السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...... Selamat datang di Sakinah Sehat Kreatif. Dukung kami dengan like fanspage, dan follow twiter kami agar kami dapat terus berbagi dan berkarya. Terima kasih dan Enjoy learning... ^_^

Monday, 11 August 2014

Anoreksia Nervosa

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Definisi Anoreksia Nervosa
Anoreksia Nervosa /AN adalah sebuah gangguan makan yang ditandai dengan kelaparan secara sukarela dan stres dari melakukan latihan. AN merupakan sebuah penyakit kompleks yang melibatkan komponen psikologikal, sosiologikal, dan fisiologikal, pada penderitanya ditemukan peningkatan rasio enzim hati ALT dan GGT, hingga disfungsi hati akut pada tingkat lanjut. Anoreksia nervosa diartikan sebagai sebagai suatu gangguan makan yang terutama menyerang wanita muda dan ditandai oleh penurunan berat badan yang ekstrim dan disengaja oleh diri sendiri,. periode menstruasi yang tidak stabil pada wanita yang telah puber Tanda-tanda Anoreksia Nervosa:Berat badan turun secara drastic,Diet berkelanjutan,Ketakutan bertambah berat badan atau menjadi gemuk, bahkan ketika berat badannya dibawah rata rata,Gejala yang tidak semestinya pada bentuk/ berat badan dalam eveluasi diri,Sibuk menghitung kalori makanan dan nutrisi,Lebih memilih makan sendirian,Latihan berlebih,Rambut atau kuku pecah-pecah dan depresi (Wong, 2008).
Anoreksia nervosa adalah penyakit kelaparan yang disebabkan oleh gangguan citra tubuh berat dan ketakutan terhadap obesitas yang abnormal. Pada anoreksia nervosa,kelainan psikologis yang cukup rumit dan paling sering ditemukan pada remaja putri. Speer(1999) mendefinisikan anoreksia nervosa sebagai suatu kelaianan emosional kompleks yang ditandai dengan penurunan berat badan yang berat dan gangguan citra tubuh, tersiksa karena makanan, dan takut sakit karena obesitas.
Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang mengancam jiwa yang ditandai dengan penolakan klien untuk mempertahankan berat badan normal ynag minimal, gangguan persepsi yang bermakna tentang bentuk atau ukuran tubuh atau menolak untuk mengakui bahwa ada masalah (Videbeck, 2008).
Banyak penelitian yang beranggapan bahwa masalah yang mendasari lebih bersifat psikologis daripada biologis, sebagian pakar mencurigai bahwa pengidap anoreksia nervosa mungkin kecanduan opiate endongen yaitu bahan mirip morpin yang diproduksi sendiri oleh tubuh yang diperkirakan dikeluarkan selama kelaparan jangka panjang (Sherwood, 2001).
Anoreksia nervosa adalah sebuah gangguan makan yang ditandai denga kelaparan secara sukarela dan stres dari melakukan latihan (Muttaqin & Sari, 2011).
Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan dalam batas-batas minimal yang normal untuk tinggi badan, berat tubuh, dan kerangka tubuh. Penurunan berat nadan yang berlebih disangkal dan individu memiliki citra tubuh yang menyimpang. Meskipun kurus, individu merasa gemuk. Selain itu mereka memfokuskan pada ukuran dan bentuk bagian tubuh tertentu.
Ada dua jenis anoreksi nervosa pertama adalah membatasi diri, yaitu individu tersebut sangat membatasi makanan dan memaksa diri menjalankan latihan, sedangkan jenis kedua adalah jenis yang suka makan dan melakukan purgasi ditandai dengan membatasi asuoan makan dan diselingi pesta makan, diikuti melakukan purgasi melalui muntah yang diinduksi sendiri atau memakai ipekak, laksatif (obat cuci perut), diuretik, atau enema (Sowden, 2009).

2.2 Kriteria Anoreksia Nervosa
Berdasarkan kriteria dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV 307.1):
  1. Ketakutan yangg sangat akan menjadi gemuk, dimana ketakutan ini tidak akan berkurang meskipun berat badan turun
  2. Gangguan dalam pandangan tentang berat, ukuran,atau bentuk tubuh (misalnya merasa gemuk bahkan pada saat kurus, atau meyakini bahwa suatu bagian terlalu gemuk walaupun kenyataanya sangat kurus
  3. Menolak untuk mempertahankan berat badan diatas berat normal minimal yang sesuai dengan usia dan tinggi
  4. Pada wanita, tidak mengalami siklus menstruasi paling tidak tiga kali berturut-turut (amenorea primer atau sekunder)

Sedangkan menurut WHO 1992, kriterianya adalah sebagai berikut :
  1. Penurunan berat badan paling sedikit 15 % dari yang seharusnya (IMB) dibawah 17,5. Penurunan berat badan akibtat dari menghindari makanan berlemak, olahraga, dan muntah (purgasi)
  2. Gangguan citra tubuh tidak realistik, melaporkan dirinya gemuk dan berat (menyangkal), merasa gemuk meskipun sudah sangat kurus.
  3. Gangguan pada endokrin pada wanita berupa amenore dan pada pria berupa impotensi dan hilangnya ketertarikan seksual
  4. Apabila terjadi pubertas, perkembangan pubertas tertunda atau terhambat

