السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Tuesday, 23 December 2014

Demensia

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

  1. Gangguan Kognitif
  1. Pengertian Gangguan Kognitif
Kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberikan rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan ( Stuart and Sundeen, 1987). Gangguan kognitif merupakan gangguan atau kerusakan pada fungsi otak yang lebih tinggi dan dapat memberikan efek yang merusak pada kemampuan individu untuk melakukan fungsi kehidupan sehari-hari sehingga individu tersebut lupa nama anggota keluarga atau tidak mampu melakukan tugas rumah tangga harian atau melakukan higine personal (Caine & Lyness, 2000). Gangguan kognitif erat kaitannya dengan fungsi otak, karena kemampuan pasien untuk berpikir akan dipengaruhi oleh keadaan otak.

Respon kognitif yang ditimbulkan berbeda dan tergantung pada bagian yang mengalami gangguan. Perubahan dalam perilaku juga akan terjadi.  Pada kasus delirium akan terjadi gangguan pada proses pikir, sedangkan pada demensia akan mengalami respon kognitif yang maladaptip. Respon kognitif maladaptif meliputi ketidakmampuan untuk membuat keputusan, kerusakan memori dan penilaian, disorientasi, salah persepsi, penurunan rentang perhatian, dan kesulitan berfikir logis.Respon tersebut dapat terjadi secara episodic atau terjadi terus menerus.Suatu kondisi dapat reversible atau ditandai dengan penurunan fungsi secara progesif tergantung stressor.

Fungsi Otak
  1. Lobus Frontalis
Pada bagian lobus ini berfungsi untuk proses belajar: abstraksi, alasan.
  1. Lobus Temporal
Diskriminasi bunyi, perilaku verbal, berbicara.
  1. Lobus Parietal
Diskriminasi waktu, fungsi somatic, fungsi motoric.
  1. Lobus Oksipitalis
Diskriminasi visual, diskriminasi beberapa aspek memori.
  1. Sistim Limbik
Perhatian, flight of idea, memori, daya ingat

Secara umum apabila terjadi gangguan pada otak, maka seseorang akan mengalami gejala yang berbeda, sesuai dengan daerah yang terganggu yaitu:
  1. Gangguan pada lobus frontalis akan ditemukan gejala-gejala sbb:
  1. Kemampuan memecahkan masalah berkurang
  2. Implisif
  3. Regresi
  1. Gangguan pada lobus temporalis akan ditemukan gejala sbb:
  1. Amnensia
  2. Dimensia
  1. Gangguan pada lobus parietalis dan oksipitalis akan ditemukan gejala-gejala yang hamper sama, tapi secara umum akan terjadi disorientasi.
  2. Gangguan pada sistim limbic akan menimbulkan gejala yang bervariasi antara lain:
  1. Gangguan daya ingat
  2. Memori
  3. Disorientasi

  1. Faktor yang Mempengaruhi Gangguan Kognitif
Respon kognitif pada umumnya merupakan akibat dari gangguan biologis pada fungsi system saraf pusat. Factor yang mempengaruhi individu mengalami gangguan kognitif temasuk:
  1. Gangguan suplai oksigen, glukosa, dan zat gizi dasar yang penting lainnya ke otak
  2. Degenerasi yang berhubungan dengan penuaan
  3. Pengumpulan zat beracun dalam jaringan otak
  4. Penyakit Alzheimer
  5. Human Immunodeficiency Virus (HIV)
  6. Penyakit hati kronik
  7. Penyakit ginjal kronik
  8. Defisiensi vitamin (terutama thiamin)
  9. Malnutrisi
  10. Abnormalitas genetik
Gangguan jiwa mayor seperti skizofrenia, gangguan bipolar, gangguan ansietas dan depresi, juga dapat mempengaruhi fungsi kognitif.

  1. Stressor yang Berpengaruh terhadap Gangguan Kognitif
Setiap serangan mayor pada otak cenderung mengakibatkan gangguan fungsi kognitif. Berikut ini merupakan kategori stressor:
  1. Hipoksia
  2. Gangguan metabolic, termasuk hipertirodisme, hipotiroidisme, hipoglikemi, hipopituitarisme, dan penyakit adrenal.
  3. Toksisitas dan infeksi
  4. Respon yang berlawanan terhadap pengobatan
  5. Perubahan struktur otak, seperti tumor atau trauma
  6. Kekurangan atau kelebihan sensori
Stressor spesifik yang berhubungan dengan gangguan kognitif sering kali tidak dapat diidentifikasi, walaupun hal ini berubah secara cepat saat ilmu pengetahuan tentang saraf meningkat, secara umum, ketika mengkaji respon kognitif maladaptive, penyebab fisiologis disingkirkan terlebih dahulu, kemudian stressor psikososial dipertimbangakn. Walaupun ada factor fisiologis, stress psikososial dapat mengganggu proses fikir individu. Oleh karena itu, penilaian stressor individu sangat penting.

  1. Mekanisme Koping pada Pasien dengan Gangguan Kognitif
Respon idividu termasuk kekuatan dan ketrampilan. Pemberi perawatan dapat bersifat mendukung dan juga dapat memberikan informasi tentang karakteristik kepribadian, kebiasaan dan rutinitas individu. Self-help group dapat menjadi sumber koping yang efektif bagi pemberi perawatan.

