingguan,bulanan,dan tahunan
  11. Membentuk Tim kerja yang solid
Untuk membentuk tim kerja yang solid diperlukan juga kepiawaian dalam bersosialisasi dengan anak buah sehingga terjalin hubungan baik. Dalam suatu tim yang solid para angotanya mempunyai karakteristik yaitu kompak saling membentu dalam kebaikan, rukun, saling menjaga kehormatan, tidak saling menggunjing, jauh dari fitnah dan saling menghargai sesama. Jika ada anggota kelompok yang kekurangan ilmu, mereka mau saling membantu untuk berbagi, melatih, dan mengajarnya. Tim yang solid akan menjadi teladan bagi tim lain.

2.3 Ciri-ciri Supervisi Efektif
Menurut R. Keith Mobley dalam artikelnya "The Keys to Effective Supervision," supervisi efektif memiliki ciri-ciri yang dijadikan panduan dalam mengembangkan keterampilan supervisi dan dalam pengambilan keputusan sehubungan dengan tugas-tugas seupervisi seorang pemimpin.

Ciri-ciri yang dimaksud adalah:

a). Pendelegasian
Dapat membawa timnya ke arah target yang telah ditetapkan. Dengan keterbatasan waktu dan tenaga, akan lebih efektif jika seorang supervisor mendelegasikan tugas-tugasnya, terutama yang bersifat teknis lapangan kepada bawahannya

b). Keseimbangan
Seorang pimpinan diberikan otoritas untuk mengambil keputusan dan memberikan tugas kepada orang-orang di bawah tanggung jawabnya. Otoritas ini harus digunakan dengan tepat, artinya manajer atau supervisor harus menyeimbangkan penggunaan otoritas tersebut. Ia perlu tahu kapan harus menggunakan otoritas ini, dan kapan membiarkan bawahannya bekerja dengan mengoptimalkan kreativitas mereka. Keseimbangan mengacu pada sikap yang diambil oleh seorang pemimpin, kapan harus bersikap tegas, dan kapan harus memberi kesempatan pada bawahannya untuk menyampaikan pendapat.

c). Jembatan
Supervisor atau manajer merupakan jembatan antara staf yang mereka pimpin dan manajemen puncak. Jadi seorang supervisor harus dapat menyampaikan keinginan atau usulan karyawan kepada pihak manajemen. Sebaliknya, ia juga harus mampu menyampaikan visi dan misi yang telah ditetapkan serta keputusan-keputusan lain yang telah dibuat oleh manajemen puncak untuk diketahui oleh para karyawan yang menjadi anggota timnya.

d). Komunikasi
Ciri sukses lain yang sangat penting dalam melakukan supervisi efektif adalah kemampuan berkomunikasi. Komunikasi yang dimaksud bukan komunikasi satu arah (memberikan tugas-tugas saja), tetapi yang lebih utama adalah komunikasi multiarah, yang juga mencangkup kemampuan mendengarkan keluhan, masukan, dan pertanyaan dari karyawan. Dalam mengkomunikasikan tugas-tugas, supervisor perlu menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh orang yang harus melaksanakan tugas tersebut, yakni bahasa yang sejajar dengan kemampuan, dan cara berpikir bawahannya.