2.3 Etiologi Anoreksia Nervosa
Meskipun etiologi pasti tidak diketahui, gangguan yang biasnya biasanya berkaitan dengan masaalah psikologis dan perilaku mengurangi makanan dengan inisiatif sendiri, seperti yang biasa dilakukan oleh remaja putri, tetapi perilaku anoreksia secara bertahap menjadi penyebab pengurangan berat badan drastis dan mengurus.
Menurut Doengos, Towsend & Moorhouse (2007), gangguan makan biasanya dikaitkan dengan depresi, ansietas, fobia, dan masalah kognitif. Secara biologis, anoreksia nervosa mungkin disebabkan oleh abnormalitas neuroendokrin dalam hipotalamus.
Ada beberapa faktor yang terlibat dan menjadi penyebab terjadinya anoreksia nervosa, yakni sebagai berikut :
1.      Faktor biologis
Kelaparan menyebabkan banyak perubahan biokimia, beberapa diantaranya juga ditemukan pada depresi, seperti hiperkortisolemia dan nonsupresi oleh deksametason. Terjadi penekanan fungsi tiroid, amenore, yang mencerminkan penurunan kadar hormonal. Kelainan tersebut dapat dikoreksi dengan pemberian makanan kembali.
  1. Faktor sosial
Penderita menemukan dukungan untuk tindakan mereka dalam masyarakat yang menekankan kekurusan dan latihan. Tidak berkumpul dengan keluarga adalah spesifik pada anoreksia nervosa.  Pasien dengan anoreksia nervosa kemungkinan memiliki riwayat keluarga depresi, ketergantungan alcohol, atau suatu gangguan makan.
  1. Faktor psikologis dan psikodinamis
Anoreksia nervosa tampaknya merupakan suatu reaksi terhadap kebutuhan pada remaja untuk menjadi lebih mandiri dan meningkatkan fungsi social dan seksual. Biasanya mereka tidak mempunyai rasa otonomi dan kemandirian, biasanya tumbuh di bawah kendali orang tua. Kelaparan yang diciptakan sendiri (self starvation) mungkin merupakan usaha untuk meraih pengakuan sebgai orang yang unik dan khusus. Hanya memalui tindakan disiplin diri yang tidak lazim pasien anoreksia dapat mengembangkan rasa otonomi dan kemandirian.

2.4 Patofisiologi Anoreksia Nervosa
Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan dalam batas-batas minimal yang normal untuk tinggi badan, berat badan tubuh, dan kerangka tubuh. Penurunan berat badan yang berlebih disangkal dan individu memiliki citra tubuh yang menyimpang. Meskipun kurus, individu merasa gemuk. Selain itu, mereka memfokuskan pada ukuran dan bentuk bagian tubuh tertentu.
Ada dua jenis anoreksia nervosa. Jenis pertama adalah jenis membatasi diri, yaitu individu tersebut sangat membatasi makanan dan memaksa diri menjalankan berbagai latihan, sedangkan jenis yang suka makan dan melakukan purgasi ditandai dengan membatasi asupan makanan dan diselingi masa pesta makan, diikuti melakukan purgasi melalui muntah yang diinduksi sendiri atau memakai ipekak, laksatif (obat cuci perut), diuretik, atau enema. Pemakaian obat pengurang nafsu makan atau pil diet yang berlebihan, termasuk kedalam kedua jenis di atas.
Perilaku purgasi dan setengah puasa dapat menimbulkan ketidakseimbangan elektrolit dan masalah jantung, yang pada akhirnya dapat berakibat fatal. Kondisi kelaparan dapat mengakibatkan berbagai gejala medis. Perubahan kadar hormon pertumbuhan, berkurangnya sekresi hormon kelamin, ketidaksempurnaan pembentukan jaringan sumsum tulang, abnormalitas struktur otak, disfungsi jantung, dan kesulitan gastrointestinal sering terjadi. Masalah terkait anoreksia pada remaja yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan retardasi pertumbuhan, keterlambatan menarke, dan puncak reduksi massa tulang. Bila pola makan normal dapat dimunculkan kembali dan pemakaian laksatif dapat dihentikan, individu tersebut dapat mengalami edema perifer.
Berbagai factor psikologis berhubungan dengan anoreksia nervosa. Rasa harga diri yang rendah sering berperan penting dalam munculnya penyakit ini.
Penurunan berat badan dipandang sebagai suatu pencapaian, dan harga diri menjadi bergantung pada ukuran dan berat tubuh. Terdapat hubungan antara gangguan makan dan mood. Pada beberapa kasus, depresi mayor dapat terjadi karena kurangnya nutrisi. Individu yang engidap anoreksia nervosa bisa kurang spontanitas dalam situasi sosial dan dapat mengalami pembatasan emosional.
Dinamika keluarga dapat berperan dalam perkembangan gejala. Orang tua mungkin saja mengontrol dan terlalu protektif. Gangguan makan dapat terjadi sebagai suatu usaha melawan kontrol yang tidak disadari. Pada beberapa kasus, penurunan berat badan dan hilangnya karakteristik seks sekunder dapat berhubungan dengan kesulitan menerima maturasi menuju kedewasaan. Gangguan makan yang tidak cukup berat untuk memenuhi criteria anoreksia nervosa sering dijumpai pada remaja putri Amerika Serikat dan mencerminkan kurus ideal secara sosiokultural.