Cara individu menghadapi secara emosional respon kognitif maladaptive sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang lalu. Individu yang mengembangkan mekanisme koping yang efektif pada masa lalu akan lebih mampu mengatasi awitan masalah kognitif daripada individu yang telah mempunyai masalah koping. Mekanisme koping yang biasanya digunakan mungkin berlebihan ketika individu mencoba beradaptasi terhadap kehilangan kemampuan kognitif.

Karena gangguan perilaku yang mendasar pada delirium adalah perubahan kesadaran, yang mencerminkan gangguan biologis yang berat dalam otak, mekanisme koping psikologis pada umumnya tidak digunakan. Dengan demikian perawat harus melindungi pasien dari bahaya dan mengganti mekanisme koping individu dengan tetap menorientasikan pasien dan mendorongnya menghadapi realitas.

Perilaku yang menunjukkan upaya seseorang yang mengalami demensia untuk mengatasi kehilangan kemampuan kognitif dapat meliputi kecurigaan, permusuhan, bercanda, depresi, seduktif, dan menarik diri. Mekanisme pertahanan ego yang mungkin teramati pada pasien yang mengalami gangguan kognitif meliputi regresi, penyangkalan, kompensasi.

  1. Definisi Demensia
Demensia  merupakan  keadaan  ketika  seseorang  mengalami  penurunan  daya ingat dan daya pikir lain yang secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari- hari (Nugroho, 2008). Sementara itu menurut Lumbantobing (1995) demensia adalah himpunan  gejala  penurunan  fungsi  intelektual,  umumnya  ditandai  terganggunya minimal tiga fungsi yakni bahasa, memori, visuospasial, dan emosional.

Demensia merupakan suatu defisit yang didapat dalam fungsi intelektual, termasuk gangguan bahasa, kognisi (perhitungan, pertimbangan, dan abstraksi), kepribadian (termasuk alam perasaan dan perilaku), keterampilan visuospasial, dan ingatan. Awitan mendadak tetapi lebih sering berangsung-angsur, perjalanan waktunya berlarut-larut (secara karakteristik diukur dalam bulan atau tahun), dan hasilnya adalah sementara atau menetap. (Barry Guze, dkk, 1997).

  1. Klasifikasi Demensia
Demensia dapat diklasifikasikan berdasarkan umur, perjalanan penyakit, kerusakan struktur otak, sifat klinisnya dan menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ III).
  1. Menurut Umur:
  1. Demensia senilis (>65th)
  2. Demensia prasenilis (<65th)
  1. Menurut perjalanan penyakit:
  1. Reversibel
  2. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, Defisiensi vitamin B, Hipotiroidism, intoksikasi Pb)
  1. Demensia berhubungan dengan beberapa jenis penyakit.
  1. Penyakit yang berhubungan dengan Sindrom Medik: Hal ini meliputi hipotiroidisme, penyakit Cushing, defisiensi nutrisi, kompleks demensia AIDS, dan sebagainya.
  2. Penyakit yang berhubungan dengan Sindrom Neurologi: Kelompok ini meliputi korea Huntington, penyakit Schilder, dan proses demielinasi lainnya; penyakit Creutzfeldt-Jakob, tumor otak, trauma otak,infeksi otak dan meningeal, dan sejenisnya.
  3. Penyakit dengan demensia sebagai satu-satunya tanda atau tanda yang mencolok: Penyakit Alzheimer dan penyakit Pick adalah termasuk dalam kategori ini.
  1. Berdasarkan  PPDGJ  III  demensia  termasuk  dalam  F00-F03 yang merupakan  gangguan mental organik dengan klasifikasinya sebagai berikut :
F 00 Demensia pada penyakit Alzheimer
F00.0 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan onset dini 
F00.1 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan Onset Lambat 
F00.2 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan, tipe tidak khas atau tipe campuran 
F00.9 Demensia pada penyakit Alzheimer YTT (Yang Tidak Tergolongkan) 
F 01 Demensia Vaskular
F01.0 Demensia Vaskular Onset akut 
F01.1 Demensia Vaskular Multi-Infark 
F01.2 Demensia Vaskular Sub Kortikal 
F01.3 Demensia Vaskular campuran kortikal dan subkortikal 
F01.8 Demensia Vaskular lainnya 
F01.9 Demensia Vaskular YTT 
F02 Demensia pada penyakit lain
F02.0 Demensia pada penyakit PICK
F02.1 Demensia pada penyakit Creutzfeldt-Jakob
F02.2 Demensia pada penyakit Huntington
F02.3 Demensia pada penyakit parkinson
F02.4 Demensia pada penyakit HIV
F02.8  Demensia  pada  penyakit  lain  YDT  –YDK  (Yang Di-Tentukan-Yang  Di-Klasifikasikan ditempat lain)
F03 Demensia YTT 
Karakter  kelima  dapat  digunakan  untuk  menentukan  demensia  pada  F00 F03  sebagai
berikut :
1.  .X0 Tanpa gejala tambahan 
2.  .X1 Gejala lain, terutama waham 
3.  .X2 Halusinasi 
4.  .X3 Depresi 
5.  .X4 Campuran lain 