2.4 Alur Supervisi Keperawatan

2.5 Langkah-langkah supervisi keperawatan
Langkah-langkah pada supervisi keperawatan adalah sebagai berikut (Nursalam, 2014)
  1. Prasupervisi
  1. Supervisor menetapkan kegiatan yang akan disupervisi.
  2. Supervisor menetapkan tujuan dan kompetensi yang akan dinilai.
  1. Pelaksanaan Supervisi
  1. Supervisor menilai kinerja perawat berdasarkan alat ukur atau instrumen yang telah disiapkan.
  2. Supervisor mendapat beberapa hal yang memerlukan pembinaan
  3. Supervisor memanggil PP dan PA untuk mengadakan pembinaan dan klarifikasi permasalahan.
  1. Pascasupervisi-3F
    1. Pelaksanaan supervisi dengan inspeksi, wawancara dan memvalidasi data sekunder.
  1. Supervisor mengklarifikasi permasalahan yang ada.
  2. Supervisor melakukan tanya jawab dengan perawat.
  1. Supervisor memberikan penilaian supervisi (F-Fair).
  1. Supervisor mengklarifikasi masalah yang ada.
  2. Supervisor melakukan tanya jawab dengan perawat.
  1. Supervisor memberikan feedback dan klarifikasi (sesuai hasil laporan supervisi).
  2. Supervisor memberikan reinforcement dan follow up perbaikan.
  1. Terdapat dua reinforcement yaitu reinforcement positif atau reward diberikan pada yang melakukan perilaku positif atau diinginkan mendapatkan penghargaan  sehingga dapat meningkatkan kekuatan respon atau merangsang pengulangan perilakunya. Ke dua reinforcement negative atau hukuman adalah situasi yang terjadi ketika perilaku yang diinginkan terjadi untuk menghindari konsekuensi negative dari hukuman (Roussel et al, 2003)
  2. Ada dua follow up perbaikan yaitu short-term follo-up adalah intervensi jangka pendek melibatkan pasien setelah melalui sebuah episode dari penyakit akut dan long-term follow-up diberikan pada pasien mendapatkan intervensi jangka panjang atau tindak lanjut, rencana individual lebih formal dapat dilakukan bersama dengan orang-orang di sekitarnya untuk memperluas pemantauan dan mengulangi perilaku positif. (Cohen and Toni, 2005).
2.6 Prinsip-prinsip supervisi keperawatan
Ada beberapa prinsip supervisi yang dilakukan di bidang keperawatan (Nursalam, 2007) antara lain:
  1. Supervisi dilakukan sesuai dengan struktur organisasi
  2. Supervisi menggunakan pengetahuan dasar manajemen, keterampilan hubungan antar manusia dan kemampuan menerapkan prinsip manajemen dan kepemimpinan.
  3. Fungsi supervisi diuraikan dengan jelas, terorganisasi dan dinyatakan melalui petunjuk, peraturan, tugas, dan standart.
  4. Supervisi merupakan proses kerjasama yang demokratis antara supervisor dan perawat pelaksana.
  5. Supervisi merupakan visi, misi, falsafah, tujuan dan rencana yang spesifik.
  6. Supervisi menciptakan lingkungan yang kondusif, komunikasi efektif, kreatifitas, dan motivasi.
  7. Supervisi mempunyai tujuan yang berhasil dan berdayaguna dalam pelayanan keperawatan yang memberikan kepuasan klien, perawat dan manajer.
Menurut Keliat (1993) prinsip supervisi keperawatan adalah sebagai berikut:
  1. Supervisi dilakukan sesuai dengan struktur organisasi rumah sakit
  2. Supervisi memerlukan pengetahuan dasar manajemen, keterampilan hubungan antar manusia, kemampuan menerapkan prinsip manajemen dan kepemimpinan.
  3. Fungsi supervisi diuraikan dengan jelas dan terorganisasi dan dinyatakan melalui petunjuk, peraturan kebijakan dan uraian tugas standart
  4. Supervisi adalah proses kerjasama yang demokratis antar supervisor dan perawat pelaksana
  5. Supervisi menggunakan proses manajemen termasuk menerapkan misi, falsafah, tujuan, dan rencananya yang spesifik untuk mencapai tujuan.
  6. Spervisi menciptakan lingkungan yang mendukung komunikasi efektif, merangsang kreativitas dan motivasi. 

2.7 Teknik Supervisi
Supervisi keperawatan merupakan suatu proses pemberian sumber-sumber yang dibutuhkan perawat untuk menyelesaiakan tugas dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan supervisi memungkinkan seorang manajer keperawatan dapat menemukan berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan asuahan keperawatan. Melalui kegiatan supervisi seharusnya kualitas dan mutu pelayanan keperawatan menjadi fokus dan menjadi tujuan utama, bukan malah menyibukkan diri mencari kesalahan atau penyimpangan (Arwani, 2006).