2.5 Manifestasi Klinis Anoreksia Nervosa
Ada beberapa manifestasi klinis yang muncul pada pasien dengan anoreksia nervosa, yakni sebagai berikut :
  1. Penurunan berat badan mendadak, tanpa penyebab yang jelas
  2. Tampilan kurus kering, hilangnya lemak subkutan
  3. Perubahan kebiasaan makan, waktu makan yang tidak lazim
  4. Latihan dan aktivitas fisik berlebihan
  5. Amenore
  6. Kulit kering, bersisik
  7. Lanugo pada ekstrimitas, punggung dan wajah
  8. Kulit berubah kekuningan
  9. Gangguan tidur
  10. Konstipasi atau diare kronis, nyeri abdomen, kembung
  11. Erosi esofagus (akibat seringnya muntah)
  12. Depresi alam perasaan
  13. Fokus yang berlebihan terhadap makanan, makan, dan penampilan tubuh
  14. Erosi emai dan dentin gigi pada permukann sisi lingual (efek lanjut akibat seringnya muntah)

2.6 Pemeriksaan Diagnostik Anoreksia Nervosa
Anoreksia nervosa seringkali didiagnosis dengan mengesampingkan penyakit-penyakit medis dan psikiatrik lainnya yang berhubungan dengan penurunan berat badan. Pada saat ini kriteria AN yang jelas dan dapat dipercaya telah diformulasikan berdasarkan tanda dan gejala-gejalanya (Soetjiningsih, 2010). Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi gejal-gejala dari AN adalah sebagai berikut :
  1. Elektrokardiogram (EKG) à bradikardia umum terjadi
  2. Tekanan darah berdiri dan berbaring à untuk mengkaji adanya hipotensi
  3. Kadar urea, elektrolit, kreatinin serum (pada kasus berat, dipantau setiap 3 bulan) à dapat menunjukkan kadar nitrogen urea darah (NUD) yang rendah akibat dehidrasi dan jumlah asupan protein yang tidak adekuat; alkalosis metabolik dan hipokalemia karena muntah
  4. Urinalisis, klirens kreatinin urine (pada kasus berat, dipantau setiap tahun) à pH mungkin naik; mungkin ditemukan keton
  5. Hitung darah lengkap (HDL), hitung trombosit (pada kasus berat, dipantau setiap 3 bulan) à biasanya normal; mungkin terdapat anemia normokromik normositik.
  6. Kadar Glukosa serum (pada kasus berat, dipantau setiap 3 bulan)
  7. Uji fungsi hepar (pada kasus berat, dipantau setiap 3 bulan)
  8. Kadar TSH (thyroid stimulating hormone), kortisol (pada kasus berat dipantau enam bulan sekali)
  9. Densitas tulang (pada kasus berat dipantau setiap tahun) à menunjukkan osteopenia
  10. Komposisi tubuh (pada kasus berat dipantau setiap tahun menggunakan kaliper, atau water immersion)
  11. Adanya hiperkarotenemia (menyebabkan kulit berwarna kuning, juga dikenal sebagai pseudoikterus) à karena diet vegetarian atau penurunan metabolisme

2.7 Penatalaksanaan Anoreksia Nervosa
Penanganan anoreksia nervosa diberikan dengan rawat jalan kecuali bila muncul masalah medis yang berat. Diperlukan pendekatan antardisiplin agar diperoleh hasil yang optimal. Penanganan pasien rawat jalan itu mencakup pemantauan medis, rencana diet untuk memulihkan status nutrisinya, dan psikoterapi. Pendekatan terapeutik meliputi terapi individu, keluarga, dan kelompok. Keterlibatan keluarga sangat diperlukan. Penggunaan pengobatan psikotropik harus dipertimbangkan hanya setelah penambahan berat badan tercapai. Pengobatan dapat dilakukan untuk mengatasi gejal depresi, ansietas, dan perilaku kompulsif-obsesif. Hospitalisasi diindikasikan jika berat badan remaja kurang dari 20% berat badan idealnya atau tidak dapat mengikuti progam pengobatan untuk pasien rawat jalan yang diberikan, atau bila terdapat deficit neurologis, hipokalemia, dan aritmia jantung. Hospitalisasi dibatasi untuk jangka waktu pendek dengan berfokus pada pemulihan berat badan akut dan pemberian makan kembali.
Obat-obat yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
  1. Antidepresan à juga dipakai selective serotonin reuptake inhibitors, (mis., fluoksetin, sentralin, paroksetin) dapat digunakan bila aktivitas kompulsif merupakan komponen penyakit.
  2. Terapi sulih estrogen à dapat digunakan untuk amenore.
Apabila status gizinya sudah baik, maka terapi akan dimulai oleh psikolog. Terapi ini bisa berupa psikoterapi individual, kelompok atau keluarga. Jadi perlu disampaikan pada pasien agar tidak terlalu memikirkan penampilan yang sempurna, apabila hal itu hanya akan merugikan diri sendiri (Muttaqin & Sari, 2011).


2.8 WOC Anoreksia Nervosa
 Faktor Biologis (hiperkortisolemia, amenore, penekanan fungsi tiroid )

Faktor Psikologis & Psikodinamis (tidak mempunyai rasa otonomi dan kemandirian)

Faktor Sosial
(riwayat keluarga depresi, ketergantungan alcohol)

ANOREKSIA NERVOSA

 Faktor Biologis (hiperkortisolemia, amenore, penekanan fungsi tiroid )

Faktor Sosial
(riwayat keluarga depresi, ketergantungan alcohol)