  1. Faktor Predisposisi Demensia
  1. Degenerasi yang berhubungan dengan proses menua.
  2. Gangguan suplai oksigen, glukosa dan zat-zat makanan yang penting untuk fungsi otak:
  1. Arteriosklerotik vaskuler
  2.  Serangan iskemik singkat
  3.  Perdarahan otak
  4.  Gangguan infak pada otak
  1.  Penumpukan racun pada jaringan otak
  2.  Penyakit hati kronik
  3. Penyakit ginjal kronik
  4. Kekurangan vitamin (B1 atau Tiamin)
  5. Malnutrisi
  6. Penyakit HIV

  1. Faktor Presipitasi Demensia
Setiap kelainan atau gangguan pada otak dapat menjadi faktor presipitasi pada gangguan kognitif. Kelainan tersebut antara lain:
  1. Hipoksia
  2. Gangguan metabolism (Hipertiroidisme, Hipotiroidisme, Penyakit Adrenal, Hipoglikemia)
  3. Racun pada otak
  4. Adanya perubahan struktur pada otak
  5. Stimulus lingkungan yang kurang atau berlebih yang mengakibatkan gangguan sensori
  6. Respon perlawanan terhadap pengobatan

  1. Etiologi
Demensia mempunyai banyak penyebab, tetapi demensia tipe Alzheimer dan demensia vaskular sama-sama berjumlah 75 persen dari semua kasus. Penyebab demensia lainnya yang disebutkan dalam DSM-IV adalah penyakit Pick, penyakit Creutzfeldt-Jakob, penyakit Parkinson, Human Immunodeficiency Virus (HIV), trauma kepala, Obat-obatan.
  1. Patofisiologi Jenis – Jenis Demensia
  1. Demensia tipe Alzheimer
Penyakit Alzheimer adalah suatu jenis demensia umum yang tidak diketahui penyebabnya. Penelitian otopsi mengungkapkan bahwa lebih dari setengah penderita yang meninggal karena demensia mengalami penyakit jenis Alzheimer ini. Pada kebanyakan penderita, berat kasar otak pada saat otopsi jauh lebih rendah dan ventrikel dan sulkus jauh lebih besar dibandingkan yang normal untuk seukuran usia tersebut. Demielinasi dan peningkatan kandungan air pada jaringan otak ditemukan berdekatan dengan ventrikel lateral dan dalam beberapa daerah lain di bagian dalam hemisfer serebrum pada penderita manula, khususnya mereka yang menderita penyakit Alzheimer.