Teknik supervisi dibedakan menjadi dua, supervisi langsung dan tak langsung.
  1. Teknik Supervisi secara langsung
Supervisi yang dilakukan pada saat kegiatan sedang berlangsung. Supervisor terlibat dalam kegiatan secara langsung agar proses pengarahan dan pemberian petunjuk tidak dirasakan sebagai suatu “perintah” Bittel, 1987 (dalam Wiyana, 2008). Cara memberikan supervisi efektif adalah :1) pengarahan harus lengkap dan mudah dipahami; 2) menggunakan kata-kata yang tepat; 3) berbicara dengan jelas dan lambat; 4) berikan arahan yang logis; 5) Hindari banyak memberikan arahan pada satu waktu; 7) pastikan arahan yang diberikan dapat dipahami; 8) Pastikan bahwa arahan yang diberikan dilaksanakn atau perlu tindak lanjut Supervisi lansung dilakukan pada saat perawat sedang melaksanakan pengisian formulir dokumentasi asuhan keperawatan. Supervisi dilakukan pada kinerja pendokumentasian dengan mendampingi perawat dalam pengisian setiap komponen dalam proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi.

Langkah-langkah yang digunakan dalam supervisi langsung (Wiyana, 2008):
  1. Informasikan kepada perawat yang akan disupervisi bahwa pendokumentasiannya akan disupervisi.
  2. Lakukan supervisi asuhan keperawatan pada saat perawat melakukan pendokumentasian. Supervisor melihat hasil pendokumentasian secara langsung dihadapan perawat yang mendokumentasikan.
  3. Supervisor menilai setiap dokumentasi sesuai standar dengan asuhan keperawatan pakai yaitu menggunakan form A. Depkes 2005
  4. Supervisor menjelaskan, mengarahkan dan membimbing perawat yang disupervisi komponen pendokumentasian mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi kepada perawat yang sedang menjalankan pencacatan dokumentasi asuhan keperawatan
  5. Mencatat gasi supervise dan menyimpan dalam dokumentasi supervisi
  1. Teknik Supervisi secara tidak langsung
Supervisi tidak langsung adalah supervisi yang dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun lisan. Kepala ruangan tidak melihat langsung apa yang terjadi di lapangan sehingga memungkinkan terjadi kesenjangan fakta. Umpan balik dapat diberikan secara tertulis (Bittel 1987 dalam Wiyana 2008).

Langkah-langkah Supervisi tak langsung.
  1. Lakukan supervisi secara tak langsung dengan melihat hasil dokumentasi pada buku rekam medik perawat.
  2. Pilih salah satu dokumen asuhan keperawatan.
  3. Periksa kelengkapan dokumentasi sesuai dengan standar dokumentasi asuhan keperawatan yang ditetapkan rumah sakit yaitu form A dari Depkes.
  4. Memberikan penilaian atas dokumentasi yang di supervisi dengan memberikan tanda bila ada yang masih kurang dan berikan cacatan tertulis pada perawat yang mendokumentasikan.
  5. Memberikan catatan pada lembar dokumentasi yang tidak lengkap atau sesuai standar
Untuk dapat melaksanakan supervisi yang baik ada dua hal yang perlu diperhatikan (Suarli & Bachtiar, 2009):
  1. Pengamatan langsung
Pengamatan langsung harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan.
  1. Sasaran pengamatan. Pengamatan langsung yang tidak jelas sasarannya dapat menimbulkan kebingungan, karena pelaksana supervisi dapat terperangkap pada sesuatu yang bersifat detail. Untuk mencegah keadaan yang seperti ini, maka pada pengamatan langsung perlu ditetapkan sasaran pengamatan, yakni hanya ditujukan pada sesuatu yang bersifat pokok dan strategis saja (selective supervision).
  2. Objektivitas pengamatan langsung yang tidak terstandardisasi dapat menggangu objektivitas. Untuk mencegah keadaan yang seperti ini, maka pengamatan langsung perlu dibantu dengan dengan suatu daftar isi yang telah dipersiapkan. Daftar tersebut dipersiapkan untuk setiap pengamatan secara lengkap dan apa adanya.
  3. Pendekatan pengamatan. Pengamatan langsung sering menimbulkan berbagai dampak dan kesan negatif, misalnya rasa takut dan tidak senang, atau kesan menggangagu kelancaran pekerjaan. Untuk mengecek keadaan ini pengamatan langsung harus dilakukan sedemikian rupa sehingga berbagai dampak atau kesan negatif tersebut tidak sampai muncul. Sangat dianjurkan pengamatan tersebut dapat dilakukan secara edukatif dan suportif, bukan menunjukkan kekuasaan atau otoritas.
  1. Kerja sama
Agar komunonikasi yang baik dan rasa memiliki ini dapat muncul, pelaksana supervisi dan yang disupervisi perlu bekerja sama dalam penyelesaian masalah, sehingga prinsip-prinsip kerja sama kelompok dapat diterapkan. Masalah, penyebab masalah serta upaya alternatif penyelesaian masalah harus dibahas secara bersama-sama. Kemudian upaya penyelesaian masalah tersebut dilaksanakan secara bersama-sama pula.