Gangguan makan dengan menolak  mempertahankan berat badan normal

Dengan membatasi diri

Dengan suka makan tapi melakukan purgasi

Membatasi makan

Memaksa diri menjalankan berbagai latihan

Ditandai dengan membatasi asupan makan dan diselingi pesta makan

Purgasi dilakukan dengan cara

Muntah yang diinduksi

Memakai ipekak, laksatif, diuretik, enama

Memakai obat pengurang nafsu makan berlebihan

Output berlebih

Intake kurang

KELAPARAN

Asupan cairan & elektrolit menurun

Resiko Syok Hipovolemik

Mk : Resiko Ketidakseim-
bangan elektrolit

Malnutrisi Berat

BB turun

Mk : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

Perubahan hormon pertumbuhan

Berkurangnya sekresi hormon kelamin

Terlambat Menarke

Retardasi
pertumbuhan

Tetap merasa takut gemuk

Mk : Harga Diri Rendah Situasional

Kelemahan fisik umum

Mk : Keletihan

Disfungsi jantung

Abnormalitas Struktur Otak

Pembentukan sumsung tulang tidak sempurna

Imaturasi Sekresi LH


Amenore

Tetap tidak makan

Resiko Fraktur patologis

Reduksi Masa Tulang

Osteoporosis dini

Penurunan kandungan asam lemak esensial

Sintesis prostaglandin menurun

Penyusun dan pelindung membran mukosa berkurang

Resiko Trauma

Tanda seks sekunder tidak muncul/tumbuh

Gangguan Ginjal

Sering depresi & cemas

insomnia

RR
meningkat

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan perawat pada kasus anoreksia meliputi :
  1. Identitas Pasien
Umur              : Tidak ada perbandingan umur dari usia anak sampai dewasa, jadi relative sama. Hanya saja anoreksia nervosa lebih banyak diderita oleh usia-usia remaja.
Jenis kelamin : Perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan yang menderita anoreksia nervosa lebih banyak perempuan.
  1. Keluhan Utama
Merupakan keluhan paling utama yang dirasakan oleh klien saat pengkajian. Biasanya keluhan utama yang dirasakan jarang diungkapkan klien. Klien biasanya mengungkapkan bahwa dia tidak menderita anoreksia nervosa dengan tanda binge (makan berlebihan) dan purge (makan sedikit).
  1. Riwayat Penyakit Sekarang
Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode PQRST. Paliatif atau provokatif (P) yaitu focus utama keluhan klien. Quality atau kuantitas (Q) yaitu bagaimana binge dan purge dirasakan oleh klien. Regional (R) yaitu kemana binge dan purge menjalar. Safety (S) yaitu posisi bagaimana yang dapat membuat pasien nyaman serta dapat mengurangi binge dan purge. Terakhir adalah time (T) yaitu sejak kapan klien merasakan binge dan purge tersebut.
  1. Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya, kapan terjadinya, dan penanganan yang dilakukan sendiri sebelum dirawat. Klien anoreksia nervosa sering berfokus pada cara menyenangkan orang lain dan menghindari konflik. Klien sering memiliki perilaku impulsive seperti penyalahgunaan zat dan pencurian, ansietas, depresi, dan gangguan kepribadian.
  1. Riwayat Penyakit Keluarga
Mengkaji ada atau tidaknya keluarga klien yang pernah menderita anoreksia nervosa.
  1. Riwayat Psikososial
Perawat mengkaji tentang perasaan, status emosional, dan perilaku klien. Misalnya, klien sering merasa cemas dan  mengisolasi diri karena penyakit yang diderita.
  1. Pemeriksaan Fisik
    1. B1 (Breath) : RR meningkat.
    2. B2 (Blood) : perasaan dingin meskipun pada ruangan hangat, TD rendah, takikardia, bradikardia, disritmia.
    3. B3 (Brain) : penampilan umum klien tidak luar biasa, klien tampak terbuka dan mau berbicara.
    4. B4 (Bladder) : kaji keseimbangan cairan dan elektrolit, turgor kulit tidak elastic dan membrane mukosa kering.
    5. B5 (Bowel) : catat kehilangan berat badan 15% di bawah normal. Klien dapat kelebihan atau kekurangan berat badan, tetapi biasanya mendekati berat badan yang diharapkan sesuai dengan usia dan ukuran tubuhnya. Kaji keadaan gigi, mulut, dan abdomen.
    6. B6 (Bone) : -
  2. Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium :
Na     : 135 - 145 mEq/L
Ca     : 4 – 5 mEq/L
K       : 3,5 – 5,3 mEq/L

  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake nutrisi, ketidakinginan untuk makan.
    2. Keletihan berhubungan dengan malnutrisi.
    3. Harga Diri Rendah Situasional berhubungan dengan merasa bentuk tubuh tidak ideal.
    4. Resiko ketidak seimbangan elektrolit berhubungan dengan ketidakseimbangan intake cairan secara oral dengan pengeluaran cairan.

  1. Intervensi
    1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake nutrisi, ketidakinginan untuk makan.
Tujuan            : Nutrisi seimbang sesuai kebutuhan tubuh.
Kriteria hasil  :
  1. Pemenuhan nutrisi terpenuhi dengan adekuat.
  2. Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu.
Intervensi
Rasional
  1. Buat tujuan berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian.






  1. Kolaborasi pemberian terapi nutrisi dalam program pengobatan rumah sakit sesuai indikasi.



  1. Berikan makan sedikit dan makanan kecil tambahan, yang tepat.
    1. Buat pilihan menu yang ada dan izinkan pasien untuk mengontrol pilihan sebanyak mungkin.


  1. Siapkan untuk / bantu ECT bila diindikasikan. Bantu pasien memahami ini bukan sebagai hukuman.


  1. Pertahankan jadwal penimbangan berat badan teratur, seperti Minggu, Rabu, dan Jumat sebelum makan pagi pada pakaian yang sama, dan gambarkan hasilnya.
  2. Awasi program latihan dan susun batasan aktivitas fisik. Tulis aktivitas/tingkat kerja (jalan-jalan dan sebagainya).

