السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Wednesday, 2 September 2015

Gelombang Baru Gerakan Mahasiswa

Hari ini kita melihat sebuah fenomena menjamurnya gerakan-gerakan komunitas. Banyak komunitas-komunitas baru bermunculan dengan tujuan dan pola gerakannya masing-masing. Ada komunitas mengajar anak jalanan, komunitas membina masyarakat urban, komunitas peduli lingkungan dll. Gerakan-gerakan komunitas ini seolah men”dilusi” gerakan-gerakan aktivis yang bisa kita sebut dengan gerakan modern yang familiar dengan gerakan frontal menentang kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Gerakan-gerakan modern hari ini kurang terdengar gaungnya. Apakah ini menunjukkan gerakan modern dianggap sudah tidak relevan lagi dengan zaman pemuda hari ini? Apakah gerakan-gerakan komunitas dianggap lebih cocok untuk mengentas problematika bangsa?

Arti

Gerakan modern merupakan bentuk gerakan yang muncul di era berkembangnya modernisme Eropa. Gerakan ini memiliki struktur yang jelas, AD/ART atau semacam peraturan internal, blue print program kerja yang lebih luas dan paten. Organisasi intrakampus yang biasa kita kenal seperti BEM, LDK, DPM, atau organisasi ekstra kampus seperti KAMMI, IMM, HMI dll merupakan bentuk organisasi gerakan modern.

Sejarah gerakan modern mahasiswa diawali dengan munculnya organisai pasca-kemerdekaan yang pertama yaitu Himpunan Mahasiswa Islam atau yang kita kenal dengan singkatan HMI yang berdiri pada tahun 1947, kemudia disusul Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pada tahun 1953. Organisasi ekstra kampus lainnya setelah itu mulai bermunculan.

Gerakan post-modern atau bisa disebut sebagai gerakan berbasis komunitas merupakan sebuah gerakan yang beberapa tahun terakhir tengah “naik daun”. Gerakan ini menjamur, dan banyak digandrungi pemuda khususnya mahasiswa. Gerakan ini memiliki organisasi dengan struktur yang sederhana dan tidak baku, program kerja yang lebih spesifik, biasanya hanya satu atau dua program kerja yang aplikatif, memiliki roda organisasi yang bisa dijalankan dengan fleksibel baik waktu maupun tempat, serta tidak terikat dengan birokrasi.

Organisasi gerakan post-modern dapat muncul dan bubar sewaktu-waktu sebab motor pergerakan organisasi ini adalah niat, kesanggupan, dan keinginan tiap anggotanya. Anggota tidak memiliki kewajiban untuk terus menjalankan organisasi, karena tidak ada peraturan yang mengikat.

Melejitnya gerakan post modern

Menjamurnya gerakan post-modern, sehingga membuat gerakan komunitas semakin familiar di kalangan mahasiswa bukan tanpa sebab. Gerakan post-modern memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh gerkan modern. Seperti pola gerakan yang fleksibel dan sederhana. Seolah memfasilitasi siapapun untuk ikut dan berpartisipasi. Siapapun dapat berkontribusi dalam gerakan ini, dan tidak memerlukan status keanggotaan resmi dengan persyaratan dan kualifikasi tertentu. Untuk mengundurkan diri dari gerakan inipun tidak memerlukan mekanisme tertentu sebagimana yang ada di sistem gerakan modern. Hal ini membuat siapapun bisa menyesuaikan keikutsertaannya dalam gerakan post-modern berdasarkan jadwal pribadi, bahkan keinginan, dan kemauannya. System gerakan ini membuat mahasiswa yang study oriented sekalipun akan nyaman di dalamnya. Sistem yang “mudah”, dan “sederhana” ini menjadi daya tarik tersendiri.

Sedangkan gerakan modern, yang memiliki struktur baku, peraturan AD/ART yang jelas dan mengikat terlihat seperti organisasi yang menyeramkan. Ada serangkaian proses dan kualifikasi untuk bisa menjadi anggota resmi. Dalam pola gerakan modern, juga terdapat sistem pengkaderan dan transfer value untuk membekali anggotanya dengan ideologi yang kuat terhadap organisasinya. Bagi mahasiswa yang “moh ribet” tentu gerakan modern ini terlihat memiliki iklim yang kurang nyaman.