2.7 Peran dan Fungsi Supervisor
Peran dan fungsi supervisor dalam supervisi adalah mempertahankan keseimbangan pelayanan keperawatan dan manajemen sumber daya yang tersedia.
  1. Manajemen pelayanan keperawatan
Tanggung jawab supervisor adalah:
  1. Menetapkan dan mempertahankan standar praktek keperawatan
  2. Menilai kualitas asuhan keperawatan dan pelayanan yang diberikan
  3. Mengembangkan peraturan dan prosedur yang mengatur pelayanan keperawatan, kerjasama dengan tenaga kesehatan lain yang terkait.
  1. Manajemen anggaran
Manajemen keperawatan berperan aktif dalam membantu perencanaan dan pengembangan. Supervisor berperan dalam:
  1. Membantu menilai rencana keseluruhan dikaitkan dengan dan tahunan yang tersedia, mengembangkan tujuan yang dapat dicapai sesuai tujuan RS.
  2. Membantu mendapatkan informasi statistic unutk perencanaan anggaran keperawatan.
  3. Member justifikasi proyeksi anggaran unit yang dikelola.
  4. Supervisi yang berhasil guna dan berdaya guna tidak dapat terjadi begitu saja, tetapi memerlukan praktek dan evaluasi penampilan agar dapat dijalani dengan tepat. Kegagalan supervisi dapat menimbulkan kesenjangan dalam pelayanan keperawatan.

2.8 Tugas dan Fungsi Supervisor
Tugas supervisor adalah mengusahakan seoptimal mungkin kondisi kerja yang nyaman dan aman, efektif dan efisien. Tugas dan fungsi supervisor menurut Suyatno (2008) adalah sebagai berikut:
  1. Mengorientasi staf dan pelaksana keperawatan terutama pegawai baru
  2. Melatuh staf dan pelaksana keperawatan
  3. Memberikan pengarahan dalam pelaksanaan tugas agar menyadari, mengerti terhadap peran, fungsi sebagai staf dan pelaksana asuhan keperawatan
  4. Memberikan pelayanan bimbingan kepada pelaksana keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan
Dalam keperawatan, fungsi supervisi adalah untuk mngatur dan mengorganisasi proses pemberian pelayanan keperawatan menyangkut pelaksanaan standart asuhan keperawatan. Seorang supervisor harus menyadari fungsinya dalam supervisi antara lain adalah:
  1. Menilai dalam memperbaiki factor-faktor yang mempengaruhi proses pemberian pelayanan asuhan keperawatan
  2. Mengkoordinasikan, menstimulasi, dan mendorong kea rah peningkatan kualitas asuhan keperawatan.
  3. Membanttu (asistensing), member support (supporting), dan mengajak untuk ikut sertakan (sharing)
 2.9 Contoh Format Penilaian pada Supervisi Keperawatan



INSTRUMEN SUPERVISI INJEKSI INTRAVENA
Hari/Tanggal               :                                               Supervisor       :
Yang disupervisi         :                                               Ruangan          :

Aspek Penilaian
Parameter

Skor
DilakukanTotal SkorKet
YaTidak
Persiapan
  1. Menyiapkan alat steril
  1. Bak injeksi
  2. Spuit sesuai kebutuhan
  3. Alcohol swab

  1. Menyiapkan alat nonsteril
  1. Sarung tangan
  2. Pengalas
  3. Bengkok
  4. Alat tulis
  5. Buku injeksi

  1. Menyiapkan bahan-bahan
  1. Obat
  2. NaCl 0,9%

  1. Menyiapkan Pasien
  1. Memberi penjelasan kepada pasien tentang prosedur yang akan dilakukan
  2. Mengatur posisi pasien yang nyaman