  1. Malnutrisi adalah kondisi gangguan minat yang menyebabkan depresi, agitasi an mempengaruhi fungsi kognitif / pengambilan keputusan. Perbaikan status nutrisi meningkatkan kemampuan berpikir dan kerja psikologis.
  2. Pengobatan masalah dasar tidak terjadi tanpa perbaikan status nutrisi. Perawatan di rumah sakit memberikan kontrol lingkungan dimana masukan makanan, obat, dan aktivitas dapat dipantau.
  3. Dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat setelah periode puasa.
  4. Pasien yang meningkat kepercayaan dirinya dan merasa mengontrol lingkungan lebih suka menyediakan makanan untuk makan.
  5. Pada kasus jarang dan sulit dimana malnutrisi berat/mengancam hidup, seri ECT jangka pendek dapat memampukan pasien untuk mulai makan dan memungkinkan dapat mengikuti psikoterapi.
  6. Memberikan catatan lanjut penurunan dan/atau peningkatan berat badan yang akurat. Juga menurunkan obsesi tentang peningkatan dan/atau penurunan.

  1. Latihan sedang membantu dalam mempertahankan tonus otot/berat badan dan melawan depresi. Namun pasien dapat latihan terlalu berlebihan untuk membakar kalori.

  1. Keletihan berhubungan dengan malnutrisi.
Tujuan : Klien akan beradaptasi dengan keletihan
Kriteria Hasil :
  1. Klien dapat menggunakan teknik penghematan energi.
  2. Klien dapat mengadaptasi gaya hidup sesuai dengan tingkat energi yang dimiliki.
  3. Klien melaporkan bahwa energi terpulihkan setelah istirahat.
  4. Klien dapat mengindentifikasi faktor psikologis dan fisiologis yang dapat menyebabkan keletihan.
Intervensi
Rasional
  1. Ajarkan pasien pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mencegah keletihan.
  1. Pengetahun pasien tentang teknik penghematan energi secara jelas dapat meningkatkan kemungkinan untuk diterapkan.
  1. Lakukan kolaborasi perujukan ke perawatan psikiatrik jika sangat mengganggu hubungan klien dengan orang lain.
  1. Penanganan dari segala aspek termasuk psikologinya akan meningkatkan keefektifan terapi.
  1. Pantau bukti adanya keletihan fisik dan emosi yang berlebihan pada pasien.
  1. Pemantaun secara berkala membuat penatalaksanaan dapat segera dilakukan jika terjadi masalah.
  1. Dukung pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan sehubungan dengan keletihan yang terjadi.
  1. Perasaan yang berhasil diungkapkan dapat mengurangi beban masalah yang dialami.

  1. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan merasa bentuk tubuh tidak ideal
Tujuan : Pasien merasa percaya diri dengan kondisi tubuhnya.
Kriteria Hasil :
  1. Klien dapat membuat gambaran diri lebih nyata.
  2. Klien dapat mengakui diri sebagai individu.
  3. Klien dapat menerima tanggung jawab untuk tindakan sendiri.
Intervensi
Rasional
  1. Buat hubungan terapeutik perawat dengan pasien.


  1. Tingkatkan konsep diri tanpa penilaian moral.

  1. Biarkan pasien menggambarkan dirinya sendiri.


  1. Bantu pasien untuk melakukan kontrol pada area selain dari makan/penurunan berat badan, missal manajemen aktivitas harian, pilihan kerja/kesenangan.


  1. Libatkan dalam terapi kelompok.


  1. Waspadai ide bunuh diri/perilaku.




1. Dalam hubungan membantu, pasien dapat mulai untuk mempercayai dan mencoba pemikiran dan perilaku baru.
  1. Pasien melihat diri sebagai lemah-harapan, meskipun bagian pribadi merasa kuat dan dapat mengontrol.
  2. Memberikan kesempatan mendiskusikan persepsi pasien tentang diri/gambaran diri dan kenyamanan situasi individu.
  3. Perasaan tak efektif pribadi, harga diri rendah, dan perfeksionisme sering menjadi bagian dari masalah. Pasien merasa tak berdaya untuk mengubah dan memerlukan bantuan untuk metode pemecahan masalah kontrol situasi hidup.
  4. Memberikan kesempatan untuk bicara tentang perasaan dan mencoba perilaku baru.
  5. Cemas/panic terus-menerus tentang peningkatan berat badan, depresi, perasaan tak berdaya dapat menimbulkan usaha bunuh diri, khususnya bila pasien impulsive.

  1. Resiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan ketidakseimbangan intake cairan secara oral dengan pengeluaran cairan.
Tujuan          :  Elektrolit tubuh seimbang.
Kriteria hasil :
  1. Mempertahankan/menunjukkan perubahan keseimbangan cairan, dibuktikan oleh haluaran urine adekuat, tanda vital stabil, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik.
Intervensi
Rasional
  1. Identifikasi rencana untuk meningkatkan/mempertahankan keseimbangan cairan optimal, missal jadwal masukan cairan.
  2. Kolaborasi penambahan kalium, oral atau IV sesuai indikasi.
  3. Awasi tanda vital, pengisian kapiler, status membrane mukosa, turgor kulit.


  1. Awasi jumlah dan tipe masukan cairan. Ukur haluaran urine dengan akurat.



  1. Melibatkan pasien dalam rencana untuk memperbaiki ketidakseimbangan, memperbaiki kesempatan untuk berhasil.
  2. Dapat diperlukan untuk mencegah disritmia jantung.
  3. Indikator keadekuatan volume sirkulasi. Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan resiko jatuh/cedera segera setelah perubahan posisi.
  4. Pasien tidak mengkonsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan untuk masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan elektrolit.