Pada penderita dengan demensia jenis Alzheimer terdapat peningkatan dramatis (dibandingkan dengan penderita manula normal) dalam jumlah kekusutan neurofibril dan plak neuritik dan juga penurunan 60-90 persen dalam kadar kolin asetiltransferase (enzim yang menghasilkan sintesis asetilkolin) di korteks.
  1. Demensia Vaskular
Penyebab utama dari demensia vaskular dianggap adalah penyakit vaskular serebral yang multipel, yang menyebabkan suatu pola gejala demensia. Gangguan dulu disebut sebagai demensia multi-infark dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ketiga yang di revisi (DSM-III-R). Demensia vaskular paling sering pada laki-laki, khususnya pada mereka dengan hipertensi yang telah ada sebelumnya atau faktor risiko kardiovaskular lainnya. Gangguan terutama mengenai pembuluh darah serebral berukuran kecil dan sedang, yang mengalami infark menghasilkan lesi parenkim multipel yang menyebar pada daerah otak yang luas. Penyebab infark mungkin termasuk oklusi pembuluh darah oleh plak arteriosklerotik atau tromboemboli dari tempat asal yang jauh (sebagai contohnya katup jantung). Suatu pemeriksaan pasien dapat menemukan bruit karotis, kelainan funduskopi, atau pembesaran kamar jantung.
  1. Penyakit Pick
Berbeda dengan distribusi patologi parietal-temporal pada penyakit Alzheimer, penyakit Pick ditandai oleh atrofi yang lebih banyak dalam daerah frontotemporal. Daerah tersebut juga mengalami kehilangan neuronal, gliosis, dan adanya badan Pick neuronal yang merupakan massa elemen sitoskeletal. Badan Pick ditemukan pada beberapa spesimen postmortem tetapi tidak diperlukan untuk diagnosis. Penyebab penyakit Pick tidak diketahui. Penyakit Pick berjumlah kira-kira lima persen dari semua demensia yang irreversibel. Penyakit ini paling sering terjadi pada laki-laki, khususnya mereka yang mempunyai sanak saudara derajat pertama dengan kondisi tersebut. Penyakit Pick sulit dibedakan dari demensia tipe Alzheimer, walaupun stadium awal penyakit Pick lebih sering ditandai oleh perubahan kepribadian dan perilaku, dengan fungsi kognitif lain yang relatif bertahan.
  1. Penyakit Creutzfeldt-Jakob
Penyakit Creutzfeldt-Jakob adalah penyakit degeneratif otak yang jarang, yang disebabkan oleh agen yang progresif secara lambat, dan dapat ditransmisikan (yaitu, agen infektif), paling mungkin suatu prion, yang merupakan agen proteinaseus yang tidak mengandung DNA atau RNA. Penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan prion adalah scrapie (penyakit pada domba), kuru (suatu gangguan degeneratif sistem saraf pusat yang fatal pada suku di dataran tinggi Guinea dimana prion ditransmisikan melalui kanibalisme ritual), dan sindroma Gesrtman-Straussler (suatu demensia progresif, familial, dan sangat jarang). Semua gangguan yang yang berhubungan dengan prion menyebabkan degenerasi berbentuk spongiosa pada otak, yang ditandai dengan tidak adanya respon imun inflamasi.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa pada manusia penyakit Creutzfeldt-Jakob dapat ditransmisikan secara iatrogenik, melalui transplantasi kornea atau instrumen bedah yang terinfeksi. Tetapi, sebagian besar penyakit, tampaknya sporadik, mengenai individual dalam usia 50-an. Terdapat bukti bahwa periode inkubasi mungkin relatif singkat (satu sampai dua tahun) atau relatif lama (delapan sampai 16 tahun). Onset penyakit ditandai oleh perkembangan tremor, ataksia gaya berjalan, mioklonus, dan demensia. Penyakit biasanya secara cepat progresif menyebabkan demensia yang berat dan kematian dalam 6 sampai 12 tahun. Pemeriksaan cairan serebrospinal biasanya tidak mengungkapkan kelainan, dan pemeriksaan tomografi komputer dan MRI mungkin normal sampai perjalanan gangguan yang lanjut. Penyakit ditandai oleh adanya pola elektroensefalogram (EEG) yang tidak biasa, yang terdiri dari lonjakan gelombang lambat dengan tegangan tinggi.
  1. Penyakit Binswanger
Penyakit Binswanger juga dikenal sebagai ensefalopati arteriosklerotik kortikal. Penyakit ini ditandai dengan adanya banyak infark-infark kecil pada substansia alba, jadi menyerang daerah kortikal. Walaupun penyakit Binswanger sebelumnya dianggap sebagai kondisi yang jarang, kemajuan teknik pencitraan yang canggih dan kuat, seperti pencitraan resonansi magnetik (magnetic resonance imaging: MRI), telah menemukan bahwa kondisi tersebut adalah lebih sering daripada yang sebelumnya dipikirkan.
  1. Penyakit Huntington
Penyakit Huntington biasanya disertai dengan perkembangan demensia. Demensia yang terlihat pada penyakit Huntington adalah tipe demensia subkortikal, yang ditandai oleh kelainan motorik yang lebih banyak dan kelainan bicara yang lebih sedikit dibandingkan tipe demensia kortikal (tabel 1). Demensia pada penyakit Huntington ditandai oleh perlambatan psikomotor dan kesulitan melakukan tugas yang kompleks, tetapi ingatan, bahasa, dan tilikan tetap relatif utuh pada stadium awal dan menengah dari penyakit. Tetapi, saat penyakit berkembang, demensia menjadi lengkap dan ciri yang membedakan penyakit ini dari demensia tipe Alzheimer adalah tingginya insidensi depresi dan psikosis, disamping gangguan pergerakan koreoatetoid yang klasik.
  1. Penyakit Parkinson
Seperti penyakit Huntington, parkinsonisme adalah suatu penyakit pada ganglia basalis yang sering disertai dengan demensia dan depresi. Diperkirakan 20 sampai 30 persen pasien dengan penyakit Parkinson menderita demensia, dan tambahan 30 sampai 40 persen mempunyai gangguan kemampuan kognitif yang dapat diukur. Pergerakan yang lambat pada pasien dengan penyakit Parkinson adalah disertai dengan berpikir yang lambat pada beberapa pasien yang terkena, suatu ciri yang disebut oleh beberapa dokter sebagai bradifenia (bradyphenia).
  1. Demensia yang berhubungan dengan HIV
Infeksi dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) seringkali menyebabkan demensia dan gejala psikiatrik lainnya. Pasien yang terinfeksi dengan HIV mengalami demensia dengan angka tahunan kira-kira 14 persen. Diperkirakan 75 persen pasien dengan sindroma immunodefisiensi didapat (AIDS) mempunyai keterlibatan sistem saraf pusat saat otopsi. Perkembangan demensia pada pasien yang terinfeksi HIV seringkali disertai oleh tampaknya kelainan parenkimal pada pemeriksaan MRI.
  1. Demensia yang berhubungan dengan Trauma Kepala
Demensia dapat merupakan suatu sekuela dari trauma kepala, demikian juga berbagai sindroma neuropsikiatrik.

  1. Tanda dan Gejala Demensia
  1. Kehilangan memori (tahap awal, kehilangan memori yang baru seperti lupa sedang memasak makanan di kompor; tahap selanjutnya, kehilangan memori masa lalu seperti melupakan nama anak-anak, pekerjaan)
  2. Penurunan fungsi bahasa (melupakan nama benda umum seperti kursi, meja, mengulangi suara (palialia), dan mengulangi kata-kata yang didengar (ekolalia)
  3. Kehilangan kemampuan berfikir abstrak dan merencanakan, memulai, mengurutkan, memantau, atau menghentikan perilaku yang kompleks (kehilangan fungsi eksekutif): klien kehilangan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri.