2
2
2


3
3
3
3
3


4
4


3


3

v
v
v


v
v
v
v
v


v
v


v


v




35

PelaksanaanPelaksanaan injeksi intravena:
  1. Cuci tangan kemudian menggunakan sarung tangan
  2. Oplos obat dengan NaCl 0,9% dengan memasukan obat dalam spuit
  3. Pastikan infus dalam keadaan menetes lancar tidak ada tanda-tanda febitis, kemudian klem atau pengtaur tetesan dimatikan
  4. Melakukan desinfeksi dengan alkohol 70% pada daerah yang akan diinjeksi.
  5. Sampaikan pada pasien bahwa obat akan di injeksikan
  6. Obat dimasukan
  7. Perhatikan ekspresi wajah pasien
  8. Pengtaur tetsan dibuka kembali, kemudian tetsan diatur sesuai dengan kebutuhan yang sudah ditentukan
  9. Pasien dirapikan, alat-alat dibereskan
  10. Ucapkan terimakasih kepada pasien
  11. Melepas sarung tangan dan cuci tangan
  12. Mencatat dan memberi tanda pada format pemberian injeksi dan buku injeksi

3

3


3




3


3

3
2

2




2

2

2

2

v

v


v




v


v

v
v

v




v

v

v

v
















30

SikapSikap perawat pada waktu injeksi:
  1. Komunikasi
  2. Kerjas sama
  3. Tanggung jawab
  4. Kewaspadaan

5
5
5
5

v
v
v
v

20
EvaluasiEvaluasi:
  1. mengevaluasi lokasi penyuntikan dan kelancaran tetesan
  2. mengevaluasi kenyamanan posisi
  3. mengobservasi kemungkinan flebitis


5

5
5


v

v
v

15
Total Nilai100

100Baik























































































Criteria:
Baik  : 85-100
Cukup : 70-85
Kurang  : <70         
Keterangan:
  1. Jika total nilai yang diperoleh adalah 85-100 maka hasil dinyatakan baik.
  2. Jika total nilai yang diperoleh adalah 70-85 maka hasil dinyatakan cukup.
  3. Jika total nilai yang diperoleh adalah kurang dari <70 maka hasil dinyatakan baik

2.9 Lembar Evaluasi Supervisi Keperawatan
 
Masalah
Penyabab
Solusi




                                                                                        Kota, Tanggal Bulan Tahun
    Supervisor                                                                   Perawat yang di supervisi


        TTD                                                                                 TTD
(                       )                                                           (                                   )



DAFTAR PUSTAKA
 
Nursalam. 2007. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional (Edisi2). Jakarta: Salemba Medika

Gillies.19VIII9. Manajemen Keperawatan suatu  pendekatan sistem. Edisi Terjemahan. Alih Bahasa Dika Sukmana dkk. Jakarta

Suarli dan Bahtiar. 2009. Manajemen keperawatan. Jakarta: Erlangga

Arwani & Heru Supriyatno. 2006. Manajemen Bangsal keperawatan. Jakarta: EGC

Wiyana, Muncul. 2008. Supervisi dalam Keperawatan. Diunduh http://www.akpermadiun.ac.id/index.php?link=artikeldtl.php&id=3 pada tanggal 7 Oktober 2015

Nursalam. 2014. Manajemen keperawatan: aplikasi dalam praktik keperawatan professional (edisi 4). Jakarta: salemba medika

Cohen L. Elaine, Toni G. Cesta. 2005. Nursing Case Management From Essentials to Advanced Practice Applications 4th edition. Missouri: Elsevier Mosby

Roussel, Linda A, Russel C. swansburg, Richard J. Swanburg. 2003. Management and Leadership for Nurse Administrator 4th edition. Toronto: Jones and Barlett Publishers.
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/03/pengawasan_dan_pengendalian_dlm_pelayanan_keperawatan.pdf
SudaryantoA.https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/510/4h.pdf?sequence=1. Iakespada 01September2015




0 comments:

Post a Comment

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.