  1. Evaluasi
Evaluasi keperawatan yang diharapkan ada pada pasien dengan anoreksia nervosa setelah dilakukan asuhan keperawatan klinik di ruang rawat inap, meliputih hal-hal sebagai berikut :
  1. Pernyataan motivasi kuat untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya dan pasien dapat mempertahankan status nutrisi yang adekuat.
  2. Pasien teradaptasi untuk melakukan aktivitas sehari-hari meski sering mengalami keletihan.
  3. Gambaran diri meningkat dan merasa bentuk tu buh ideal.
  4. Sampai akhir asuhan keperawatan tidak mengakami ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.



BAB 4
KASUS DAN PEMBAHASAN

  1. Kasus
Nn. G berusia 17 tahun datang ke rumah sakit pada tanggal 27 maret 2012 dengan keluhan diare lebih dari 2 hari dan didiagnosa mengalami anorexia nervosa. Berat badannya 30 kg dan tinggi badan 160 cm, badannya lemah, pucat, tampak kurus, dan tetap menolak makan. Pasien sering mengkonsumsi obat diet. Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapat kadar albumin dalam darah 2,7 mg/dl. Heart rate 112x/menit, pulsasi lemah. Suhu tubuh 36 derajat celcius. Kulit kering bersisik.

  1. Pengkajian
    1. Identitas Pasien
Nona G, umur 17 tahun, tinggal di kota X, pendidikan SMA.
  1. Keluhan Utama
Pasien mengeluh diare lebih dari 2 hari.
  1. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Rumah Sakit pada tanggal 27 maret 2012 dengan keluhan diare lebih dari 2 hari tersebut.
  1. Riwayat Penyakit Dahulu

  2. Riwayat Penyakit Keluarga

  3. Riwayat Psikososial
Klien mempunyai pandangan bahwa dirinya berbadan gemuk dan sengaja mengkonsumsi obat diet berlebih untuk mempertahankan berat badannya.

        2.  Pemeriksaan Fisik
  1. B1 (Breath) : tidak ada masalah.
  2. B2 (Blood) : HR= 58x/menit, pulsasi nadi lemah.
  3. B3 (Brain) : tidak ada masalah.
  4. B4 (Bladder) : kaji keseimbangan cairan dan elektrolit, turgor kulit tidak elastic dan membrane mukosa kering.
  5. B5 (Bowel) : A= berat badan 30 kg dan tinggi badan 160 cm. BMI sebesar 11,72 (underweight). B = kadar albumin 2,7mg/dl. C = tampak kurus, lemak subkutan tidak ada, kulit bersisik. D = porsi makan tidak habis.
  6. B6 (Bone) : tubuh lemah, kulit kering bersisik.
       

  1. Analisa Data


MASALAH KEPERAWATAN
DS :
Nona G menolak untuk minum
DO :
Kulit kering dan bersisik
Tampak pucat dan lemah
BB turun tiba-tiba
Menolak untuk minum

Intake cairantidak adekuat

Ouput cairan berlebih

Ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan
Ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan
DS :
Nona G menolak makan
DO :

BB 30 Kg dengan TB 160 cm sehingga tampak kurus
Menolak makan

tidak adekuatnya intake nutrisi


banyak aktifitas

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
DS :
Nona G tidak tertarik untuk beinteraksi dengan lingkungan
DO :
Nona G nampak lemah atau tidak bergairah
Nona G tidak mampu mempertahankan rutinitas
Intake Nutrisi Kurang



Tidak adekuatnya energi yang tersedia untuk aktifitas

Tidak mampu melakukan rutinitas



DS :
Nona G mengalami gangguan citra tubuh yang menganggap dirinya gemuk padahal sangat kurus
Nona G terus berharap menjadi kurus padahal sudah sangat kurus
DO :
Nona G tidak mampu lagi berinteraksi dengan lingkungan seperti seperti sebelumnya
Nona G tetap minum pel diet padahal sudah kurus
Merasa tubuh gemuk meski sudah sangat kurus

Tetap menolak makan

Energi tidak adekuat

Tidak mampu berinteraksi dengan yang lain


Harga Diri Rendah Situasional


Harga Diri Rendah Situasional



  1. Diagnosa Keperawatan
  2. Ketidakseimbangan caiaran dan elektrolit berhubungan dengan ketidakseimbangan intake cairan secara oral dengan pengeluaran cairan
  3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake nutrisi, ketidakinginan untuk makan.
  4. Keletihan berhubungan dengan malnutrisi.
  5. Harga Diri Rendah Situasional berhubungan dengan merasa bentuk tubuh tidak ideal (gemuk).

  1. Intervensi
    1. Ketidakseimbangan caiarn dan elektrolit berhubungan dengan ketidakseimbangan intake cairan secara oral dengan pengeluaran cairan.
Tujuan          :  Elektrolit tubuh seimbang.
Kriteria hasil :
Mempertahankan/menunjukkan perubahan keseimbangan cairan, dibuktikan oleh haluaran urine adekuat, tanda vital stabil, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik.
Intervensi
Rasional
  1. Identifikasi rencana untuk meningkatkan/mempertahankan keseimbangan cairan optimal, missal jadwal masukan cairan.
  2. Kolaborasi penambahan kalium, oral atau IV sesuai indikasi.
  3. Awasi tanda vital, pengisian kapiler, status membrane mukosa, turgor kulit.