  1. Penatalaksanaan
Demensia dapat disembuhkan bila tidak terlambat. Secara umum, terapi pada demensia adalah perawatan medis yang mendukung, memberi dukungan emosional pada pasien dan keluarganya, serta farmakoterapi untuk gejala yang spesifik. Terapi simtomatik meliputi diet, latihan fisik yang sesuai, terapi rekreasional dan aktivitas, serta penanganan terhadap masalah-masalah lain. Sebagai farmakoterapi, benzodiazepin diberikan untuk ansietas dan insomnia, antidepresan untuk depresi, serta antipsikotik untuk gejala waham dan halusinasi.

Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensiadiantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasamengoptimalkan fungsi otak, seperti :
  1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan.
  2. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari.
  3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif
    Contoh: Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
  4. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat.
  5. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.

  1. Prognosis
Prognosis tergantung usia timbulnya, tipe demensia, dan berat deteriorasi. Pasien dengan onset yang dini dan ada riwayat keluarga dengan demensia mempunyai perjalanan penyakit yang lebih progresif.
Jalannya penyakit progesif, demensia makin lama makin berat sehingga akhirnya penderita hidup secara vegetatif saja, walaupun demikian penderita hidup selama 10 tahun atau lebih setelah gejala-gejala menjadi nyata.

  1. Perbandingan Delirium dan Demensia
Perbedaan
Delirium
Demensia
Awitan
Cepat (beberapa jam sampai beberapa hari)
Bertahap (bertahun-tahun)
Proses gangguan
Fluktuasi luas; dapat berlangsung terus selama beberapa minggu jika penyebab tidak diketahui
Kronik; lambat namun terus menurun
Tingkat kesadaran
Berfluktuasi dari waspada hingga sulit untuk dibangunkan
Normal
Orientasi
Pasien mungkin tampak disorientasi
Pasien disorientasi, bingung
Afek
Berfluktuasi
Labil, apatis pada tahap lanjut
Perhatian
Selalu terganggu
Mungkin utuh; pasien dapat memusatkan perhatian pada satu hal untuk waktu yang lama
Tidur
Selalu terganggu
Biasanya normal
Perilaku
Pasien agitasi, gelisah
Pasien mungkin agitasi, apatis, keluyuran
Pembicaraan
Jarang atau cepat; pasien mungkin inkoheren
Jarang atau cepat; berulang-ulang, mungkin inkoheren
Memori
Terganggu, terutama untuk peristiwa yang baru saja terjadi
Terganggu, terutama untuk peristiwa yang sudah lama terjadi
Kognisi
Gangguan berfikir
Gangguan berfikir dan menghitung
Isi piker
Inkoheren, bingung; waham; stereotip
Tidak teratur, kaya isi piker, waham, paranoid
Persepsi
Salah penafsiran, ilusi, halusinasi
Tidak berubah
Penilaian
Buruk
Buruk; perilaku tidak tepat secara social
Daya tilik
Mungkin ada saat-saat berfikir jernih
Tidak ada
Penampilan pada penilaian status mental
Buruk tetapi bervariasi; meningkat saat berfikir jernih dan saat penyembuhan
Secara konsisten buruk; makin memburuk; pasien berupaya menjawab semua pertanyaan