Gerakan post-modern atau gerakan komunitas mungkin dapat dikatakan sebagai gerakan horizontal atau bisa kita sebut gerakan yang bisa menjangkau masyarakat. Gerakan ini turun langsung ke masyarakat dan mencoba menjadi problem solver problematika faktual pada obyek masyarakat yang dituju. Kita ambil contoh gerakan komunitas mengajar anak-anak jalanan. Mereka berfokus untuk menyelesaikan permasalahan spesifik obyek masyarakat yang dituju yaitu anak-anak jalanan di suatu tempat tertentu, tujuannya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak jalanan tersebut. Fokus gerakannya pastilah mengajar anak-anak jalanan. Gerakan-gerakan ini justru yang seringkali diekspos karena dianggap lebih dirasakan oleh masyarakat dan lebih nyata memberikan solusi serta lebih kooperatif dengan pemerintah.

Sedangkan gerakan modern memiliki gerakan yang lebih konfontratif terhadap pemerintah, kritis terhadap kebijakan, atau bisa kita sebut gerakan vertical. Gerakan vertikal bisa mempengaruhi dan mengubah sistem maupun kebijakan dan sifatnya lebih berdampak luas terhadap masyarakat. Namun, seringkali gerakan ini dilabel sebagai gerakan yang hanya senang demonstrasi, “minim aksi” dan kurang merakyat.

Akankah ke depan, gerakan modern masih laku? Masihkah gerakan modern ini diperlukan, atau gerakan post-modern saja sudah cukup untuk memecahkan permasalahan negeri ini?

Bagaimana?

Seyogyanya tujuan kedua gerakan ini adalah sama yaitu mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan menjadi problem solver problematika bangsa. Menurut pandangan saya, kedua gerakan ini dibutuhkan dan bahkan harus ada.

Mengentas permasalah di Indonesia bisa kita analogikan seperti menangani Anemia. Anemia merupakan keadaan dimana tubuh kekurangan sel darah merah. Akibatnya tubuh menjadi lemah dan pucat karena kekurangan komponen biologis untuk mengangkut oksigen dimana oksigen merupakan sumber energy tubuh. Anemia berat bisa mengancam nyawa seseorang bila tidak ditangani dengan intensif dan segera. Untuk menangani Anemia berat setidaknya memerlukan 2 tatalaksana utama, yaitu memberikan tranfusi darah untuk mencukupi kadar sel darah merah guna mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Kemudian, menangani factor kausatif (penyebab) anemia tersebut. Misal karena perdarahan, atau karena sumsum tulang yang notabene “pabrik” dari sel darah merah yang gagal melakukan produksi sel darah secara adekuat.

Bangsa ini memiliki banyak sekali problematika. Seperti Anemia berat, bangsa ini perlu penanganan yang intensif dan segera. Gerakan modern dan post-modern merupakan 2 komponen yang diperlukan untuk menangani problematika tersebut. Gerakan post-modern yang memiliki gerakan horizontal, bergerak memberikan solusi langsung di masyarakat. Gerakan modern dapat mempengaruhi system dan kebijakan pemerintah untuk mengentas permasalahan bangsa ini. Gerakan post-modern tanpa gerakan modern hanya akan mengatasi permasalahan parsial karena factor kausatifnya ada di pemerintahan yang notabene memiliki power untuk membuat perubahan besar terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. Tetapi masyarakat juga memerlukan solusi dan bantuan segera yang bisa langsung menjangkau dan menyentuh mereka. Gerakan post-modern bisa lebih cocok untuk menangani hal tersebut. Bila kedua gerakan ini bergerak harmonis, dapat menjadi kekuatan untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Tantangannya sekarang adalah, bisakah kedua gerakan ini berjalan harmonis? Ke depan, saya yakin kedua gerakan ini akan saling menunjukkan gigi, dan eksistensinya. Hal ini akan berdampak baik bila dilakukan dalam rangka fastabiqul khoirot memberikan solusi untuk bangsa bukan untuk menunjukkan siapa yang terbaik. Budaya ikut-ikutan dan “asal nimbrung” merupakan salah satu faktor yang mengaburkan cita-cita besar sebuah gerakan akibatnya adalah lahirnya gerakan yang melenceng dari cita-cita untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan menjadi problem solver negeri ini. Entah itu gerakan yang tujuannya hanya untuk ajang riya’, menunjukkan siapa aku dan siapa kami, siapa yang lebih baik dan tidak lebih baik. Oleh karena itu, ideology dan visi gerakan merupakan susuatu yang sangat vital. Siapapun yang ikut dalam barisan sebuah gerakan harus memiliki ideologi dan visi yang besar.

Oleh : Rio Cristianto




0 comments:

Post a Comment

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.