  1. Awasi jumlah dan tipe masukan cairan. Ukur haluaran urine dengan akurat.



  1. Melibatkan pasien dalam rencana untuk memperbaiki ketidakseimbangan, memperbaiki kesempatan untuk berhasil.
  2. Dapat diperlukan untuk mencegah disritmia jantung.
  3. Indikator keadekuatan volume sirkulasi. Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan resiko jatuh/cedera segera setelah perubahan posisi.
  4. Pasien tidak mengkonsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan untuk masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan elektrolit.
  1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake nutrisi, ketidakinginan untuk makan.
Tujuan            : Nutrisi seimbang sesuai kebutuhan tubuh.
Kriteria hasil  :
  1. Pemenuhan nutrisi terpenuhi dengan adekuat.
  2. Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu.
Intervensi
Rasional
  1. Buat tujuan berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian.






  1. Kolaborasi pemberian terapi nutrisi dalam program pengobatan rumah sakit sesuai indikasi.



  1. Berikan makan sedikit dan makanan kecil tambahan, yang tepat.
  2. Buat pilihan menu yang ada dan izinkan pasien untuk mengontrol pilihan sebanyak mungkin.


  1. Siapkan untuk / bantu ECT bila diindikasikan. Bantu pasien memahami ini bukan sebagai hukuman.


  1. Pertahankan jadwal penimbangan berat badan teratur, seperti Minggu, Rabu, dan Jumat sebelum makan pagi pada pakaian yang sama, dan gambarkan hasilnya.

  1. Awasi program latihan dan susun batasan aktivitas fisik. Tulis aktivitas/tingkat kerja (jalan-jalan dan sebagainya).

  1. Malnutrisi adalah kondisi gangguan minat yang menyebabkan depresi, agitasi an mempengaruhi fungsi kognitif / pengambilan keputusan. Perbaikan status nutrisi meningkatkan kemampuan berpikir dan kerja psikologis.
  2. Pengobatan masalah dasar tidak terjadi tanpa perbaikan status nutrisi. Perawatan di rumah sakit memberikan kontrol lingkungan dimana masukan makanan, obat, dan aktivitas dapat dipantau.
  3. Dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat setelah periode puasa.
  4. Pasien yang meningkat kepercayaan dirinya dan merasa mengontrol lingkungan lebih suka menyediakan makanan untuk makan.
  5. Pada kasus jarang dan sulit dimana malnutrisi berat/mengancam hidup, seri ECT jangka pendek dapat memampukan pasien untuk mulai makan dan memungkinkan dapat mengikuti psikoterapi.
  6. Memberikan catatan lanjut penurunan dan/atau peningkatan berat badan yang akurat. Juga menurunkan obsesi tentang peningkatan dan/atau penurunan.

  1. Latihan sedang membantu dalam mempertahankan tonus otot/berat badan dan melawan depresi. Namun pasien dapat latihan terlalu berlebihan untuk membakar kalori.

  1. Keletihan berhubungan dengan malnutrisi.
Tujuan : Klien akan beradaptasi dengan keletihan
Kriteria Hasil :
  1. Klien dapat menggunakan teknik penghematan energi.
  2. Klien dapat mengadaptasi gaya hidup sesuai dengan tingkat energi yang dimiliki.
  3. Klien melaporkan bahwa energi terpulihkan setelah istirahat.
  4. Klien dapat mengindentifikasi faktor psikologis dan fisiologis yang dapat menyebabkan keletihan.
Intervensi
Rasional
  1. Ajarkan pasien pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mencegah keletihan.
  1. Pengetahun pasien tentang teknik penghematan energi secara jelas dapat meningkatkan kemungkinan untuk diterapkan.
  1. Lakukan kolaborasi perujukan ke perawatan psikiatrik jika sangat mengganggu hubungan klien dengan orang lain.
  1. Penanganan dari segala aspek termasuk psikologinya akan meningkatkan keefektifan terapi.
  1. Pantau bukti adanya keletihan fisik dan emosi yang berlebihan pada pasien.
  1. Pemantaun secara berkala membuat penatalaksanaan dapat segera dilakukan jika terjadi masalah.
  1. Dukung pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan sehubungan dengan keletihan yang terjadi.
  1. Perasaan yang berhasil diungkapkan dapat mengurangi beban masalah yang dialami.

  1. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan merasa bentuk tubuh tidak ideal
Tujuan : Pasien merasa percaya diri dengan kondisi tubuhnya.
Kriteria Hasil :
  1. Klien dapat membuat gambaran diri lebih nyata.
  2. Klien dapat mengakui diri sebagai individu.
  3. Klien dapat menerima tanggung jawab untuk tindakan sendiri.
Intervensi
Rasional
  1. Buat hubungan terapeutik perawat dengan pasien.


  1. Tingkatkan konsep diri tanpa penilaian moral.

  1. Biarkan pasien menggambarkan dirinya sendiri.


  1. Bantu pasien untuk melakukan kontrol pada area selain dari makan/penurunan berat badan, missal manajemen aktivitas harian, pilihan kerja/kesenangan.



  1. Libatkan dalam terapi kelompok.


  1. Waspadai ide bunuh diri/perilaku.




  1. Dalam hubungan membantu, pasien dapat mulai untuk mempercayai dan mencoba pemikiran dan perilaku baru.
  2. Pasien melihat diri sebagai lemah-harapan, meskipun bagian pribadi merasa kuat dan dapat mengontrol.
  3. Memberikan kesempatan mendiskusikan persepsi pasien tentang diri/gambaran diri dan kenyamanan situasi individu.
  4. Perasaan tak efektif pribadi, harga diri rendah, dan perfeksionisme sering menjadi bagian dari masalah. Pasien merasa tak berdaya untuk mengubah dan memerlukan bantuan untuk metode pemecahan masalah kontrol situasi hidup.
  5. Memberikan kesempatan untuk bicara tentang perasaan dan mencoba perilaku baru.
  6. Cemas/panic terus-menerus tentang peningkatan berat badan, depresi, perasaan tak berdaya dapat menimbulkan usaha bunuh diri, khususnya bila pasien impulsive.