BAB III
Asuhan  Keperawatan


2.12.1 Pengkajian
  1. Identitas
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa /latar belakang kebudayaan, status social, pendidikan, pekerjaan dan alamat.
  1. Keluhan Utama
Keluhan utama yang menyebabkan klien dating berobat (menurut klien dan atau keluarga). Gejala utama adalah kesadaran menurun.
  1. Faktor predisposisi
Menemukan gangguan jiwa yang ada sebagai dasar pembuatan diagnosis serta menentukan tingkat gangguan serta menggambarkan struktur kepribadian yang mungkin dapat menerangkan riwayat perkembangan gangguan jiwa yang terdapat. Dari gejala-gejala psikiatrik tidak dapat diketahui etiologi penyakit badaniah itu, tetapi perlu di lakukan pemeriksaan intern dan nerologik yang teliti. Gejala tersebut lebih ditentukan oleh keadaan jiwa premorbidnya, mekanisme pembelaan psikologinya, keadaan psikososial, sifat bantuan dari keluarga, teman dan petugas kesehatan, struktur social serta cirri-ciri kebudayaan sekelilingnya. Ganguan jiwa yang psikotik atau nonpsikotik yang disebabkan oleh gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan funsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengennaik otak(meningoensephalitis, gangguan pembuluh darah otak, tumor otak dan sebagainya) atau yang terutama diluar otak atau tengkorak (tifus, endometriasis, payah jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi dan sebagainya).
  1. Pemeriksaan fisik
Kesadaran yang menurun dan sesudahnya terdapat amnesia, tensi menurun, takikardi, febris, BB menurun karena nafsu mkan yang menurun dan tidak mau makan.
  1. Psikososial
  1. Genogram: Dari hasil penelitian ditemukan kembar monozigot memberi pengaruh lebih tinggi dari kembar dizigot .
  2. Konsep diri
  1. Gambaran diri, tressor yang menyebabkan berubahnya gambaran diri karena proses patologik penyakit.
  2. Identitas, bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan individu.
  3. Peran, transisi peran dapat dari sehat ke sakit, ketidak sesuaian antara satu peran dengan peran yang lain dan peran yang ragu diman aindividu tidak tahun dengan jelas perannya, serta peran berlebihan sementara tidak mempunyai kemmapuan dan sumber yang cukup.
  4. Ideal diri, keinginann yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kemampuan yang ada.
  5. Harga diri, tidakmampuan dalam mencapai tujuan sehingga klien merasa harga dirinya rendah karena kegagalannya.
  1. Hubungan sosial
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang disingkirkan atau kesepian, yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi. Konsep diri dibentuk oleh pola hubungan sosial khususnya dengan orang yang penting dalam kehidupan individu. Jika hubungan ini tidak sehat maka individu dalam kekosongan internal. Perkembangan hubungan sosial yang tidak adeguat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar mempertahankan komunikasi dengan orang lain, akibatnya klien cenderung memisahkan diri dari orang lain dan hanya terlibat dengan pikirannya sendiri yang tidak memerlukan kontrol orang lain. Keadaa ini menimbulkan kesepian, isolasi sosial, hubungan dangkal dan tergantung.
  1. Spiritual
Keyakinan klien terhadap agama dan keyakinannya masih kuat tetapi tidak atau kurang mampu dalam melaksanakan ibadahnya sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  1. Status mental
  1. Penampilan klien tidak rapid an tidak mampu merawat dirinya sendiri.
  2. Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.
  3. Aktivitas motorik : Perubahan motorik dapat dimanifestasikan adanya peningkatan kegiatan motorik, gelisah, impulsive, manerisme, otomatis, dan steriotipi.
  4. Alam perasaan : klien Nampak ketakutan dan putus asa.
  5. Afek dan emosi (mood)
Perubahan afek terjadi karena klien berusaha membuat jarak dengan perasaan tetentu karena jika langsung mengalami perasaan tersebut dappat menimbulkan ansietas. Keadaan ini menimbulkan adanya perubahan afek yang digunakan klien untuk melindungi dirinya, krena afek yang telah berubah memampukan klien mengingkari dampak emosional yang menyakitkan dari lingkungan eksternal. Respon emosional klien mungkin tampak bisa dan tidak sesuatu karena dating dari kerangka piker yang telah berubah. Perubahan afek adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen.
  1. Interaksi selama wawancara
Sikap klien terhadap pemeriksaan kurang kooperatif, kontak mata kurang.
  1. Persepsi
Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional terhadap suatu obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada satu atau kelima panca indera yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Perubahan persepsi dapat ringan, sedang dan berat atau berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling sering ditemukan adalah halusinasi.
  1. Proses berpikir
Klien yang terganggu pikirannya sukar berperilaku koheren, tindakannya cenderung berdasarkan penilaian pribadi klien terhadap realitas yang tidak sesuai dengan penilaian yang umum diterima.Penilaian realitas secara pribadi oleh klien merupakan penilaian subyektif yang dikaitkan dengan orang, benda atau kejadian yang tidak logis.(Pemikiran autistik). Klien tidak menelaah ulang kebenaran realitas. Pemikiran autistik dasar perubahan proses pikir yang dapat dimanifestasikan dengan pemikian primitf, hilangnya asosiasi, pemikiran magis, delusi (waham), perubahan linguistik (memperlihatkan gangguan pola pikir abstrak sehingga tampak klien regresi dan pola pikir yang sempit misalnya ekholali, clang asosiasi dan neologisme.
  1. Tingkat kesadaran
Kesadaran yang menurun, bingung. disorientasi waktu, tempat dan orang.
  1. Memori
Gangguan daya ingat yang baru saja terjadi )kejadian pada beberapa jam atau hari yang lampau) dan yang sudah lama berselang terjadi (kejadian beberapa tahun yang lalu).
  1. Tingkat konsentrasi.
Klien tidak mampu berkonsentrasi
  1. Kemampuan penilaian
Gangguan ringan dalam penilaian atau keputusan.

2.12.2 Analisa Data
Data
Etiologi
Masalah Keperawatan
Data Subjektif:
  1. Pasien menyatakan susahberkonsentrasi/berfokus, dan sering lupa
  2. Pasien menyatakan sedih dan putus asa
Data Objektif:
  1. Pasien terlihat bingung dan susah memusatkan perhatian
  2. Afek pasien datar dan pembicaraan apatis
  3. Pasien terlihat agnosia, apraksia, afasia

disfungsi otak

Susah berkonsentrasi dan berfokus

Agnosia, apraksia, afasia

Gangguan proses pikir
Gangguan proses pikir
Data Subjektif
  1. Pasien mengeluh sering lupa, bingung, cemas
Data Objektif :
  1. Pasien suka berkeluyuran atau mondar-mandir
  2. Gangguan orientasi ruang, waktu dan tempat
  3. Menarik diri dari aktivits sosial yang biasa
Disfungsi otak

Gangguan orientasi ruang, waktu dan tempat


Gangguan proses pikir
Perubahan proses pikir
Data Subjektif:
  1. Pasien mengatakan jarang mandi dan membersihkan diri
Data Objektif:
  1. Penampilan pasien terlihat buruk
  2. Perhatian pasien terhadap kebersihan pribadi menurun

Disfungsi otak

Kurang perhatian pasien terhadap kebersihan diri

Penampilan pasien buruk


Defisit perawatan diri

Defisit perawatan diri
Data Subjektif :
  1. Pasien menyatakan makan 1x sehari
  2. Pasien mengeluhkan adanya penurunan menelan

Data Objektif :
  1. BB turun 10 %
  2. Pasien terlihat lemah
  3. Pasien mudah tersinggung dan bingung
  4. Penurunan albumin serum





Disfungsi otak

Perubahan afek, emosi

Nafsu makan turun

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh








Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Data Subjektif :
  1. Pasien mengeluhkan susah tidur

Data Objektif :
  1.  Pasien terlihat pucat dan susah konsentrasi
  2. Pasien suka berkeluyuran atau mondar-mandir
Disfungsi otak
Susah berkonsentrasi dan berfokus

Susah tidur
Gangguan pola tidur


Perubahan pola tidur















































































2.12.3 Pohon Masalah

AFEK
Defisit perawatan diri                   Nutrisi kurang dari kebutuhan        Perubahan pola tidur
CORE
 Perubahan proses pikir           
CAUSA
 G. Konsep diri: Harga diri rendah

Koping individu tidak efektif
(Sumber : Sadocket al (2007))

2.12.4 Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
  1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan  perubahan proses pikir
  2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan perubahan proses pikir
  3. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan proses pikir
  4. Perubahan proses pikir berhubungan dengan harga diri rendah
Intervensi Keperawatan
  1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d perubahan proses pikir
TUM: Klien dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya secara mandiri
TUK: -Klien dapat meningkatkan asupan nutrisi secara mandiri
-Klien bersedia mengerjakan intruksi dari perawat untuk mengenal perubahan pola perilaku pada dirinya
Kriteria hasil:
  1. Klien akan makan-makanan bergizi dengan seimbang
  2. Klien mampu mempertahankan atau penambahan berat badan dengan tepat
Intervensi
Rasional
  1. Tentukan jumlah intake seimbang yang diperlukan klien sesuai kondisi
  2. Tawarkan makanan ringan satu atau dua jenis selama satu hari sesuai indikasi.
  1. Asupan nutrisi perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang berhubungan dengan individu.
  2. Makanan porsi kecil dapat memperkuat asupan yang sesuai. Membatasi jenis makanan yang ditawarka pada satu waktu mengurangi kebingungan yang berkaitan dengan pilihan makanan.

  1. Defisit perawatan diri berhubungan dengan perubahan proses pikir
TUM: Klien mampu merawat dirinya dan menjaga penampilannya
TUK: -Klien dapat melakukan perawatan secara mandiri
         -Klien dapat mengenal dan mengontrol pola perilakunya
Kriteria Hasil:
  1. Klien dapat mandi sendiri tanpa paksaan.
  2. Klien dapat berpakaian sendiri dengan rapi dan bersih.
  3. Klien dapat menyikat giginya sendiri dengan bersih.
  4. Klien dapat merawat kukunya sendiri.
Intervensi
Rasional
  1. Libatkan klien untuk makan bersama diruang makan.
  2. Menganjurkan klien untuk mandi.
  3. Menganjurkan pasien untuk mencuci baju.
  4. Membantu dan menganjurkan klien untuk menghias diri.
  5. Membantu klien untuk merawat rambut dan gigi.
  1. Sosialisasi bagi klien sangat diperlukan dalam proses menyembuhkannya.
  2. Pengertian yang baik dapat membantu klien dapat mengerti dan diharapkan dapat melakukan sendiri.
  3. Diharapkan klien mandiri.
  4. Diharapkan klien mandiri.
  5. Diharapkan klien mandiri

  1. Gangguan pola tidur b.d perubahan proses pikir
TUM : Klien mampu mengatasi gangguan pola tidur yang dialami
TUK: -Klien dapat beristirahat seperti sebelumnya
-Klien dapat melakukan strategi koping yang adekuat
Kriteria hasil:
  1. Klien mampu membangun pola tidur yang adekuat dengan pengurangan kegiatan yang tidak berguna.
  2. Klien akan mempertahankan keseimbangan aktifitas dan istirahat
Intervensi
Rasional
  1. Berikan waktu untuk istirahat yang adekuat.





  1.  Sediakan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi, menggosok atau memijat bagian punggung dengan pelembab.
  2. Kurangi asupan cairan pada malam hari. Ke kamar mandi sebelum tidur

  1. Alunkan musik yang lembut atau ”suara lembut”.

Kolaborasi
  1. Berikan medikasi sesuai indikasi untuk tidur.
  1. Antidepresan
Misal: amitriptilin (elavil), doksepin (sinequan)

  1. Hipnotik-sedatif
Misal: kloral hidrat (noctec), oksazepam (serax), triazolam (halcion).
  1. walaupun aktifitas fisik dan mental yang panjang menyebabkan kelelahan yang dapat meningkatkan konfusi, aktifitas terprogram tanpa stimulasi berlebihan  akan meningkatkan tidur.
  1. Memberikan rasa relaksasi dan ras kantuk serta membantu memenuhi kebutuhan perawatan kulit.
  2. Mengurangi kebutuhan untuk bangun ke kamar mandi/inkontinensia pada malam hari.
  3. Mengurangi stimulasi sensori dengan memblok suara dari lingkungan yang dapat mengganggu istirahat tidur.


  1. Mungkin efektif dalam menangani pseudodemensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur.
  2. Bila digunakn dengan hemat, hipnotik dosis rendah efektif dalam mengatasi insomnia, atau” sundowner”.