  1. Evaluasi
Evaluasi keperawatan yang diharapkan ada pada Nona G setelah dilakukan asuhan keperawatan, meliputi hal-hal sebagai berikut :
  1. Pernyataan motivasi kuat untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit dan pasien dapat mempertahankan status keseimbangan volume dan cairab yang adekuat.
  2. Pernyataan motivasi kuat untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya dan pasien dapat mempertahankan status nutrisi yang adekuat.
  3. Pasien teradaptasi untuk melakukan aktivitas sehari-hari meski sering mengalami keletihan.
  4. Gambaran diri meningkat dan merasa bentuk tu buh ideal.


BAB 5
KESIMPULAN

            Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang mengancam jiwa yang ditandai dengan penolakan klien untuk mempertahankan berat badan normal ynag minimal, gangguan persepsi yang bermakna tentang bentuk atau ukuran tubuh atau menolak untuk mengakui bahwa ada masalah.
Etiologi anorexia nervosa tidak jelas, namun ada beberapa faktor predisposisi yakni faktor biologi, faktor sosial, faktor psikologi, dan faktor psikodinamik. Perpaduan berbagai faktor predisposisi ini menyebabka anoreksia nervosa dianggap lebih tepat disebut suatu sindrom daripada penyakit tertentu.
Gangguan makan seperti anorexia nervosa sangan sering terjadi pada masa remaja. Hal ini disebabkan oleh karena masa remaja sebagai peralihan masa anak ke masa dewasa penuh dengan konflik baik dalam diri maupun dengan lingkungan keluarga dan masyarakat di sekitarnya sebagai jenjang menuju kemandirian dan eksistensi diri.
            Oleh karena itu apabila menjumpai remaja terutama remaja putri yang memulai melakukan diet, perlu diwaspadai akan timbulnya anoreksia nervosa.  Penanganan anoreksia nervosa diberikan dengan rawat jalan kecuali bila muncul masalah medis yang berat. Diperlukan pendekatan antardisiplin agar diperoleh hasil yang optimal. Penanganan pasien rawat jalan itu mencakup pemantauan medis, rencana diet untuk memulihkan status nutrisinya, dan psikoterapi. Pendekatan terapeutik meliputi terapi individu, keluarga, dan kelompok. Keterlibatan keluarga sangat diperlukan. Penggunaan pengobatan psikotropik harus dipertimbangkan hanya setelah penambahan berat badan tercapai.


DAFTAR PUSTAKA

Cecily Lynn, Betz. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri, Ed.5. Jakarta:EGC.
Doenges, Marilynn E., Mary Frances, Alice C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan : definisi dan klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.
Muttaqin, Arif, Kumala Sari. 2011. Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salemba Medika.
Pieter, Herri Zan, Janiwarti Bethsaida, Saragih, Marti. 2011. Pengantar Psikopatologi Untuk Keperawatan. Jakarta:Kencana
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia: Dari Sel Ke System. Jakarta :EGC
Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan Anak: Gangguan Sistem Gastrointestinal dan Hepatobilier. Jakarta:Salemba Medika
Soetjianingsih. 2010. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta : Sagung Seto.
Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta:EGC.
Vikas Duvvuri, M.D., Ph.D. & Walter H. Kaye, M.D. 2009. Anorexia Nervosa. Jurnal Kedokteran Vol. VII, No. 4. Diakses pada tanggal 05 April 2014 dari Website : www.googlescholar.com.
Wong, Dona, L. 2008. Masalah Kesehatan Anak Usia Sekolah Dan Remaja. Jakarta : EGC.






1 comments:

  1. Blog yang sangat bermanfaat, Apa Itu Herpes Simplex

    Herpes simplex sendiri terbagi menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah Herpes Simplex Virus 1 atau HSV-1. Virus ini biasanya menyerang mulut atau mulai dari pinggang ke atas. HSV-1 merupakan virus yang umum terjadi. Termasuk dalam HSV-1 ini adalah sariawan atau ruam lepuh pada bibir maupun mulut. HSV-1 bisa diobati walau tidak bisa sembuh total karena bisa kambuh lagi.

    Sementara herpes tipe 2 dikenal sebagai HSV-2, yang menyerang bagian pinggang hingga tubuh bagian bawah. HSV-2 inilah yang kerap menyerang bagian kelamin dan dikenal sebagai Herpes Genitalis. Penularannya lewat hubungan intim yang tidak aman. Setelah mengetahui herpes simplex, saatnya mengetahui herpes zoster.

    Apa Itu Herpes Zoster

    Herpes zoster disebut juga penyakit infeksi kulit dan merupakan lanjutan chicken pox atau cacar air. Virus yang menyerang sama seperti virus pada cacar air. Perbedannya adalah pada herpes zoster terdapat ciri yaitu cacar gelembung dengan ukuran yang lebih besar serta berkelompok di bagian tubuh tertentu. Biasanya, cacar gelembung akan ditemukan di dahi, punggung hingga dada.

    Penularan herpes zoster ini adalah melalui batuk, bersin ataupun pakaian yang tercemar. Dapat juga melalui sentuhan ke gelembuh atau lepuh yang telah pecah. Di samping mengetahui herpes, penting juga untuk memahami seperti apa gejala yang timbul dari penyakit ini.

    Andrologi | bagaimana mengatasi kulup panjang

    Apakah sunat sakit | Metode sunat modesn terkini

    hubungi Dokter | Chatting gratis

    ReplyDelete

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.