  1. Perubahan proses pikir berhubungan dengan harga diri rendah
TUM: Klien mampu memahami dan mengontrol harga dirinya
TUK: - Klien dapat mengenal perubahan proses pikirnya, waktu terjadinya, frekuensinya
- Klien dapat berkomunikasi dengan orang lain disekitarnya
Kriteria Hasil :
  1. Klien mampu mengenali perubahan dalam berpikir/ bertingkah laku
Intervensi
Rasional
  1. Meningkatkan komunikasi yang meningkatkan perasaan integritas seseorang
  2. Bantu individu untuk membedakan antara pikiran dengan realita

  1. Berikan individu kesempatan untuk sosialisasi positif
  1. Meningkatkan percaya diri klien dan bisa mengarahkan jika ada perubahan perilaku.
  2. Pikiran yang realistis akan membuat perilaku menjadi realistis.
  3. Dengan bersosialisasi, perilaku yang timbul akan terarah.

  1. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif
TUM: Klien dapat memahami dan mengenal gangguan konsep diri: harga diri rendah pada diri nya
TUK:- Klien dapat melakukan strategi koping yang adekuat
         - Klien mampu berbicara berhadapan dengan orang lain
         - Klien dapat mengenal orang, dan obyek-obyek sekitarnya
Kriteria hasil:
  1. klien dapat menurunkan tingkat frustasi, khususnya ketika berpartisipasi dalam aktifitas sehari-hari.
Intervensi
Rasional
Mandiri:
  1. Pertahankan kenyamanan, lingkungan yang tenang




  1. Lakukan pendekatan dengan pola yang lambat dan tenang







  1. Berhadapan dengan individu ketika berbicara



  1. Panggil klien sesuai namanya





  1. Gunakan suara rendah dan bicara dengan  perlahan kepada klien.





  1. Selingi interaksi dengan humor


Kolaborasi:
  1. Berikan obat-obatan sesuai indikasi
    1. Antipsikotik: haloperidol(haldol), tioridasin(mellaril)




  1. Takrin (cognex)

  1. Mengurangi input yang mengganggu, kepadatan, kekacauan, dan suara ribut meningkatkan sensori yang berlebihan yang memperberat kerusakan neuron
  2. Komunikasi non-verbal ini memperkecil kesempatan untuk terjadinya kesalahan interpretasi dan potensi agitasi. Pendekatan yang terburu-buru dapat mengejutkan dan mengancam klien salah menginterpretasikan atau merasa terancam oleh orang dan atau situasi imajiner.
  3. Mempertahankan realitas, meng- ekspresikan ketertarikan, dan meningkatkan perhatian, khususnya pada klien dengan gangguan persepsi
  4. Nama membentuk identitas diri kita dan membangun realitas serta mengenalkan individu. Klien mungkin merespon namanya sendiri lama setelah gagal mengenali nama seseorang.
5. Meningkatkan kesempatan untuk  pemahaman. Suara yang nyaring, nada yang keras mengundang kemarahn dan stres, yang dapat memicu ingatan terutama konfrontasi dan provokasi respon marah.
6. tertawa dapat membantu komunikasi dan membantu mengembalikan labilitas emosional.

  1. Dosis kecil dapat digunakan untuk mengontrol agitasi, delusi, halusinasi. Mellaril sering digunakan karena efek samping ekstrapiramidal yang lebih kecil (misal distonia, akatisia), maslah penglihatan, dan khususnya cara berjalan.
  2. Menungkatkan kadar asetilkolin di korteks serebral untuk mengembangkan fungsi kognitif dan otonomi pada demensia ringan dan sedang. Cognex tampak tidak mengubah perjalanan penyakit, dan efeknya lebih sedikit sejalan dengan kemajuan penyakit. Catatan: obat toksik untuk hati, tapi efeknya reversibel.





2 comments:

  1. Bagi pria, impoten atau masalah disfungsi ereksi menjadi mimpi buruk saat bercinta. Namun wanita pun sebaiknya jangan langsung meninggalkan pasangan yang mengalami kesulitan seperti itu. Jadi coba simak tips menghadapi pria impoten di atas ranjang seperti yang dilansir dari Cosmopolitan berikut ini.

    Bukan salah Anda
    Pada awalnya, wanita merasa bersalah ketika tahu bahwa pasangannya tidak terangsang. Padahal masalah disfungsi ereksi ini bukan sepenuhnya salah wanita. Sebab kondisi kesehatan pria yang sebenarnya menjadi penyebab impotensi.

    Memahami pria
    Pria yang menderita impotensi cenderung enggan bercinta dan membicarakan masalah tersebut pada pasangannya. Jadi wanita pun sebaiknya tidak menjadikannya bahan gurauan. Sebaliknya, pahami posisi pria dan jangan anggap sepele masalah ini.

    Mencari penyebab
    Ada banyak faktor yang bisa memicu disfungsi ereksi. Misalnya stres, kondisi fisik yang lemah, atau pengaruh obat-obatan. Cari tahu penyebab yang sebenarnya dari impotensi pria untuk mengatasinya dengan segera.

    Andrologi | Mengatasi ejakulasi dini

    Infeksi saluran kemih | Gangguan fungsi seksual

    Klik chat | Free chat

    ReplyDelete

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.